CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Memeluk Jepit Rambut Viona


__ADS_3

Jantung Sagara mulai berdebar tidak karuan saat kain hitam yang menutupi mobil merahnya sudah jatuh ke atas lantai.


Sorot mata Awan mulai memindai mobil di depannya saat ini. Apakah ada yang salah dengan mobil itu sehingga Sagara menutupnya.


Jari jemari Sagara saling bertautan dan meremas satu sama lain saking gugupnya.


Cuit cuit cuit!


Dering ponsel milik Awan tiba-tiba berbunyi dan membuat pemuda itu menghentikan aktivitasnya saat ini.


Dirogohnya ponsel dalam sakunya dan panggilan telepon itu langsung dia angkat tanpa pikir panjang terlebih dahulu.


"Halo, Pah," sapa Awan kepada sang penelepon.


"Wan, tolong ambilkan berkas penting yang berada di map coklat ya!" pinta Tuan Bhumi kepada anaknya dari seberang telepon. "Kamu cari aja! Cuma satu-satunya kok berkas warna coklat di meja kerja Papa."


"Baik, Pah." jawab Awan patuh.


Ponsel itu mulai Awan masukan kembali ke dalam sakunya dan pemuda itu langsung masuk ke dalam mobilnya karena harus menjalankan perintah dari Ayahnya.


Awan sepertinya tidak menyadari kejanggalan yang terdapat di mobil Sagara sehingga membuat pemuda itu melepaskan Adiknya dengan mudah.


***


Di tempat lain, Pak Jang sedang mencari keberadaan Tuan Besarnya. "Rim, kamu lihat Tuan Bhumi nggak?" tanyanya kepada salah satu pelayan yang sedang lewat di dekat pintu masuk ruang kerja pemilik rumah ini.


"Beliau ada di ruang makan." jawab Rima cepat.


"Terimakasih informasinya."


Pak Jang mulai turun kembali ke arah lantai satu. "Kok aku bisa pelupa gini ya? Jam-jam seperti ini kan sudah waktunya untuk makan. Tadi aku ngebangunin Tuan Muda Saga kan untuk makan juga." gumam lelaki itu sambil menepuk keningnya.


Di ruang makan, Tuan Bhumi sudah bersiap-siap duduk di kursinya. Sedangkan Kenzo remaja mulai menghidangkan semua makanan yang sudah berhasil dia masak seorang diri.


Menu hari ini hanyalah makanan sederhana namun sangat difavoritkan oleh Sagara. Ada oseng kangkung, gorengan tempe, dan sambal terasi. Tidak lupa potongan timun dan beberapa lembar daun kubis putih juga terhidang di meja ini.


"Tuan Muda Saga kok belum datang ke sini ya, Tuan?" tanya Kenzo remaja kepada Ayahnya Sagara.


"Tadi dia sama Pak Jang entah pergi kemana. Mungkin setelah urusannyaselesai, dia pasti akan segera menyusul ke sini kok."


"Oh," angguk Kenzo mengerti.


Pemuda itu mulai duduk di salah satu kursi meja makan namun belum berani membuka piring yang masih terkurab di depannya.


"Tuan!" panggil Pak Jang sambil setengah berlari mendekat ke arah pria tua itu.


Baik Tuan Bhumi maupun Kenzo, keduanya langsung menengok ke arah Pak Jang yang saat ini sedang ngos-ngosan.


"Ada apa, Jang?" tanya Tuan Bhumi.


"Anu, Tuan,"

__ADS_1


"Anu apa, Jang?"


"Bisakah kita berbicara di ruang kerja Anda saja, Tuan!" pinta Pak Jang kepada majikannya itu.


"Baiklah." sahut Tuan Bhumi yang langsung menyanggupi tanpa bertanya alasannya lebih lanjut.


Kedua pria dewasa itu sudah berpindah tempat dan pintu ruangan juga sudah ditutup rapat.


"Ada apa, Jang? Apa ada sesuatu yang sangat penting?" tanya Tuan Bhumi to the point.


"Tuan Muda Saga baru saja menabrak seorang gadis kecil, Tuan." ucap Pak Jang.


"Apa katamu?!"


"Tuan Muda Saga baru saja menabrak seorang gadis cilik di jalan dekat gerai KPC kota ini, Tuan. Tapi beliau langsung melarikan diri setelah menabrak gadis itu. Saat ini Tuan Muda sedang sangat ketakutan, Tuan."


"Arghhh," erang Tuan Bhumi yang saat ini menjambak rambutnya. "Kenapa anak itu ceroboh sekali sih?" kesal Tuan Bhumi.


"Kita harus melakukan apa, Tuan?"


"Selidiki lebih dulu situasi saat ini. Jika kasus tabrak lari Saga bisa dirahasiakan, maka sembunyikan kasus itu untuk selamanya. Sebentar lagi akan dilaksanakan rapat direksi di Samudra Group. Aku tidak mau gara-gara kasus ini -aku diturunkan dari jabatanku sebagai CEO di Perusahaan besar itu."


"Baik, Tuan. Saya akan melaksanakan semua perintah Anda." angguk Pak Jang patuh.


"Oh iya, jangan biarkan Saga menceritakan kasus tabrak lari ini kepada orang lain! Buat dia diam dan tenang."


"Baik, Tuan."


Dengan berbekal segepok uang dalam kotak martabak, laki-laki itu menyuap salah satu orang dalam pihak kepolisian agar menyalin dokumen kasus tabrak lari dekat gerai KPC tadi siang.


Semua hasil penyelidikannya menghasilkan data yang sangat memuaskan. Pelaku tabrak lari gadis kecil di dekat gerai KPC sulit untuk dilacak karena semua bukti tidak ada satu pun yang mengarah kepada Tuan Mudanya.


Kini giliran menyambangi Rumah Sakit yang menjadi tempat persinggahan pertama tubuh Viona yang tadi siang tidak sadarkan diri setelah ditabrak mobil Sagara.


"Permisi, apakah korban tabrak lari dekat gerai KPC dilarikan ke Rumah Sakit ini? Saya Paman gadis itu." akunya Pak Jang kepada pihak Resepsionis di Rumah Sakit ini.


"Betul, Tuan."


"Boleh saya tahu nomor kamar rawat inap keponakan saya?"


"Maaf, Tuan. Sayang sekali gadis kecil itu sudah tidak ada di sini. Jasadnya sudah dibawa pulang oleh kedua orangtuanya."


"Apa?!" ucap Pak Jang kaget.


"Saya turut berdukacita, Tuan."


"Terimakasih atas semua informasinya." tutur Pak Jang lemah.


"Sama-sama, Tuan."


Setelah dari Rumah Sakit, Pak Jang menyambangi rumah keluarga Sofyan Adem Anyes. Di pintu masuk dipasangi bendera kuning yang menandakan keluarga itu sedang berduka hari ini.

__ADS_1


Pak Jang memilih untuk langsung pulang setelah melihat bendera kuning itu.


Sesampainya di kediaman Tuan Bhumi, Pak Jang menyerahkan semua hasil penyelidikannya kepada laki-laki tua itu.


"Ini hasil penyelidikan saya, Tuan."


Tuan Bhumi mulai membaca semua berkas itu dan senyum lebar mulai terbit dari bibirnya.


"Sempurna sekali." pujinya.


"Iya, Tuan. Beruntung sekali keberadaan Tuan Muda sebagai pelaku tabrak lari itu tidak bisa dilacak. Tapi ... gadis yang ditabraknya meninggal dunia, Tuan."


"Itu hal yang sepele. Nanti aku akan berikan ganti rugi yang besar untuk keluarga yang ditinggalkannya." ucap Tuan Bhumi enteng. Entah di mana rasa kemanusiaannya, sehingga menyepelekan nyawa seorang manusia.


***


Atas suruhan dari Tuan Besarnya, Pak Jang mulai berbicara dengan Sagara dan meminta pemuda itu untuk menutup mulutnya rapat-rapat tentang kasus tabrak lari yang dilakukannya.


Meski rasa bersalah dalam jiwa Sagara sangat besar, namun remaja tanggung itu yang takut masuk penjara di usia belianya memilih untuk menuruti semua permintaan dari Pak Jang.


***


Saat ini Sagara kembali lagi ke jalanan tempat kejadian perkara kasus tabrak lari yang dilakukan olehnya.


Ditemani oleh Pak Jang, Sagara meletakkan sebuket bunga lily putih di tempat terbaringnya tubuh Viona kemarin siang.


Meski pencahayaan di tempat ini sangat gelap karena lampu penerangan jalan di dekat area sini tidak berfungsi, namun kedua netra Sagara masih bisa menangkap ada kerlip dari jepit rambut yang tergeletak di pinggir jalan.


Didekatinya kerlip itu yang kemungkinan timbul karena ada pantulan cahaya dari lampu jalan diujung sana.


Sagara memungut benda itu, "Ini kan," gumam pemuda itu yang mengenali jepit rambut di tangannya. Dia ingat betul gadis cilik yang ditabraknya kemarin mengenakan jepit ini. "Tolong maafkan aku!" pinta Sagara kepada pemilik jepit rambut bunga matahari itu.


Sagara terisak sambil memeluk jepit rambut milik Viona yang berada dalam genggaman tangannya.


"Sudahlah, Tuan Muda," tenang Pak Jang seraya merangkul pemuda itu. "Lebih baik kita segera pulang! Sebentar lagi pukul dua belas malam."


"Baik,"


Pak Jang mulai menuntun tubuh Sagara untuk kembali masuk ke dalam mobil mereka dan mobil itu pun mulai melaju meninggalkan tempat penuh kenangan buruk ini.


***


Viona sebenarnya tidak meninggal, tapi karena perintah dari dukun kepercayaan keluarga Adem Anyes yang mengatakan bahwa gadis itu harus dinyatakan meninggal agar hal-hal buruk tidak datang lagi menyapa keluarga besar itu, membuat Tuan Sofyan dan Nyonya Nadira mengumumkan kematian Viona ke khalayak ramai.


Pihak Rumah Sakit pun mereka mintai untuk bisa bekerjasama dan semua tetangga pun ikut bekerjasama meski sama-sama tahu bahwa Viona tidak meninggal.


Sedangkan ganti rugi yang dimaksud oleh Tuan Bhumi adalah menggolkan proyek yang sedang diincar oleh Perusahaan Adem Anyes Group.


Dan secara tidak langsung, Tuan Bhumi sedang membayar nyawa Viona dengan keuntungan dari proyek itu yang awalnya akan diberikan kepada Perusahaan lain.


To be continued.

__ADS_1


***


__ADS_2