CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Noda Darah Part 2


__ADS_3

Di balik tanaman ilalang itu ternyata ada seorang gadis cilik yang sedang terbaring bersimbah darah dengan kedua mata yang melotot.


"Dasar pembunuh," geram bocah cilik itu yang memiliki postur tubuh dan rupa mirip Viona.


"Aaaaaa!" Sagara berteriak sambil berlari terbirit-birit menjauh dari gadis cilik itu.


Srek!


Srek!


Srek!


Terdengar suara gesekan dedaunan ilalang yang sangat riuh di sekeliling Sagara.


Brukkk!


Tiba-tiba pemuda itu terjatuh karena tersandung sesuatu dan di bawah tubuhnya tiba-tiba ada sosok Viona yang bersimbah darah.


"Mati kau!" eram Viona sambil mencekik lehernya Sagara.


"Taun Muda, Tuan Muda, Tuan Muda!" Pak Jang yang diberikan tugas untuk membangunkan Sagara sedang berusaha menyadarkan pemuda itu sambil mengurai tangan pemuda itu dari lehernya sendiri.


"Uhuk, uhuk, uhuk!" Sagara terbatuk saat berhasil diselamatkan oleh Pak Jang.


"Tuan Muda!" tangis Pak Jang yang begitu khawatir dengan keadaan Sagara saat ini.


"Hossh, hossh, hossh," Sagara ngos-ngosan setelah mengalami mimpi yang sangat buruk.


"Minum dulu, Tuan!" pinta Pak Jang yang saat ini sudah kembali mendekat ke arah Sagara sambil menyodorkan segelas air mineral.


"Pak Jang, aku baru saja membunuh seseorang." ucap Sagara yang tidak peduli dengan segelas air yang disodorkan oleh Pak Jang.


"Itu hanya mimpi buruk saja, Tuan Muda." tutur Pak Jang yang menyangka bahwa Sagara baru saja bermimpi membunuh seseorang.


"Bukan, itu nyata. Tadi aku menabrak seorang gadis kecil di jalanan dekat gerai KPC." geleng Sagara kuat-kuat.

__ADS_1


"Itu hanya mimpi, Tuan Muda."


"Bukan,"


Sagara mulai turun dari atas ranjang tidurnya dan mulai menarik tangan Pak Jang untuk ikut bersama dengan dirinya ke garasi mobil.


Tuan Bhumi yang baru keluar dari ruang kerjanya menatap heran ke arah dua laki-laki itu yang sedang berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga.


"Mereka mau kemana? Bukankah saat ini sudah waktunya makan." gumam Tuan Bhumi melihat kepergian Sagara dan Pak Jang.


Saat ini Sagara dan Pak Jang sudah sampai ke tempat garasi mobil di rumah ini.


Syut!


Kain hitam yang menutupi mobil merah kesayangannya Sagara mulai disibakkan oleh tangan pemuda itu.


Sagara ingat ada noda jejak darah Viona di kaca mobilnya. "Pak Jang, coba lihat ini!" pinta pemuda itu sambil menunjuk noda di kacanya.


Pak Jang mulai mendekat dan kedua netranya bisa melihat dengan jelas ada jejak darah di kaca mobil itu. Jari telunjuknya mulai mendulit noda darah itu dan membauinya.


"Tuan Muda, Anda jangan panik! Tetap tenang! Jangan biarkan orang lain tahu tentang masalah ini!"


"Iya," angguk Sagara cepat.


"Saya akan melapor kepada Tuan Bhumi dan meminta beliau untuk mencari jalan keluar terbaik segera."


"Baik, Pak Jang. Tapi ... aku ingin tahu kondisi gadis kecil itu saat ini? Apakah masih hidup atau sudah ...," ucap Sagara lirih yang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.


"Tuan Muda di rumah saja! Biar saya dan Tuan Bhumi yang menanganinya segera."


"Baiklah kalau begitu." angguk Sagara lemah.


"Lokasi tabrakannya dekat dengan gerai KPC yang terkenal itu kan?" tanya Pak Jang memastikan.


"Iya, Pak."

__ADS_1


"Terimakasih infonya. Saya akan segera melapor."


Pak Jang mulai berjalan tergesa untuk menemui Tuan Bhumi. Sedangkan Sagara mulai menutup kembali mobil merahnya dengan kain hitam.


Brum, brum, brum!


Mobil yang dikendarai oleh Awan mulai memasuki garasi mobil ini.


Kreb!


Terdengar suara pintu mobil yang ditutup oleh Awan, saat laki-laki itu sudah berhasil keluar dari dalam mobilnya.


"Itu mobil kamu kenapa ditutupin, Ga?" tanya Awan penasaran.


"Biar nggak ada debu yang menempel." sahut Sagara cepat.


"Lebay," komentar Awan.


"Biarin." Sagara tidak peduli, namun di dalam hati kecilnya, pemuda itu sedang deg-degan, takut kalau Awan akan membuka penutup kain hitam ini.


"Hemph, pasti mobilmu lecet ya?"


"Nggak," sangkal Sagara cepat.


"Jika Papa tahu hal ini, kira-kira kamu dapat hukuman apa ya?" ucap Awan menimang-nimang dengan tangan kanan yang mengusap-usap dagunya.


"Nggak lecet nggak." Sagara bersikeras.


Srakk!


Kain hitam itu ditarik paksa oleh Awan dan membuat mobil merah itu tidak tertutupi kain lagi.


to be continued.


***

__ADS_1


Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.


__ADS_2