
Pov Viona
Cewek mana sih yang nggak seneng saat cowok yang disukanya menjadi pendamping hidupnya yang sah di mata agama dan hukum? Pasti jawabannya nggak ada.
Begitu pun aku, aku seneng banget akhirnya bisa nikah sama pangeran tampan berkuda putihku kemarin siang, meski dia sempat sok pura-pura menolak.
Sagara Bhumi Saputra itulah namanya, bukan hanya bagus rupanya saja, namun hatinya juga tak kalah baiknya.
Masih terpatri dengan jelas diingatanku, waktu itu aku dititipkan oleh Bunda Amanda kepada Paman Frank karena akan sulit bagi Bunda untuk meninggalkan Washington DC jika dia bersamaku.
Aku tidak tahu alasannya apa, kenapa Bunda sulit meninggalkan kota itu jika pergi bersamaku, yang aku tahu, Bunda menitipkan aku kepada Paman Frank yang sudah Bunda anggap seperti saudaranya sendiri.
Meksi usiaku masih muda, tapi pola pikirku tidak seperti anak seusiaku.
Setelah kepergian Bunda Amanda ke Indonesia, aku diajak oleh Paman Frank ke sebuah pelabuhan karena kami akan menggunakan jalur laut untuk menyebrangi samudra yang luas agar bisa menyusul Bundaku ke negara yang penuh dengan sejuta pesona.
Namun, di dalam perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Paman Frank berbelok arah dan kami menuju ke tempat yang berbeda.
Sebuah panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Paman Frank. Dia dan lawan bicaranya berkomunikasi menggunakan bahasa spanyol, namun, aku yang memang menguasai dua bahasa -bisa dengan mudah mengartikan semua pembicaraan mereka.
Paman Frank ternyata sedang janjian dengan seorang Mafia yang pekerjaannya memperjualbelikan manusia secara ilegal.
Katanya aku akan diambil organ dalamnya untuk ditransplantasikan ke orang-orang kaya yang sedang membutuhkan donor organ dalam.
Beruntung sekali mobil yang dikendarai oleh Paman Frank dihentikan di salah satu ruas jalan karena lelaki biadab itu kebelet pipis.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung lari masuk ke dalam hutan agar Paman Frank kesulitan mencariku.
Sayup-sayup aku mendengar suara lelaki tua itu yang berteriak memanggil-manggil namaku, namun aku memilih diam dan tak bersuara sedikit pun.
Tidak terasa aku sudah keluar dari dalam hutan dan mulai menyusuri jalanan aspal ini dengan kedua kaki mungilku.
Alas kakiku sudah tertinggal jauh di belakang karena aku memilih meninggalkannya saat sepatu itu terlepas dari kaki ini.
Aku tidak tahu aku harus pergi kemana karena aku tidak punya tujuan.
__ADS_1
Kedua kaki mungilku sudah lecet karena dipakai berjalan jauh tanpa selembar alas kaki pun yang melindunginya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti beberapa belas meter dari tempatku berdiri. Jantungku bertalu-talu dengan posisi kaki yang mulai bersiap melarikan diri jika penumpang mobil itu adalah orang jahat.
Kulihat ada sebuah kaki yang hanya terbungkus kaos kaki putih menginjakkan kedua telapak kakinya ke atas permukaan jalanan ini.
Kedua kaki mungilku mulai aku mundurkan secara perlahan-lahan saat Kakak-Kakak yang turun dari mobil itu berjalan ke arahku sambil menenteng sebuah sepatu berwarna biru.
Melihat aku yang terus mundur ketakutan, dia memilih berhenti dari langkahnya, dan sepasang sepatu biru itu dia letakkan dia atas permukaan jalan.
"Pakailah sepatu ini!" ucapnya yang memilih menggunakan bahasa Inggris.
Setelah mengucapkan itu, dia langsung berbalik pergi meninggalkan sepasang sepatu itu.
Kudekati sepatu itu yang ternyata di dalamnya ada beberapa lembar dollar yang tergeletak di dalamnya.
Segera kupeluk sepatu biru itu di dadaku dan pandanganku langsung kualihkan kepada mobil putih itu yang sudah melaju meninggalkanku di sini sendirian. Belakangan baru kuketahui bahwa Kakak laki-laki yang dulu memberikanku sepatu bernama Saga. Iya, Saga.
Aku tidak mungkin salah orang, karena ingatanku sangat tajam dalam mengenali wajah orang-orang yang aku jumpai.
Aku langsung berlari semampuku untuk menyelamatkan diri. Saat ada pintu mobil yang terbuka, aku langsung masuk ke dalamnya untuk bersembunyi agar tidak tertangkap oleh Paman Frank.
Mobil yang kutumpangi ini ternyata adalah milik Keluarga Adem Anyes yang sedang berlibur di negara ini dengan seorang laki-laki yang berpakaian aneh.
"Rawat anak ini! Dia adalah pembawa keberuntungan," ucap orang aneh itu kepada sepasang suami istri di sampingnya.
Akhirnya aku diangkat anak oleh sepasang suami-istri itu dan dibawa terbang ke Indonesia.
"Vio," panggil Raga yang tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan panjangku.
"Iya, rekanku. Ada apa?"
"Kamu dipanggil Bu Leni tuh. Katanya kamu harus ikut ujian susulan yang kamu lewatkan kemarin siang."
"Hemph," Viona langsung lunglai tak berdaya.
__ADS_1
"Nggak usah males-malesan gitu. Aku udah minta sama Bu Leni untuk tes lisan aja kalau sama kamu," ungkap Raga.
"Telimakaci, Lekanku," ucapku manja seraya memeluk tubuh teman terbaikku ini yang kurasakan tiba-tiba tubuhnya langsung menegang.
"Lepas," ucap Raga ketus sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aku tidak tahu kenapa Raga tiba-tiba bersikap seperti itu padaku, namun aku tidak mau ambil pusing dan langsung melangkah keluar dengan riang.
Ruang guru ada di ujung barat sekolah ini, sehingga aku harus melewati lorong-lorong kelas lainnya agar bisa sampai ke tempat tujuanku.
Tiba-tiba ada sesosok wanita yang berpenampilan aneh di tengah lapangan basket. Dia terlihat seperti orang sedang kebingungan.
Ingin rasanya kuabaikan saja sosok itu, namun entah kenapa kedua mataku tidak mau berpaling dari sosok itu.
Deg!
Jantungku langsung berdebar kencang saat melihat wajah dari sosok wanita di tengah lapangan itu. Aku mengenali wajah itu.
Seberapa lama pun aku terpisah dengannya, aku tak akan bisa melupakan wajah itu dengan mudah.
Setetes demi setetes air mataku yang sedari tadi sudah tergenang mulai luruh dan jatuh membasahi kedua pipiku.
"Bundaaaaaaaaaaaa!" teriakku memanggil sosok wanita itu yang kini menoleh ke arahku.
Langkah kakiku sudah mulai memasuki area lapangan basket, namun tiba-tiba rasa nyeri menjalar cepat ke semua bagian kepalaku dan seketika itu pula aku terhuyung jatuh ke arah depan dengan posisi kepala yang dengan sangat kuat menghantam lantai lapangan basket ini.
"Aaaaaaa!" terdengar suara pekikan orang-orang di sekitarku.
Dan seketika itu pula kesadaranku menghilang.
Wusss!
to be continued.
***
__ADS_1