CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Detik-Detik Viola Akan Dinodai Part 2


__ADS_3

"Yoi. Kan kalau di hutan aman, nggak ada CCTV." sahut penjahat yang duduk di sebelah kursi kemudi.


"Oh, gitu ya. Apa Bos besar yang memerintahkan hal itu?"


"Ssstt, jangan banyak tanya kamu!" tegur penjahat yang sedang mengemudi. "Kalau kalian sampai keceplosan bisa tamat riwayat kita semua."


Penjahat yang tadi bertanya segera mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak bertanya hal-hal yang macam-macam lagi.


Andi yang memang duduk di sebelah Viola, saat ini tengah salah fokus dengan salah satu bagian tubuh gadis itu yang sedang terbuka karena kemeja yang dipakai oleh Viola beberapa kancingnya lepas dan membuat nampak kulit mulusnya.


"Bro, tubuh wanita ini boleh juga nih, slurp," ucap Andi yang sedikit meneteskan air liurnya. "Boleh nggak kalau sebelum dilepaskan, kita gilir dulu? Gue pengen rasain nih tubuh indah wanita ini." ucap Andi mengutarakan pendapatnya.


Viola yang mendengar penuturan Andi yang merupakan salah satu orang yang telah menculiknya segera bergidik ngeri dan mulai khawatir.


'Si*lan nih penjahat. Awas aja ya kalau aku sampai dinodai oleh mereka. Setelah aku bebas nanti, aku kan menghabisi mereka semua jika mereka berani mencelakaiku.' batin Viola kesal.


Andi yang tidak tahan dengan godaan yang ada di sampingnya mulai meraba-raba tubuh Viola.


"Jauhkan tanganmu!" seru rekan Andi yang sama-sama duduk disebelah Viola.


"Kenapa?" tanya Andi yang kini langsung kesal saat dihentikan oleh rekannya.


"Kita tidak boleh melakukan hal itu." sahutnya.


Sedangkan Viola hanya mengangguk-anggukan kepalanya setuju dengan penuturan dari penjahat yang ada di samping kirinya. Viola hanya bisa menggerakkan tubuhnya karena mulutnya juga sudah ditutup oleh sebuah lakban agar dia tidak bisa berteriak.


"Bukankah tidak ada larangan untuk menikmati tubuh gadis ini? Ayolah kita gilir terlebih dahulu! Mumpung ada kesempatan." bujuk Andi yang saat ini hasratnya sudah mulai berkobar.

__ADS_1


"Memang iya sih nggak ada larangan untuk menikmati tubuh wanita ini." kali ini rekan Andi mulai melirik ke arah kemeja Viola yang sedikit terbuka dan dia pun mulai tergoda.


Beberapa kali penjahat yang ada di samping kiri Viola meneguk air liurnya sendiri.


"Bro, kita berhenti sebentar yuk!" tepuk Andi ke arah rekannya yang saat ini tengah mengemudi. "Lumayan nih ada makanan enak di tengah-tengah kita semua. Daripada mubazir mending kita nikmati dulu sebelum dilepas."


Sang penjahat yang sedang fokus mengendarai mobil hitam ini mulai melirik ke arah kaca spion yang kini dia arahkan ke tubuh Viola. Dia juga meneguk air liurnya karena tergoda dengan tubuh mulus Viola.


"Bukankah nggak ada larangan untuk menikmati tubuh wanita ini?" bujuk Andi yang terus meyakinkan teman-temannya agar setuju dengan usulannya.


Viola saat ini sedang sangat ketakutan saat mendengar percakapan para penjahat itu.


'Jangan mau, jangan mau.' harap Viola dalam hati.


Ckiiitt!


"Bro," panggil penjahat yang duduk di kursi kemudi kepada rekannya yang duduk di kursi sebelahnya.


"Kenapa?"


"Bos kita nggak pernah ngelarang kita buat nodain wanita ini kan?"


"Nggak pernah sih."


"Gimana kalau kita pakai dulu wanita ini bergiliran. Toh masih banyak waktu kan."


Orang yang duduk di sebelah kursi pengemudi mulai melirik ke arah Viola dan mulai memperhatikan wanita itu dengan seksama dan saat fokusnya tertuju ke area dada Viola, dia juga ikut meneguk air liurnya.

__ADS_1


"Oke deh."


"Yes," seru sebagian penjahat yang ada di dalam mobil ini.


"Ayo semuanya kita keluar dari dalam mobil. Kita rundingkan siapa yang akan duluan menikmati dan siapa yang paling terakhiran."


Semua penjahat mulai turun dari dalam mobil dan kini mereka sedang berkerumun. Sedangkan Viola sedang berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.


"Ayo suit," seru salah satu dari penjahat itu.


Beberapa saat kemudian, beberapa penjahat tersenyum senang karena mendapatkan giliran pertama dan kedua, sedangkan dua lainnya harus gigit jari karena mendapatkan giliran paling bontot. Salah satunya Andi, dia yang mengusulkan tapi dia yang malah mendapatkan urutan paling terakhir.


"Arrghhh, kenapa gue yang paling terakhir sih." erang Andi kesal.


"Tergantung amal perbuatan, Bro, hahaha," gelak mereka semua.


"Amal perbuatan gimana? Kita aja orang jahat semua," keluh Andi.


"Berarti itu emang nasib lho."


"Terserahlah. Yang penting sisain gue ya. Jangan kalian babat habis tuh cewek. Awas aja kalau pas giliran gue -dia udah tepar."


"Oke oke," sahut rekan Andi yang lainnya.


"Sana buruan, loe yang pertama bukan." ucap Andi ke rekannya yang tadi duduk di sebelah kiri Viola.


"Iya," ucapnya senang seraya berjalan menuju ke arah mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2