CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Dapat Kandang Lain


__ADS_3

"Aku harus bagaimana ini?" gumam Sagara sambil terus fokus melihat kebelahan bumi yang lain, eh, ralat, ralat, maksudnya belahan kembar milik Viona.


Salah satu telapak tangan Sagara mulai menutup kedua matanya agar tidak fokus ke arah belahan itu, namun satu persatu jari jemarinya mulai merenggang.


"Kok masih kelihatan aja sih itu belahannya" rutuk Sagara.


Bagaimana tidak kelihatan jika jari jemarinya saja merenggang tidak terkatup dengan rapat.


Sekarang giliran telapak tangan yang satunya ikut menindih tangan yang pertama.


"Aman," ucap Sagara lega karena belahan yang saat ini memporak-porandakan benteng pertahanan si Adik kecilnya sudah tidak terlihat lagi.


Tapi sungguh malang nasib pemuda tampan itu karena tubuhnya tidak bisa diajak bekerjasama.


Secara bertahap jari jemari tangan yang saat ini terkatup rapat mulai menyusul rekannya yang terdahulu dan merenggang satu persatu.


"Arrghhh, kenapa belahan itu terlihat lagi sih." kesal Sagara.


"Aku tidak boleh membiarkan ini terus berlarut-larut. Jika ada setan yang lewat dan aku tiba-tiba dibuat khilaf olehnya, bisa-bisa gadis jelek itu aku sikat habis."


"Masa iya seorang pengusaha muda yang setiap tahunnya masuk ke jajaran sepuluh teratas dalam ranking pria paling tampan se-Asia Tenggara meniduri gadis jelek. Bisa-bisa aku dikatain dan diolok-olok lagi -sama netijen julidah dan julidin seantero negara berkembang ini."


Sagara mulai bangkit dari posisi tidurnya dan mulai berjalan menuju ke pintu keluar. "Eh lupa,"


Syut!

__ADS_1


Lelaki itu mulai berbalik kembali ke arah belakang dan mengambil kursi rodanya.


"Tuh kan ... belum apa-apa aku udah mulai hilang ingatan. Kalau aku terus berlama-lama di sini bisa-bisa aku beneran khilaf lagi. Meski kekhilafan itu sesuatu yang er.... arghhh, aku mikir apa sih." pemuda itu mengacak-acak rambut pendeknya frustasi.


Sagara mulai keluar dari dalam ruang kamarnya menggunakan kursi roda dan dia langsung menuju ke kamar lainnya untuk beristirahat malam ini.


"Huft, bisa-bisanya aku dan adik kecilku kacau seperti ini, hanya karena belahan gadis jelek itu. Aku yakin sekali, gadis jelek itu pasti pakai guna-guna untuk menjeratku seperti cerita di novel-novel online ." ucap Sagara bersu'udzon.


"Alamak!" pemuda itu lagi-lagi dikagetkan dengan yang namanya belahan.


"Tuan Muda, kenapa Anda kaget seperti itu?" tanya Riri yang mengenakan lingerie terlampau seksi di dalam kamar ini.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sagara.


"Sama. Barusan aku juga disiksa oleh gadis jelek itu." timpal Sagara refleks.


"Disiksa apanya, Tuan? Apa dia memukulmu?"


"Bukan, bukan, bukan," geleng Sagara kuat-kuat.


"Lalu karena apa?" tanya Riri yang saat ini mulai berjalan mendekat ke arah Tuan Mudanya.


Gluk!


Sagara menelan air liurnya saat melihat keindahan tubuh Riri yang terpampang nyata di depannya saat ini.

__ADS_1


"Tuan, tolong jawab! Gadis itu menyiksa Tuan Muda seperti apa?" tuntut Riri.


"Sudah lupakan saja!" ucap Sagara mengakhiri perbincangan ini.


'Mana mungkin aku jujur kepada Riri bahwa Viona menyiksaku dengan tubuhnya yang arghhhh, kenapa menggoda sekali sih belahan milik gadis jelek itu.' batin Sagara.


Kursi roda yang diduduki oleh Sagara mulai didorong oleh Riri untuk mendekat ke arah ranjang tidur di kamar ini.


"Mari aku bantu, Tuan!" tawar Riri.


Sagara dibantu oleh Riri untuk berpindah ke atas ranjang.


Riri pun ikut naik ke atas kasur empuk itu dan langsung memeluk Sagara.


"Tuan, maafkan jika aku lancang menempati kamar ini. Aku hanya sedang menunggu Anda saja. Dan aku yakin Anda pasti akan datang ke kamar ini."


"Apakah hari adalah hari pertamamu?" tanya Sagara lirih.


"Iya," angguk Riri malu-malu.


"Tahun ini ... kamu ingin minta apa, Ri?"


"Aku hanya ingin mengulang kembali aktivitas kita di atas ranjang seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula aku sudah tidak ...,"


"Aku benar-benar minta maaf, Ri. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Tapi karena pengaruh dari alkohol yang aku minum sepuluh tahun yang lalu membuat diriku kehilangan kendali."

__ADS_1


__ADS_2