
"Bukan gitu, Yun. Nanti sore Om sama keluarga mau ngehadirin acara anniversary pernikahan Kakek dan Neneknya Raga. Kemungkinan acaranya baru selesai pukul enam sore-an. Nah, Om nggak tahu nih, keburu atau nggak dateng ke acara ultah kamu." jelas Tuan Surya.
"Masih keburu, Om. Acara ulang tahun Yun dimulai pukul delapan malam. Om harus dateng ya!" bujuk Yunita. "Om kan udah Yun anggep keluarga Yun sendiri, jadi Om harus banget hadir ya!"
"Iya, insyaallah ya, Yun."
"Kalau gitu, telepon-nya Yun tutup dulu ya, Om. Maaf kalau Yun ganggu aktivitas Om saat ini."
"Nggak kok, Yun. Om nggak merasa terganggu sama sekali."
"Syukurlah kalau gitu. Sampai jumpa nanti malam ya, Om."
"Iya, Yun."
Tut tut tut tut.
Panggilan telepon itu pun berakhir.
"Yang telepon siapa, Pah?" tanya Dania penasaran.
"Yunita, Ma. Dia ngundang kita untuk hadir di acara ulang tahunnya nanti malam."
__ADS_1
"Oh, trus Papa jawab apa?"
"Insyaallah kita bakalan datang ke sana."
"Trus Awan sama Saga ikut hadir nggak?"
"Kalau Awan sepertinya iya, tapi kalau Saga entah."
"Males ih kalau ada mereka berdua. Mama nggak mau ada ribut-ribut."
"Ih, kamu jangan kayak gitu, Ma. Gitu-gitu juga mereka anak kamu, Ma."
"Oh, jadi Mama masih dendam aja nih gara-gara dulu anak-anak Mama nggak ada yang mau ikut sama Mama."
"Nggak gitu juga. Au ah, Mama nggak mau bahas mereka. Bawaannya bikin emosi kalau bahas mereka berdua. Papa nggak tahu sih sakit hatinya Mama pas denger ucapan mereka berdua."
"Papa mana tahu, Ma. Mama aja nggak pernah cerita."
"Aib, Pah. Makanya Mama nggak mau cerita. Udah ah, Mama mau nyalon dulu biar nanti sore kelihatan lebih cantik."
Dania mulai beranjak dari duduknya dan kini mulai melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari ruang keluarga ini.
__ADS_1
"Ma, jangan terlalu cantik ya dandanannya. Papa nggak rela kalau Mama jadi pusat perhatian! Pokoknya hanya Papa aja yang boleh nikmatin kecantikan Mama!" seru Tuan Surya kepada Istrinya.
"Lihat nanti aja ya, Pah. Mama kan nggak bisa ngontrol tatapan para lelaki yang terpesona dengan aura kecantikan Mama." sahut Dania.
"Pokoknya Mama nggak boleh keliatan cantik!" tandas Tuan Surya.
"Terima aja nasibmu, Pah. Resiko jadi suami wanita yang terlanjur cantik sejak dalam kandungan ya memang gitu ujiannya." Dania mengibaskan rambut keritingnya ke arah belakang dan kini dia mulai melanjutkan langkahnya kembali.
"Dasar terlanjur narsis kamu, Ma!" pekik Tuan Surya. "Tapi dia memang terlalu cantik sih." lirih laki-laki itu melanjutkan.
***
Di markas rahasia-nya Sagara, laki-laki pemilik rumah besar ini sedang berlari di atas treadmill.
"Sudah setengah jam, Tuan. Anda tidak ingin istirahat dulu?" tanya Sekretaris Ken yang sedari tadi tetap setia menemani Tuan Mudanya.
"Nanti saja, Ken. Aku ingin mengendurkan semua otot-ototku yang kaku karena beberapa hari kebelakang aku tidak sempat olahraga karena selalu diawasi oleh semua mata-matanya Awan. Oh iya, ngomong-ngomong soal mata-mata, kamu sudah tahu belum siapa-siapa saja yang menjadi mata-mata di dalam barisanku?" tanya Sagara.
***
Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.
__ADS_1