CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Menyadarkanmu, Nak


__ADS_3

Tuan Batari, Nyonya Sherina, dan Yunita anak perempuan mereka saat ini sedang kebingungan di depan pintu gerbang rumah mereka yang telah diambil paksa oleh Awan dan Sekretaris Diana.


"Beh, nasib kita gimana ini?" tanya Nyonya Sherina panik sambil mengguncang-guncangkan tubuh lelaki tua itu.


"Babeh juga nggak tahu, Ma. Babeh buntu," sahut Tuan Batari yang saat ini sedang memegangi kepala plontosnya yang masih ada sisa-sisa sedikit helaian rambut di beberapa area.


Yunita yang tidak ingin mereka terlunta-lunta seperti ini mulai menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Beh, coba Babeh telepon teman-teman Babeh buat bantuin Babeh agar bisa keluar dari masalah ini!" pinta Yunita.


"Babeh nggak bisa hubungin mereka, Teh. Ponsel Babeh ketinggalan di dalam rumah," jawab Tuan Batari lesu.


"Pakai ponsel Teh Yun aja, Beh! Inih!" ulur Yunita memberikan ponsel yang saat ini sudah dia ambil dari saku celananya.


Beruntung sekali tadi Yunita tidak meninggalkan ponselnya sehingga tidak tertinggal di dalam rumah seperti ponsel kedua orang tuanya.


"Baiklah," angguk Tuan Batari seraya mengambil ponsel di tangan anak perempuannya.


"Tapi Babeh nggak punya nomor mereka," lanjut lelaki tua itu yang kini tertunduk lesu.


"Di hape Teteh ada nomornya Om Surya, coba Babeh hubungi dia aja! Siapa tahu dia bersedia membantu kita," tutur Yunita memberikan saran kepada Ayahnya.


"Haduh, Babeh rada sangsi nih," ucap Tuan Batari dengan raut wajah penuh keresahan.


"Sangsi kenapa, Beh? Bukannya kalian itu temen deket?" tanya Yunita penasaran yang kini mulai merasakan waswas saat melihat penampakan raut wajah kedua orang tuanya.


"Sebenarnya hubungan Babeh sama Surya lagi nggak baik," jawab Tuan Batari.


"Lho, kok bisa? Bukannya tadi malem baik-baik aja," sahut Yunita.


"Sebenarnya tadi pagi Babehmu sama Om Surya adu argumen di telepon dan ada sedikit gesrekan yang malah melebar ke mana-mana,akhirnya mereka berdua memutuskan jalinan persahabatan mereka, Teh," timpal Nyonya Sherina menjelaskan apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Ya ampun, kok bisa berantem sih, Beh? Terus kita mau minta bantuan ke siapa lagi?" Yunita benar-benar frustasi dengan keadaannya saat ini.


"Cuma satu yang bisa Babeh mintai tolong."


"Siapa, Beh?" tanya Yunita antusias.


"Om Darren, tapi, dia ada di Kalimantan, dan harus didatangi langsung ke rumahnya."

__ADS_1


"Astaghfirullah," Yunita sudah benar-benar putus asa sampai-sampai menjambak rambutnya sendiri.


"Beh, bukannya kita masih punya Tama?" celetuk Nyonya Sherina yang baru teringat bahwa mereka masih punya satu orang lagi yang bisa diandalkan.


"Oh iya, kok Babeh bisa pelupa gini ya," Tuan Batari menepuk jidat melingnya tapi dengan tatapan mata yang berbinar bahagia.


"Jangan!" larang Yunita ingin merebut kembali ponsel miliknya dari tangan Tuan Batari.


Nyonya Sherina yang tahu bahwa anak perempuannya ingin merebut ponsel itu kembali dari tangan suaminya segera menjegal langkah Yunita.


"Teteh mau ngapain?" tanya Nyonya Sherina basa-basi. Tanpa perlu bertanya pun, wanita itu pasti tahu maksud dan tujuannya Yunita.


"Lepasin Teteh, Ma!" rengek Yunita namun tidak digubris oleh Ibunya.


"Beh, jangan telepon Tama!" seru Yunita ke arah Tuan Batari, tapi usaha wanita itu sia-sia saja karena lelaki tua itu telah berhasil menghubungi nomor telepon mantan pacarnya Yunita.


"Halo, Tam," sapa Tuan Batari yang langsung berbicara saat tahu panggilan teleponnya sudah diangkat oleh Sekretaris Ken.


"Babeh," ucap Sekretaris Ken yang kentara sekali mengandung rasa keheranan dalam nada suaranya.


"Iya, ini Babeh, Tam," sahut Tuan Batari membenarkan.


"Ada apa, Beh? Kok Babeh pake nomornya Yun?"


"Inalillahi," ucap Sekretaris Ken kaget. "Kok bisa, Beh? Gimana ceritanya?"


"Sepertinya Awan memanipulasi berkas-berkas yang dia bawa saat dia ingin minta tanda tangan persetujuan dari Babeh dan Teh Yun," jawab Tuan Batari yang terasa sangat frustasi sekali dalam setiap tarikan napasnya.


"Lalu sekarang Babeh dan keluarga ada di mana? Pegang uang atau tidak?" tanya Sekretaris Ken panik dan khawatir.


"Babeh dan keluarga Babeh masih ada di depan gerbang rumah Babeh. Tolong jemput kami ya, Tam! Babeh bingung mau ke mana lagi," ucap Tuan Batari putus asa.


"Ok, Beh. Tunggu sebentar ya! Tama akan langsung otewe ke sana."


"Iya, Tam."


Tut tut tut!


Panggilan telepon itu berakhir dan Yunita langsung panik sembari memukul pelan lengan orang tuanya.

__ADS_1


"Babeh apa-apaan sih? Kok malah telepon Tama," kesal Yunita. "Bukankah kita masih punya kerabat lain yang bisa dimintai tolong."


"Jangan sok pura-pura bodoh deh, Teh!" cakap Nyonya Sherina kepada anak perempuannya itu.


"Pura-pura bodoh gimana sih, Ma?" tanya Yunita yang masih berpura-pura tidak tahu maksud perkataan Ibunya.


"Kamu pasti sudah tahu hubungan antara keluarga besar itu kayak gimana?"


Yunita hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.


"Teh, jika Babeh atau Mama diberikan suatu pilihan, maka Babeh akan lebih memilih Tama untuk jadi pendampingmu dibandingkan dengan Awan. Sekarang lihat, omongan Babeh sama Mama tempo dulu kebuktian kan," tutur Nyonya Sherina yang seolah-olah seperti menyalahkan keputusan Yunita beberapa tahun yang lalu.


"Ma, sebenarnya Yun juga jauh lebih mencintai Mas Tama, tapi ...," tenggorokan Yunita serasa tercekat untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Kamu malu kan? Kamu gengsi kan? Kamu nggak mau dikucilkan dari genk sosialitamu itu karena bersuamikan Tama yang hanya pekerja biasa? Sekarang Mama tanya, di saat-saat seperti ini, teman-teman sosialitamu itu sudi nggak nolongin kamu? Kamu sudah berkorban banyak untuk mereka agar sejajar dengan mereka. Sekarang Mama tanya ... jika mereka tahu apa yang sudah terjadi menimpamu hari ini, apakah mereka bersimpati dan mau merengkuhmu dalam lindungan mereka?" cecar Nyonya Sherina yang akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam bertahun-tahun.


Yunita hanya bisa terdiam karena di tahu betul watak teman-temannya itu.


"Kamu tahu nggak? Mama itu sebenarnya nggak suka kamu gaul sama mereka. Mama nggak suka lihat kamu tertekan dan harus menyamakan dirimu sesuai standar mereka dan kamu melupakan kebahagiaan haqiqi-mu yang ada pada Kenzo Adiatama."


"Seandainya kamu tidak memikirkan omongan para teman-temanmu itu, Mama yakin kamu pasti sudah bahagia saat ini bersama dengan Tama. Kalian pasti sudah punya anak yang lucu-lucu dari pernikahan kalian. Sekarang lihat! Kamu kehilangan segalanya karena memilih orang yang salah."


Yunita hanya bisa tertunduk mendengarkan semua perkataan orang tuanya.


"Teh, Mama cuma mau kamu sadar aja! Mama sama Babeh rela kehilangan semua aset dan harta berharga Mama dan Babeh agar kamu sadar bahwa status dan jabatan seseorang tidak menjamin kebahagiaan dan keharmonisan menghampiri mereka."


"Mama dan Babeh cuma ingin membuka mata kamu, agar kamu sadar bahwa lingkungan dan teman-teman sosialitamu yang kamu agung-agungkan selama ini sudah tidak sehat pergaulannya."


Nyonya Sherina kini meraih ponsel Yunita dari tangan Tuan Batari lalu menyodorkannya kehadapan Yunita.


"Sekarang coba kamu telepon salah satu teman sosialitamu! Minta bantuan sama dia! Mama pengen tahu, respon macam apa yang akan mereka berikan buat kamu," tantang Nyonya Sherina.


Yunita yang bisa memprediksi jawaban teman-teman hanya bisa menepis pelan lengan Ibunya yang sedang menyodorkan ponsel itu kehadapannya.


"Ma, Beh, maafin Teteh ya! Maafin Teteh yang selama ini buta dan selalu ingin diakui oleh mereka sampai-sampai mengorbankan Tama. Laki-laki biasa yang memiliki kebaikan luar biasa. Teteh nyesel, Ma," isak Yunita pilu. "Maafin Teteh ya, Ma, Beh," lirih Yunita yang kini sudah menangis dalam diam.


Nyonya Sherina dan Tuan Batari langsung memeluk anak perempuannya itu yang kini telah sadar dan terbuka matanya setelah mengalami hal buruk ini.


To be continued.

__ADS_1


***


Author lagi lemes😕 yang mau like dipersilakan, yang nggak juga gpp.


__ADS_2