
"Aku mohon tolong cepat angkat, Boss Chen." harap Sekretaris Ken yang saat ini tengah panik.
Panggilan telepon dari Sekretaris Ken ke nomor ponsel Boss Chen memang sudah terhubung namun sampai dering kesekian belum juga diangkat.
Pemuda itu tidak putus asa dan terus mencoba menghubungi nomor Boss Mafia itu dan syukurlah panggilan kali ini berhasil.
"Halo," terdengar sapaan suara berat di seberang telepon.
"Halo, Boss Chen. Selamat sore. Ini saya Kenzo." ucap Sekretaris Ken memperkenalkan dirinya.
"Oh~ Kenzo. Gimana kabarmu, Ken?"
"Kabarku baik, Boss."
"Jangan panggil Boss, Ken! Panggil Om aja. Kamu itu udah Om anggap kayak keponakan Om sendiri lho."
"Iya, Om. Makasih ya."
"Oh iya, ngomong-ngomong tumben kamu nelepon. Ada apa, Ken? Kamu nggak lagi punya masalah kan?"
"Gini, Om. Saya ingin meminta bantuan dari Om! Temen saya saat ini sedang dalam bahaya."
__ADS_1
"Bahaya gimana? Coba jelaskan lebih rinci supaya Om bisa bantu semaksimal mungkin."
"Awalnya teman saya diculik. Nah si penculiknya nurunin temen saya di jalanan aspal hutan kota A. Sedangkan Om tahu sendiri jalanan itu fungsinya buat apa."
"Gawat. Kalau sampai temenmu keburu ketemu sama rombongan Black Devil, bakalan susah buat dibebasinnya lagi. Bahkan keberadaannya pun akan sulit untuk dilacak."
"Tolong bantuin saya ya, Om!" pinta Sekretaris Ken.
"Tenang saja, Ken. Om akan utus Kim untuk segera menyelamatkan temanmu itu. Oh iya, kirim gambar wajah temanmu itu, Ken! Supaya Kim bisa bernegosiasi dengan pihak Black Devil kalau kalau temanmu itu sudah tertangkap."
"Baik, Om. Akan Saya kirim secepatnya."
"Oke. Om tunggu."
"Sama-sama, Ken."
Sambungan telepon itu pun berakhir.
"Tuan, tolong kirimkan foto Viola ke nomor Boss Chen!" pinta Sekretaris Ken yang saat ini masih sedang menyetir.
"Oke." angguk Sagara seraya mengambil ponsel pintar milik Sekretaris Ken yang telah disodorkan kepadanya.
__ADS_1
Pemuda itu kini mulai men-screenshot potret Viola di salah satu akun media sosialnya agar lebih cepat dan bisa segera mengirimkan foto gadis itu ke nomor ponsel Boss Chen.
Foto yang Sagara kirim telah berhasil masuk ke nomornya Boss Chen dan sudah centang biru yang menandakan bahwa lelaki itu sudah melihat isi pesannya.
Di kediaman Boss Chen. Lelaki paruh baya itu segera menghampiri anak lelakinya yang sedang lari di atas treadmill.
"Kim," panggil Boss Chen kepada anaknya.
Pemuda tampan yang namanya barusan dipanggil mulai mematikan alat bantu olahraga yang sedang dipakainya saat ini. Dia mulai turun dari atas treadmill.
"Kenapa, Pah?" tanya Kim yang saat ini sudah mengambil handuk kecil dan mengelap bulir keringat yang menetes di area wajah dan tubuh bagian atasnya.
"Cepat kamu pergi ke jalan aspal hutan dekat kota A! Temennya Kenzo sedang dalam bahaya. Fotonya sudah Papa kirim ke nomor ponselmu."
"Baik, Pah." angguk Kim yang kini mulai bersiap untuk pergi. "Papa udah hubungi Klan yang mana buat nemenin aku?" tanya pemuda itu.
"Klan-nya Gonjales sama Klan-nya Tsubasa."
"Dua Klan, Pah?"
"Iya, Kim. Papa hanya berjaga-jaga saja. Siapa tahu Black Devil bawa rombongan yang lumayan banyak malam ini. Kamu hati-hati ya!"
__ADS_1
"Iya, Pah." angguk Kim.
"Oh iya, kalau misimu sudah selesai, pulangnya kamu mampir ke rumah Intan ya! Skala baru selesai bikin cheese cake sama tape ketan. Tadi dia kirim pesan suruh ambil sendiri katanya."