
Saat ini pemuda itu sedang menunggu kedatangan dari salah satu sahabat kepercayaannya yang akan membantu mengantarnya pulang.
"Akhirnya kamu datang juga, Bar." ucap Sagara sumringah saat melihat sahabatnya itu sudah tiba di rumah ini.
"Sorry ya kalau gue telat datangnya. Tadi gue abis tanding tatap-tatapan sama Istri gue." jelas Bara.
"Santai aja kali, Bar."
"Ayo kita segera balik ke rumah loe!" ajak Bara. "Gue lagi ditungguin Istri gue nih. Mau diajak tanding lagi sama dia. Jadi harus buru-buru balik lagi ke rumah gue."
"Pasti mau diajak tanding gulat ya?" tanya Sagara dengan pandangan penuh arti.
"Hoek," Bara pura-pura mual. " Nggak ada sejarahnya ya seorang Bara nidurin wanita itu. Males gila." ucapnya.
"Ya, ya, ya, terserah apa katamu. Tapi kalau suatu saat Istri loe hamil, loe harus namain anak loe pake nama gue."
"Idih, itu hanya anganmu semata Ferguso."
"Nama gue Sagara, Bambang. Bukan Ferguso."
"Sama, nama gue itu Bara, bukan Bambang." sahut Bara tidak mau kalah.
"Yok, kita cepetan berangkat!"
"Oke, ayo!"
__ADS_1
Bara segera berjalan seorang diri ke arah pintu keluar rumah ini dan Sagara dibiarkan begitu saja.
"Bar, kursi roda gue dorong, Woy!" pekik Sagara kepada sahabatnya itu.
"Eh iya, lupa. Hehehe,"
Bara segera kembali lagi ke arah belakang dan mulai mendorong kursi roda sahabatnya itu.
Dengan susah payah, lelaki itu kepayahan saat memindahkan tubuh Sagara ke dalam mobilnya.
"Berat banget tubuh loe, Ga." keluh Bara yang kini telah berhasil memindahkan tubuh laki-laki itu ke dalam mobilnya.
"Bilang aja loe itu letoy, Bar." ejek Sagara.
"Enak aja letoy." sergah Bara. "Perkasa gini kok dibilang letoy."
"Gue ngeluh itu bukan karena gue letoy, tapi karna loe kelebihan deh kayaknya berat badannya. Ngga pernah olahraga sih loe."
"Hilih, mana ada. Proposional gini kok dibilang kelebihan berat badan. Kenzo aja enteng-enteng aja tuh ngangkat tubuh gue tiap hari."
"Masa?" tanya Bara kaget.
"Iyalah.".
"Woh, gue dikalahin nih sama si Kenzo. Padahal dulu pas jaman kita sekolah, gue yang menang pas lomba angkat beban lawan dia."
__ADS_1
"Makanya loe sering-sering olahraga biar bisa ngalahin Kenzo lagi kayak dulu."
"Ah, tapi males ah. Gue mau nyantai aja."
"Dasar." desis Sagara. "Udah, ah. Mending kita segera balik ke rumah gue."
"Iya, iya, iya."
Bara mulai melipat kursi roda milik Sagara dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Setelah itu giliran dirinya yang masuk ke dalam mobil itu.
Mobil hitam itu pun mulai melaju meninggalkan rumah ini dan kini mulai meluncur bersama dengan kendaraan lainnya yang sedang sama-sama melewati jalanan ini.
***
Di rumah utama Sagara, Viona baru saja selesai mandi dan semua make up tebal yang menempel di wajahnya telah luntur dan hilang terbawa arus di dalam pipa pembuangan air di rumah ini.
Wajah cantik dari gadis itu kini terpampang dengan sangat nyata, namun sayang tidak ada satu pun makhluk yang bisa menikmatinya saat ini karena di dalam ruangan kamar ini hanya ada Viona seorang.
Jika di rumah lain ada cicak yang senantiasa menjadi tukang intip sejati, maka di rumah besarnya Sagara menjadi pengecualian.
Semua cicak yang ada di rumah ini selalu rutin diburu oleh para pemburu yang ditugaskan memburu makhluk kecil itu.
Hal ini adalah tradisi yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi di keluarga Bhumi Saputra.
Konon katanya cicak itu adalah sekutunya para setan, maka makhluk kecil itu wajib disingkirkan dari dalam rumah karena sewaktu-waktu bisa dijadikan mata-mata oleh para dukun untuk memata-matai target buruannya.
__ADS_1
***
Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.