
Bunda Amanda menarik putra lelakinya untuk segera keluar dari ruang rawat adiknya karena dia telah mengatakan hal-hal yang menurut wanita tua itu tidak pantas dikatakan.
"Bunda apa-apaan sih? Kok tarik-tarik aku keluar?" protes Sekretaris Ken kepada Ibundanya.
"Lha kamu yang apa-apaan? Udah tahu adikmu itu masih kecil dan masih polos, pake bilang bekas-bekas segala tentang Saga," sahut Bunda Amanda seraya memukul lengan pemuda di depannya.
"Ih, nyatanya Tuan Muda Saga itu udah bekas kok. Ken nggak rela ya kalau Adiknya Ken nikah sama laki-laki modelan kayak Tuan Muda Saga," sungut Sekretaris Ken sambil memajukan bibirnya tanda bahwa ia tidak terima.
"Lah, bukannya Saga itu sahabat kamu? Bunda juga lihatnya Nak Saga itu baik, pengertian. Bunda meski dulu dalam keadaan tidak waras tapi masih ingat dengan jelas ya gimana kebaikannya Nak Saga sama Bunda," bela Bunda Amanda yang tidak terima Saganya dijelek-jelekkan.
"Itu kan sama Bunda. Kalau sama orang lain khususnya orang-orang yang nggak beruntung dalam penampilan fisik, beuh mulutnya pedes banget." Sekretaris Ken sampai memutar malas bola matanya.
"Asal Bunda tahu saja, Saga itu pas ketemu pertama kali sama Arra sampai muntah-muntah karena nggak kuat dengan penampilannya Arra yang jelek banget." lanjut pemuda itu.
"Sebenarnya Kenzo tahu kok alasan Tuan Saga muntah-muntah itu karena apa, tapi Kenzo tahan karena itu urusannya, lagipula dulu aku belum tahu kalau Viona itu Arra, ya meski pun aku ...." Sekretaris Ken langsung menghentikan ucapannya saat dia tersadar akan bilang bahwa dia menyukai adiknya.
"Aku apa, Ken?" guncang Bunda Amanda yang penasaran dengan lanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh putranya itu.
"Aku ... aku nggak suka sifatnya," sahut Sekretaris Ken asal yang rasanya tidak nyambung.
Kening Bunda Amanda mengernyit karena tidak paham dengan ucapan anaknya itu.
'Ah, bodo amat. Mau nyambung kek, nggak kek. Aku mana mungkin jujur sama Bunda kalau dulu aku naksir Arra. Ya meskipun aku tahu bahwa rasa itu mungkin hanya ikatan batinku terhadapnya, tapi kalau aku jujur sama Bunda, pasti Bunda akan syok berat,' batin Sekretaris Ken sambil melirik sesekali ke arah wajah Ibundanya untuk mengecek perubahan ekspresi dan emosi wanita itu.
"Ya, intinya begitulah, Bun," tegas Sekretaris Ken kemudian.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi. Intinya Tuan Muda Saga tuh nggak baik buat Arra," sambung pemuda itu.
"Kenzo!" seru seorang wanita yang saat ini sedang berjalan di lorong rumah sakit ini bersama dengan anak lelakinya yang tidak lain adalah Raga.
"Tante Dania," sahut Sekretaris Ken yang saat ini kepala dan tubuhnya telah berbalik ke arah wanita itu.
Langkah Nyonya Dania dan putra lelakinya semakin mendekat ke arah Sekretaris Ken dan kini berhenti beberapa puluh centi meter di dekat pemuda itu dan Bunda Amanda.
__ADS_1
"Tante ngapain di rumah sakit?" tanya Sekretaris Ken penasaran.
"Tadi Papanya Raga penyakit jantungnya kumat, jadi saat ini kami lagi ada di sini buat nemenin dia," jawab Nyonya Dania.
"Tuan Surya nggak kenapa-kenapa kan, Tante?" tanya Sekretaris Ken khawatir akan keadaan Tuan Surya Pratama meski Perusahaan lelaki paruh baya itu adalah saingan dari Samudra Group, namun itu tidak menjadikannya memusuhi keluarga itu karena Sekretaris Ken memiliki hubungan yang dekat dengan Tuan Surya karena dia sering bertemu dengan lelaki paruh baya itu di tempat golf saat dia sering main bersama dengan Tuan Batari yang kemudian mengantarkan Sekretaris Ken kenal dekat dengan Tuan Surya karena pemuda itu ingin menanamkan modal di perusahaan Tuan Surya dari semua uang gajinya selama ini.
Sekretaris Ken sengaja menanamkan modal usaha di Perusahaan Tuan Surya karena kebetulan di Perusahaan itu sedang ada saham yang dijual oleh pemilik sebelumnya yang kini diambil alih oleh pemuda itu dengan harga yang fantastis, tapi semuanya terjadi tanpa sepengetahuan Sagara.
Jika dulu Sekretaris Ken adalah lelaki miskin dan hanya pegawai rendahan, maka keadaannya saat ini bisa dikatakan menjadi orang yang memiliki status sosial yang tinggi karena keuntungan dari bagi hasil dengan Perusahaan Tuan Surya sangat besar.
Sayangnya Sekretaris Ken tidak mau menggembar-gemborkan kekayaannya, sehingga dia masih dikenal sebagai laki-laki biasa yang kerjanya menjadi Sekretaris pribadi dari seorang CEO besar di Samudra Group.
"Alhamdulillah keadaan suami Tante nggak apa-apa," jawab Nyonya Dania. "Oh iya, itu Ibu kamu ya, Ken?" tanya Nyonya Dania yang kini menyadari ada wanita yang seumuran dengannya di samping lelaki di depannya ini.
"Iya, Tan," angguk Sekretaris Ken.
"Bun, kenalkan, ini Nyonya Dania, istri dari pemilik Perusahaan Surya Pratama Group," ucap Sekretaris Ken pada Ibunya, dan kini pemuda itu beralih ke arah Nyonya Dania, "perkenalkan Tante, ini Bundaku, Amanda namanya,"
Kedua wanita paruh baya itu saling berjabat tangan satu sama lain dengan senyum yang mengembang.
Sekretaris Ken dan Bunda Amanda yang tidak enak menolak ajakan Nyonya Dania akhirnya mengangguk setuju, toh Viona akan tetap baik-baik saja, kan hanya ditinggal sebentar ini.
Mereka pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan tempat ini.
Raga sampai saat ini tidak tahu bahwa Viona-nya sedang berada di rumah sakit ini karena dia yang lebih dulu meninggalkan sekolah tepat setelah Viona pergi meninggalkan kelas untuk mengikuti ujian susulan.
Jika saja Raga masih berada di sekolah, sudah pasti lelaki itu langsung menyusul Viona yang beberapa jam yang lalu dilarikan ke rumah sakit.
Setelah kepergian keempat orang itu, orang mencurigakan yang tadi dilihat oleh Bunda Amanda di balik dinding saat orang itu sedang mengintip kini mulai berjalan mendekat ke arah kamar Viona dan secara perlahan membuka pintu kamar gadis itu.
Ceklek!
Pintu berhasil dia buka dan Viona yang sedang duduk di atas ranjang tidurnya menengok ke arah orang itu yang ternyata adalah seorang wanita.
__ADS_1
"Maaf, Ibu siapa ya?" tanya Viona refleks saat melihat ada seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu masuk kamar rawat inapnya.
Viona juga bisa melihat dengan jelas kedua mata wanita itu yang sedang berkaca-kaca.
"Maaf, Bu, Anda cari siapa?" tanya Viona kemudian karena wanita tua itu hanya termangu di ambang pintu masuk ruangan ini sambil menatap lekat-lekat gadis manis itu.
Air mata yang menetes di kedua pipi wanita itu langsung dia usap kasar dengan telapak tangannya.
"Maaf, Nak, Ibu salah kamar. Ibu kira tadi ini ruangan kamar anak Ibu," jawab wanita itu.
"Oh," angguk Viona mengerti.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya, Nak. Maaf telah mengganggu kenyamanan kamu, Nak," pamitnya.
"Iya, Bu, nggak apa-apa kok. Semoga kamar rawat inap anak Ibu segera ketemu ya," harap Viona.
"Iya," angguk wanita itu yang kini mulai menutup kembali pintu kamar rawat inap Viona.
Tangis wanita semakin pecah saat dia sudah berhasil menutup pintu kamar itu.
"Nak, ini Mama," ucapnya pelan sambil menatap pintu kamar Viona.
"Maafin Mama ya, Nak. Mama terpaksa melakukan ini agar hidup kamu nyaman dan berkecukupan," cakapnya lagi.
"Akhirnya setelah sekian lama, kita bisa berjumpa lagi, Nak," sambungnya yang kini mulai mengintip Viona dari jendela kaca kecil yang terpasang di pintu itu.
Wanita tua itu adalah Helena, Istri kedua Tuan Bhumi yang dulu melarikan diri saat dia sedang mengandung anak perempuannya untuk mengejar Tuan Smith cinta pertamanya yang berakhir penolakan.
Kebetulan Nyonya Helena dan Bunda Amanda melahirkan di tempat yang sama, dan dia membayar seorang perawat untuk menukar anak perempuannya dengan anak perempuannya Bunda Amanda karena tahu bahwa masa depan anak Bunda Amanda akan jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan anak perempuannya yang tidak akan mungkin mendapatkan warisan dari Tuan Bhumi karena tabiat dari kedua anak lelaki itu pasti akan menentangnya keras-keras.
Nyonya Helena sengaja menukar anaknya dengan anak Bunda Amanda agar anaknya kelak bisa mewarisi harta kekayaan Tuan Smith, sekaligus sebagai cara balas dendamnya atas penolakan Tuan Smith yang awalnya memberikan janji palsu kepadanya.
To be continued.
__ADS_1
***