CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Takut Ini Mimpi


__ADS_3

POV Kenzo


Saat ini aku sudah berada di dalam Rumah Sakit Citra Husada sedang menanti Dokter yang menangani Adikku keluar dari ruangan Instalasi Darurat di RS ini.


Ya, Adikku, Viona itu adalah Adik kandungku yang telah hilang selama bertahun-tahun.


Beberapa saat yang lalu Bunda Amanda sudah mengatakan yang sebenarnya bahwa Viona adalah Arrabella.


Perasaanku saat ini kacau, tapi bukan kacau karena patah hati atau pun merasa kecewa dengan kenyataan ini.


Aku merasa kacau karena selama ini aku tidak bisa mengenali Adikku sendiri yang keberadaannya ada di dalam jangkauan pandanganku.


Kenapa aku begitu bodoh, sehingga tidak bisa mengenali Arra, seharusnya aku curiga saat hati ini bisa dengan mudah jatuh cinta kepada Arra meski aku belum pernah bertegur sapa dengannya.


Seharusnya aku curiga, kenapa hati ini begitu tidak rela Arra diremehkan oleh orang lain saat mereka merendahkan Arra, sedangkan aku adalah tipe orang yang acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar.


Suara tangisan dari Bundaku masih terdengar di koridor ini, yang bisa aku lakukan hanya menepuk-nepuk pundaknya pelan dan membisikkan kalimat-kalimat yang bisa menenangkan jiwa rapuhnya.


"Tenanglah, Bunda, Arra itu gadis yang kuat," ucapku sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan luruh. "Ken percaya, Arra pasti baik-baik saja," sambungku mensugesti Bundaku dan diriku sendiri agar rasa kekhawatiran ini sedikit berkurang.


Namun tetap saja tangisan Bunda Amanda tidak berkurang sedikit pun. Hati manusia mana yang tidak sedih dan terluka jika orang yang dia cari selama ini malah tiba-tiba terkapar di depan matanya di hari pertama berjumpa setelah berpisah sekian tahun lamanya.


Aku pun sama, aku juga merasakan kesedihan yang teramat dalam saat melihat gadis yang aku cintai, sayangi, dan aku rindukan selama ini tiba-tiba malah tak sadarkan diri dan kepalanya terbentur dengan keras di hadapanku sendiri.


Akhirnya yang kami tunggu-tunggu telah tiba. Pintu ruang Instalasi Gawat Darurat terbuka dan menampilkan seorang Dokter yang baru saja selesai menangani Adikku di dalam ruang IGD itu.


Terlihat Dokter wanita berkerudung putih itu melepaskan masker yang sedari tadi dia pakai.


Aku dan Bundaku segera mendekat ke arah Dokter wanita itu.


"Dok, bagaimana keadaan Adikku? Apakah dia baik-baik saja?" cecarku yang tidak sabar untuk mengetahui kondisi terbaru dari gadis kesayanganku itu.


"Kondisi pasien saat ini baik-baik saja, hanya ada luka ringan di bagian kepalanya dan sudah kami obati. Nanti setelah dia siuman, kami akan melakukan rontgen di bagian kepalanya yang terbentur. Untuk sementara waktu dia belum diijinkan pulang karena masih dalam masa pengawasan. Sampel darahnya pun telah kami ambil untuk diperiksa di lab agar semua penyebab kecelakaannya jelas," papar Dokter wanita berjilbab itu yang ber-name tag Skala Mutia di seragam dinasnya.


"Tolong selamatkan anak Tante ya, Ska!" tiba-tiba Bunda meraih salah satu tangan Dokter wanita itu dan menggenggamnya dengan sorot mata penuh harap.


"Iya, Tante," angguk Dokter wanita itu. "Skala pasti akan menyelamatkan Adiknya, Tama." sambungnya dengan pandangan mata lembutnya yang kini beralih melirik padaku seolah meminta penjelasan tentang semua yang terjadi.


"Nanti aku jelaskan semuanya," ucapku tanpa suara kepada Dokter wanita itu.

__ADS_1


Dia yang bisa membaca gerak bibirku segera mengangguk singkat dan mulai fokus kembali kepada Bunda Amanda.


"Tante tenang aja! Arra sudah baik-baik aja kok, Skala yang jamin," tuturnya lembut yang saat ini mulai merengkuh Bundaku ke dalam pelukannya.


Aku tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Namun tidak terbesit sedikit pun di hatiku untuk jatuh cinta padanya.


Gila aja, aku masih waras, dan aku masih ingin hidup.


Meski Dokter wanita itu yang bernama lengkap Skala Mutia begitu menarik hati karena kebaikan hatinya, tapi, aku tidak tergiur sedikit pun sebab aku masih sayang nyawaku sendiri.


Jika Kim tahu aku naksir sama Skala Mutia, bisa-bisa habis leher ini digorok oleh tangan kekarnya.


Aku tahu betul sebesar apa rasa cinta Kim kepada dokter muda itu yang saat ini sedang memeluk Bundaku di dalam dekapannya. Kim rela melakukan apa saja untuk menyenangkan wanita pujaannya itu, tidak peduli hujan badai dan angin kencang yang melanda, dia akan terus merangsek maju menuju ke tempat yang wanita itu inginkan.


Sebenarnya jika dibandingkan dengan Kim, aku jauh lebih dekat dengan Skala Mutia, karena dia adalah teman dari kecil.


Ayahku dan Ayahnya berteman baik juga, sama seperti halnya dengan Boss Chen.


Sewaktu Bundaku ngamuk karena depresi kehilangan Arra, Skala selalu membantu menenangkannya dengan cara merayu Bundaku agar mau menemaninya bermain atau meminta dimandikan oleh Bundaku agar Bundaku tidak kehilangan sosok anak perempuan.


Aku sangat berterimakasih kepada dokter muda di hadapanku saat ini, berkatnya, kondisi Bunda sedikit tenang, namun sayang, aku tetap harus memasukkan Bundaku ke Rumah Sakit Jiwa saat Skala pindah keluar kota.


Bundaku mengurai pelukannya dari tubuh Skala.


"Iya, Ska. Makasih ya, udah nolongin anak Tante."


"Sama-sama, Tante. Lagipula ini udah kewajiban Skala sebagai Dokter."


Bundaku terlihat tidak rela saat melepas kepergian Skala karena dia baru bertemu kembali dengan gadis itu setelah beberapa bulan tidak berjumpa.


Tangan mungil Skala menepuk pangkal lenganku pelan dengan senyum merekah di bibir ranumnya.


"Tam, aku tinggal dulu ya. Kamu utang penjelasan sama aku," ucapnya dengan kelopak mata yang memicing.


"Iya," anggukku. "Sana, kerja yang bener."


Skala terkekeh kecil mendengar perintahku.


"Tanpa kamu suruh pun, aku akan bekerja dengan benar, karena taruhannya itu nyawa manusia."

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat itu, Skala pergi meninggalkan tempat ini. Terlihat seorang perawat laki-laki datang mendekat padanya sambil menyodorkan sebuah berkas yang terpasang di sebuah papan alas tulis.


***


Saat ini Arra sudah dipindahkan ke ruang VVIP di Rumah Sakit ini.


Aku dan Bundaku terus mendampingi gadis kecil ini.


Ya, gadis kecil.


Bagi kami, Arra masihlah seorang gadis kecil yang rapuh, dan selamanya akan tetap begitu.


Tangan kanan Arra digenggam erat oleh kedua tangan Bundaku.


Terlihat jelas, Bundaku seperti tidak mau kehilangan gadis kecilnya lagi.


Aku pun sama sepertinya.


Aku tidak bisa membayangkan jika harus berpisah kembali dengan gadis kecil ini.


Kuusap lembut puncak kepala Arra dan kucium pelan punggung tangan kirinya yang sedari tadi sudah dalam genggamanku.


"Arra, cepet bangun dong! Kami udah nggak sabar pengen ngobrol panjang lebar nih sama kamu. Kakak pengen tahu semasa kamu kecil, kamu sukanya makan apa, sukanya main apa, dan suka jalan-jalan kemana?" tanyaku lirih dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku.


Bunda Amanda malah semakin terisak mendengar semua perkataanku yang aku tujukan untuk Adik kesayanganku ini.


Sedari tadi Bunda hanya diam saja sambil terus memeluk erat tangan Arra tanpa suara sedikit pun.


Sepertinya dia masih belum percaya bahwa kami sudah berhasil menemukan Arrabella kesayangannya.


Kuraih salah satu tangan Bundaku.


"Bunda, bicaralah. Jangan diem aja! Ini bukan mimpi kok, ini kenyataan," yakinku padanya.


Namun Bunda hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak mau bersuara.


To be continued.


***

__ADS_1


__ADS_2