
Viona dan Saga sudah masuk ke dalam ruangan kamar mandi. Namun pemuda itu tiba-tiba melepaskan kepala Viona yang sedari tadi dia tarik ke ruangan ini.
Bukan tanpa sebab Saga melepaskan kepala Viona karena ponsel yang ada di sakunya berdering dengan nada dering yang khusus disetel untuk nomor Sekretaris Ken.
Buru-buru Saga meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Sedangkan Viona hanya bisa melihat dengan pandangan yang bingung.
"Halo, Ken," sapa Saga.
"Tuan, Bundaku menghilang," ucap Sekretaris Ken yang langsung pada topik utama.
"Apa?! Kok bisa kayak gitu?" tanya Saga yang saat ini mulai memutar kursi rodanya untuk keluar dari ruangan ini.
Viona pun membuntuti Sagara dari belakang.
"Pintu rumah lupa dikunci sama Bibi ART di rumahku dan gitulah," cakap Sekretaris Ken pasrah.
"Kalau gitu aku akan segera menyusulmu dan ikut membantu mencari Bundamu."
"Jangan! Saat ini aku menelepon hanya untuk memberi kabar saja bahwa hari ini aku akan cuti seharian."
"Baiklah kalau begitu."
"Semua file sudah aku kirimkan ke email anda, Tuan. Anda tinggal memeriksanya saja."
"Terimakasih banyak, Ken."
"Sama-sama, Tuan."
Setelah panggilan telepon berakhir Viona mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Suamiku, ada masalah apa?" tanya Viona dengan raut wajah yang khawatir.
"Bundanya Kenzo menghilang dari rumah."
"Ya ampun, kasian banget Kakak Kenzo."
"Kalau kamu kasian, cepet sana mandi! Biar aku bisa cepet-cepet bantuin Kenzo."
"Hubungannya sih apa? Kayaknya nggak nyambung deh suamiku?" tanya Viona dengan kening berkerut.
"Dijelasin juga kamu kagak bakalan ngerti. Udah sana huss huss huss, cepet mandi!" usir Saga dengan gerakan tangannya.
"Iya, iya, iya," jawab Viona dengan senyum yang mengembang.
Saga meminta Viona untuk cepat mandi agar dirinya bisa segera mengantarkan gadis itu ke tempat sekolahnya.
Sebenarnya bisa saja Saga memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Viona ke sekolah, tapi entah kenapa, lelaki itu ingin mengantar gadis itu sendiri.
Jika Viona sudah diantar ke sekolah, Saga tinggal fokus mengerjakan semua pekerjaan di kantornya dan dia berniat untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat hari ini, agar dia bisa ikut membantu mencari Bundanya Kenzo yang sedang menghilang.
__ADS_1
Saga sebenarnya sangat kesal dengan kondisinya saat ini yang sedang berpura-pura lumpuh karena hal ini membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas dalam mengerjakan semua pekerjaannya.
Ingin rasanya rapat direksi tahun ini segera dilaksanakan agar dia bisa terbebas dari semua kepura-puraan ini.
***
Di lain tempat, Yunita yang telah rapi dengan pakaian santainya segera bergegas ke halaman belakang sembari menarik-narik tubuh Ayahnya.
"Ayolah, Beh! Cepet buatin Ayam-Ayam itu kandang yang bagus," paksa Yunita kepada Ayahnya.
"Teh, Babeh udah nanya sama Tama soal Ayam-Ayam itu. Kata Tama, Ayam itu tuh untuk dimasak, bukan untuk dipelihara."
"Peduli amat sama omongan dia," sinis Yunita. "Pokoknya Teteh mau pelihara semua Ayam-Ayam itu. Teteh juga udah buatin cetak biru kandang Ayamnya."
"Kalau gitu minta para pekerja aja ya buat bangun kandangnya! Babeh lagi capek banget ini."
"Nggak, aku nggak mau kalau Ayam-Ayamku mendapatkan kandang asal-asalan. Aku mau mereka mendapatkan yang terbaik."
"Dikerjakan sama para pegawai lain juga hasilnya sempurna kok."
"Nggak! Pokoknya kalau semua hal yang menyangkut sama Tama nggak boleh disepelekan, eh," Yunita keceplosan.
"Cieee yang belum bisa move on dari mantan pacarnya," goda Tuan Batari.
"Siapa juga yang belum move on. Wong aku kok yang ninggalin dia," sahut Yunita sinis.
"Iyain aja lah," ucap Tuan Batari yang tidak mau membantah ucapan anaknya itu. "Oh iya, betewe si Tama udah punya gebetan baru lho," celetuk lelaki tua itu sedang mencoba memanasi anaknya.
"Iya, kemarin dia bilang kalau dia lagi naksir sama seseorang. Dia juga bilang kalau gadis itu manis banget dan ngegemesin."
Telapak tangan Yunita saat ini mengepal kuat karena tidak suka dengan berita ini.
"Aaaaa!" jerit Tuan Batari yang lengannya dicengkeram kuat oleh tangan kanan anak perempuannya itu. "Sakit, Teh," cakap lelaki tua itu seraya memukul lengan tangan anaknya agar melepaskan tangan lelaki tua itu.
"Hati aku juga sakit, Beh. Aku nggak terima kalau Tama punya wanita lain dihatinya selain aku," ucap Yunita kesal.
Yunita langsung berlari pergi masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya melepaskan lengan Ayahnya yang sudah memerah.
"Teh Yun, ini kandang Ayamnya gimana?!" teriak Tuan Batari menanyakan nasib kandang Ayam itu.
"Bodo amat!" seru Yunita yang saat ini sedang tergesa berjalan masuk ke dalam rumah.
Awan yang sudah siap untuk berangkat kerja ke kantor merasa aneh dengan sikap istrinya yang saat ini sedang menangis.
"Yun, kamu kenapa?" tanya Awan.
Namun Yunita tidak menghiraukannya dan tetap berjalan naik ke lantai atas.
Nyonya Sherina yang melihat kejadian itu segera berkomentar.
__ADS_1
"Udah biarin aja, Wan. Teh Yun memang suka kayak gitu. Palingan abis berantem sama si bandot tua itu. Biar Mama beri pelajaran tuh si bandot tua. Berani-beraninya buat nangis anak kesayangannya Mama," ucap Nyonya Sherina yang langsung berjalan cepat ke arah luar rumah ini.
Awan hanya melongo melihat kejadian ini.
"Semua anggota keluarga di rumah ini aneh semua," ucapnya sambil menepuk kening dengan tangannya.
Di halaman belakang, Tuan Batari sedang mempelajari cetak biru yang tadi dimaksud oleh Yunita.
"Aaaaa!" pekik Tuan Batari yang tiba-tiba rambut putihnya ditarik dari belakang oleh Nyonya Sherina.
"Tadi Teh Yun abis kamu apain, Beh? Kok dia nangis-nangis kayak cewek abis diputusin di drama-drama korea?"
"Nggak Babeh apa-apain, Ma," jawab Tuan Batari yang rambut putihnya masih ditarik oleh tangan Istrinya.
"Jangan bohong!"
"Babeh cuma bilang kalau Tama udah punya cewek lain."
"Udah tahu anaknya sensitif terhadap si Tama, eh masih nekat juga mau manasin si Teh Yun. Mama nggak terima ya kalau anak kesayangannya Mama sampai sakit. Kalau Teh Yun sampe sakit gara-gara ini, jatah Babeh selama tiga bulan penuh nggak bakalan Mama kasih."
"Yah, kok gitu sih, Ma," ucap Tuan Batari tidak terima.
"Salah sendiri rese banget jadi orang."
"Babeh kan cuma lagi iseng aja, Ma. Siapa tahu setelah diisengin kayak gitu, si Teh Yun sadar dan ceraikan suaminya yang sekarang dan balikan lagi sama si Tama."
"Dasar perusak rumah tangga anak kamu, Beh," maki Nyonya Sherina.
"Jangan pura-pura sok tidak tahu, Ma. Babeh tahu kok, diem-diem Mama juga tahu kebusukan yang ada di belakang menantu lelakimu itu."
"Huft," Nyonya Sherina menghela napas berat dan cengkraman tangannya di rambut suaminya mulai terlepas. "Jangan bahas lagi ya, Beh. Mama pusing," ucap Nyonya Sherina yang memilih untuk berjalan pergi meninggalkan suaminya.
"Dasar, giliran udah ke topik utama pasti langsung kabur," komen Tuan Batari.
Nyonya Sherina yang mendengar ucapan suaminya segera menimpali tanpa membalikkan badannya.
"Bodo," ucap Nyonya Sherina.
***
Di dalam kamar Yunita, wanita itu saat ini sedang menangis sambil memandang potret dirinya dan Tama yang ada di akun media sosial lelaki itu yang sampai saat ini belum dihapus oleh sang empunya.
Terlihat senyum lebar sang lelaki yang sedang memeluk wanita di depannya dengan wajah wanita itu yang hanya terlihat separuhnya saja karena terhalang kedua lengan lelaki itu.
Wanita itu adalah Yunita dan lelaki itu adalah Tama.
Meski area bagian bawah wajahnya tidak terlihat, namun dari bentuk kelopak matanya yang sedikit menyipit menandakan dengan sangat jelas bahwa Yunita juga sedang tersenyum lebar.
"Tam, kamu bilang kamu cintanya cuma sama aku? Kok sekarang kamu udah punya cewek lain?" tanya Yunita kepada layar di hadapannya itu.
__ADS_1
To be continued.
***