CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Muntahkan Saja Suamiku!


__ADS_3

Viona mulai memasak semua bahan makanan yang Saga inginkan tentu saja semuanya dengan bantuan dari BahiTube.


Gadis manis itu saat ini sedang memasak sambil menonton tutorial acara masak oseng kangkung di salah satu chanel BahiTube.


Dengan sangat lincah tangannya bergerak cepat memotong semua bawang yang ada di atas talenan dengan kedua matanya yang terus fokus ke arah layar ponselnya.


Semua pelayan yang ada di dapur itu merasa ngeri saat melihat cara memasaknya Viona yang terlihat lebih mirip seperti uji nyali ketimbang acara memasak.


Tek! Tek! Tek! Tek!


Suara pisau yang saat ini sedang memotong timun yang sebelumnya sudah dikupas dengan kecepatan tinggi oleh Viona.


Kali ini kedua netra Viona memindai timun itu untuk mengira-ngira potongan yang sesuai dengan ketebalan yang diminta oleh Sagara.


Semua potongan timun yang telah siap untuk dinikmati mulai dipindahkan ke atas sebuah mangkuk cantik.


Kini Viona mulai meracik bumbu untuk menggoreng tempe yang lagi-lagi kedua matanya fokus melihat ke arah layar ponselnya yang sedang menayangkan video cara menggoreng tempe.


Di sela-sela menggoreng tempe, Viona mengecek oseng kangkung buatannya dan dirasa sudah pas tingkat kematangannya, Viona segera mengangkat oseng kangkung itu dan langsung menyajikannya di sebuah mangkuk yang sebelumnya sudah dia siapkan.


Saat ini Viona fokus kembali ke gorengan tempe yang belum matang. Sambil menunggu gorengan tempe itu matang sempurna, Viona mulai menonton kembali acara memasak di BahiTube tutorial membuat sambal terasi.


Dengan cekatan semua cabe rawit Viona pisahkan dari batangnya dan semua bawang dia bersihkan dari kulit bagian luar.


Dalam waktu singkat semua bahan untuk sambal terasi siap untuk digoreng terlebih dahulu sebelum diulek.


Dari tempat duduknya Sagara, pemuda itu takjub dengan keterampilan Viona yang mirip seperti koki bintang lima.


"Gadis bodoh itu terampil banget masaknya," puji Saga tanpa sadar.


"Kalau dia dilihat saat sedang serius, gadis jelek itu terlihat sangat mempesona," gumam Saga sembari tersenyum kecil.


"Eh, aku sih ngomong apa," ucap Saga sambil memukul mulutnya sendiri dengan tangan kanannya.


Pak Jang yang sudah selesai dengan tugas yang diberikan oleh Saga beberapa saat yang lalu mulai berjalan kembali ke ruang dapur untuk memberikan sesuatu kepada Tuan Mudanya.


"Tuan, ini ada titipan obat dari orangnya Tuan Sofyan dan Nyonya Nadira, katanya obat ini untuk Nona Viona," ulur Pak Jang memperlihatkan sebuah wadah obat yang biasa Viona konsumsi.


Sagara menerima wadah obat itu dan mulai menelitinya.


"Ini kan wadah obat yang kemarin tidak jadi diminum oleh Vio," gumam Saga.

__ADS_1


Pandangan matanya kini mulai menelusuri zat-zat yang terkandung di dalam obat itu. Kening Saga mengernyit saat melihat ada beberapa zat yang menurutnya berbahaya.


"Pak Jang, tolong cek kandungan obat ini di laboratorium, dan segera laporkan hasilnya padaku. Oh iya, minta rincian yang selengkap-lengkapnya dari petugas lab tentang obat ini!"


"Baik, Tuan," angguk Pak Jang patuh seraya mengambil kembali wadah obat yang tadi dia berikan kepada Tuan Mudanya.


Saga mulai merenung, 'Kenapa gadis sesehat itu diwajibkan mengkonsumsi obat-obatan seperti ini?' batin Saga merasa aneh.


Lamunan Saga buyar saat suara Viona yang melengking datang menyapanya.


"Suamiku, yuhuuuuu! Vio udah selesai masaknya nih," pamer gadis itu sambil membawa nampan berisi masakan buatannya.


Aroma yang sangat lezat mulai terhirup oleh indra penciuman Saga dan orang-orang di sekitarnya.


"Baunya sih enak, tapi entah rasanya kek gimana," ucap Saga mencoba untuk membuat Viona drop dengan hasil masakannya.


"Woh, jangan remehkan semua hal yang dibuat oleh kedua tangan ajaib Vio ya! Semua hal yang disentuh oleh tangan Vio pasti hasilnya cetar membahana dan sangat sensasional,"


"Sensasional belum tentu enak," timpal Saga.


"Dijamin enak, Suamiku. Kalau Suamiku mau bukti yang nyata, nih lihat wajah Vio yang cantik tralala bak bidadari baru turun dari khayangan, kecantikan yang haqiqi ini diciptakan oleh tangan ajaibnya Vio lho," ucap Viona bangga memamerkan riasan menor dan acak adutnya.


Saga hanya menjep dan hatinya semakin bertambah ragu dengan rasa semua masakan yang dimasak oleh gadis itu.


"Ayo Suamiku ... cepat dicobain hasil masakannya Vio!" ucap Viona antusias yang saat ini sedang mengambilkan nasi untuk Saga.


Saga hanya bisa meneguk ludahnya karena dia takut keracunan oleh masakan gadis itu.


"Ekhem, sebelum kita icip-icip masakan kamu, lebih baik kita cek dulu panjang dan ketebalan timun yang aku pesan ya. Kalau tidak sesuai maka aku tidak akan memakan hasil masakanmu itu," putus Saga yang saat ini sedang mencari-cari alasan untuk menghindari semua masakan Viona dengan berbagai cara.


"Silakan dicek aja, Suamiku! Vio jamin timunnya sesuai dengan yang dipesan oleh Suamiku. Panjang lima centi dan ketebalan satu setengah centi."


"Pak Jang tolong ambilkan penggaris!" pinta Saga kepada kepala pelayan di rumah ini.


"Baik, Tuan," angguk Pak Jang yang langsung melesat pergi mengambil penggaris agar acara sarapan pagi bisa cepat-cepat dimulai.


Tidak lama kemudian, Pak Jang sudah kembali ke tempat Saga dan menyerahkan penggaris yang dia dapatkan.


"Terimakasih, Pak,"


"Sama-sama, Tuan,"

__ADS_1


Saga mulai mengambil salah satu potongan timun dan Viona sudah mendekat ke samping Sagara untuk melihat hasil ukuran pemuda itu dengan penggaris di tangannya.


"Kita mulai hitung panjanganya dulu ya, Vio," ucap Saga.


"Oke, Suamiku," Viona menyetujui.


'Aku mohon tolong jangan pas panjangnya!' harap Sagara yang semakin mantap tidak ingin makan masakan Viona.


"Yeay!" sorak Viona senang saat panjang dari timun itu pas sekali, tidak kurang dan tidak lebih.


"Jangan senang dulu! Kita belum ngukur ketebalannya," ucap Saga yang saat ini semakin gencar berdo'a dalam hati.


Penggaris di tangan Saga mulai mengukur ketebalan timun itu dan hasilnya adalah pas sekali.


Tubuh Saga langsung lemah, lunglai, tak berdaya saat melihat angka di penggarisnya.


"Yeay! Pas lagi," sorak Viona girang.


"Eh, jangan senang dulu! Di sebelah sini memang pas, tapi belum tentu di ujung lainnya pas," cetus Saga yang mulai mencari cela agar Viona tidak jadi menang telak.


"Silakan dicek aja, Suamiku!" Viona tidak keberatan sama sekali.


Di ujung satunya, di tengah, satu centi sebelum ujung dicek semuanya oleh Saga tapi hasilnya pas semua.


"Kenapa begitu sempurna sekali hasil potongan gadis bodoh ini, huhu," lirah Saga yang saat ini sudah kalah telak.


"Suamiku, sekarang saatnya kamu icip-icip hasil masakan Vio ya!" ucap Viona yang saat ini mulai menambahkan oseng kangkung, sambel terasi, goreng tempe, dan potongan timun ke piringnya Sagara.


"Silakan dinikmati, Suamiku," ucap Viona meletakkan piring itu di depan Saga.


Gadis manis itu mulai bertopang dagu untuk menantikan reaksi dari Saga yang akan memakan masakan perdananya.


Saga mulai mengambil makanan di piring itu dan memasukkan makanan di sendoknya dengan takut-takut.


Sesuap makanan sudah masuk ke dalam mulut Saga dan setelah beberapa saat mengunyah makanan itu, Saga terisak.


Viona panik saat melihat Sagara terisak.


"Suamiku, kamu tidak apa-apa kan? Kalau makanannya tidak enak jangan dipaksakan untuk makan! Sini muntahin aja makanannya ke tangan Vio!" perintah gadis itu yang sudah siap sedia menangkupkan kedua tangannya untuk menampung muntahan Saga.


***

__ADS_1


Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.


__ADS_2