
Viona dan Saga saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah gadis itu. Surat perjanjian kontrak nikah mereka pun sudah ditandatangani oleh Viona dan masing-masing memegang satu lembar surat kontrak.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Saga yang saat ini sedang sibuk mempelajari laporan yang Sekretaris Ken kirimkan beberapa puluh menit yang lalu ke emailnya.
"Jam dua sore, Suamiku." sahut Viona sambil memilin salah satu ikatan rambutnya yang saat ini diikat menjadi dua.
"Nanti aku sempetin jemput kamu di sekolah. Kamu jangan ke mana-mana okay!" pesan Saga.
"Okay, Suamiku," angguk Viona patuh. Sedetik kemudian Viona teringat sesuatu, "Eh, tapi Vio ada latihan beladiri sore ini," ucap gadis itu.
"Beladiri?"
"Iya, beladiri, Suamiku. Vio nggak bisa pulang cepet. Paling cepet sekitar jam lima sorean."
"Ya udah, nggak apa-apa. Nanti aku tetep jemput kamu jam lima sorean."
"Makasih, Suamiku."
"Oh iya, kalau seumpama ada orang-orang utusan dari keluargamu dan memaksamu untuk minum suatu obat, kamu jangan mau ya! Atau nggak, bilang aja kamu udah minum sesuai jadwal. Entah kapan pun itu, kamu harus bicara seperti yang aku perintahkan ya!" pinta Saga.
"Baik, Suamiku,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Saga kembali fokus pada tablet di hadapannya. Sedang Viona kembali fokus ke Audiobook di ponselnya.
Saga yang sedikit pening melihat semua angka di tabletnya memilih untuk beristirahat sejenak.
Tubuh tegapnya mulai dia senderkan ke punggung kursi di mobil ini. Iseng-iseng Saga melirik ke arah Viona yang saat ini sedang mengenakan headset dan mendengarkan sesuatu yang aneh karena ada suara ******* wanita.
Diintiplah layar ponsel Viona oleh Saga yang saat ini sedang menampilkan tulisan-tulisan cerita di MesomTube yang berjudul tiiiiiiiit tiiiiiiit tiiiiiit.
Saga melihat judul cerita itu sangat islami sekali, tapi kenapa beberapa saat yang lalu sayup-sayup terdengar ******* wanita.
Saga merasa ada yang tidak beres, dicolek lah bahu Viona, "Vio, Vio," panggilnya.
__ADS_1
"Eh, iya, Suamiku, ada apa?" tanya Viona yang saat ini langsung melepaskan kedua headset dari kedua telinganya.
"Kamu lagi dengerin cerita apa?"
"Vio lagi dengerin cerita tiiiiiiit tiiiiiiiiit tiiiiiiit," sahut gadis itu.
"Itu bukan cerita dewasa kan?" selidik Saga dengan pandangan matanya yang memicing tajam.
"Bukan kok," geleng Viona. "Ini tuh novel religi, penulisnya aja udah dapet label penulis religi dari semua pembacanya. Dari review yang Vio baca, katanya cerita ini itu bagus banget dan emang bagus sih, ada ayat-ayatnya juga." jabar Viona.
"Masa?" tanya Saga masih curiga.
"Beneran suamiku, nih liat aja," Viona menunjukkan cover luar novel online itu yang ada di aplikasi pusatnya.
Saga mulai mengambil alih ponsel Viona, "Baca aja blurbnya, Suamiku! Islami banget kan, anak kiai lho itu. Nggak ada label 21+ juga di dalamnya, artinya aman dong buat anak di bawah umur." ucap Viona lugu.
Saga sependapat sih dengan ucapan Viona jika hanya menilai dari blurb di cover novel bagian luar, ditambah lagi tidak ada warning 21+, dan bab awalnya sangat santun sekali.
Awalnya raut wajah Saga datar saja karena adegan yang sedang dia baca hanyalah adegan pemain utama yang sedang baca kitab suci, namun lama-kelamaan saat adegan demi adegan berpindah, kening Saga mengernyit saat mendapati ada adegan 21+ dicampur adukan dengan ayat-ayat suci dalam novel yang judulnya islami sekali itu.
"Novel apaan nih?" kesal Saga yang langsung menghapus aplikasi MesomTube dan aplikasi pusat novel daring itu.
Saga mulai beralih ke arah istrinya saat ini dan memegang kedua pundak gadis itu.
"Vio, kamu itu masih di bawah umur. Kamu nggak boleh baca novel yang seperti ini lagi ya!" pinta Saga baik-baik.
"Tapi novel itu bukan novel mesum kok, Suamiku. Penulisnya aja disebut sebagai penulis religi sama para readernya dan karya yang itu adalah karya terbaik dia yang penuh hikmah."
'Hikmah kemesuman iya,' batin Saga mengumpat.
"Vio, dengerin apa kata suamimu ini ya! Novel ini meski judulnya islami sekali, banyak ayat-ayat suci yang terkandung di dalamnya dan pemain utamanya adalah anak kiai besar dalam novel ini, tapi semua hal itu tidak menjamin novel ini pantas dikonsumsi oleh anak di bawah umur seperti kamu, karena banyak adegan yang kurang pantas dalam novel ini."
"Tapi,"
__ADS_1
"Tolong patuhi permintaan suamimu ini ya, Vio! Aku ngelarang kamu bukan karena nggak sayang, tapi karena terlalu sayang sama kamu dan nggak mau otak kamu makin tercemar. Mulai saat ini kalau kamu mau baca novel, minta ijin dulu sama aku, jika kata aku oke, kamu baru boleh baca novel-novel itu."
"Huft," Viona mendesah kecewa.
Saga kembali memberikan ponsel Viona kepada sang empunya.
Saat ini pemuda itu memijat kening dengan salah satu tangannya.
'Kalau novel mesum yang udah jelas mesum dan kasih label dan warning 21+ terlebih dahulu, aku tidak sekesal ini saat menjumpainya, karena bisa dengan mudah diskip atau dilewati. Tapi ini, arghhhh, kok ada ya penulis macam dia, yang mencampur adukkan ayat-ayat suci dengan adegan mesum. Dan mirisnya dia mendapatkan gelar penulis religi hanya karna pemain utama dalam novelnya seorang anak kiai dan banyak ayat-ayat dan aktivitas keislaman di dalamnya. Siapa sih yang menyematkan gelar itu. Penulis ini tidak pantas mendapatkan gelar itu.'
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan gerbang sekolahnya Viona.
"Suamiku, Vio berangkat dulu ya," pamit gadis itu.
"He'em, yang pinter ya sekolahnya!"
"Hehe," Viona hanya nyengir kuda karena dia tidak akan bisa melakukan apa yang Saga minta.
"Sampai jumpa nanti sore ya, Suamiku," lambai Viona yang kini mulai berjalan menjauh dari mobil itu.
"Iya," Saga melambai balik ke arah Viona.
Dari jauh Saga melihat ada seorang remaja yang langsung mengapit leher Viona dengan tangannya.
Saga tidak terima pemuda itu melakukan hal itu, namun dari reaksi yang Viona berikan menyiratkan bahwa mereka berdua berteman akrab.
Ada rasa panas di hati Saga saat melihat hal itu. Dia tidak rela jika orang yang sudah dia anggap istimewa akrab dengan lelaki lain meski di hatinya tidak ada rasa cinta, namun Saga bukanlah tipe orang yang mau berbagi kasih dengan yang lain.
Kedua matanya memicing dan mulai mengenali bahwa laki-laki yang sedang bersama dengan Viona adalah Raga adik tirinya.
"Awas kau, Raga," geram Saga dengan telapak tangannya yang mulai mengepal.
***
__ADS_1