CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Viona Mulai Menunjukkan Taringnya


__ADS_3

Riri yang tidak suka kalau bantal tidur milik Tuan Mudanya diciumi oleh Viona segera mendekati sang pelaku.


Srett.


Bantal tidur itu langsung Riri rebut paksa dari pelukan Viona.


Viona yang tersentak kaget langsung membuka kedua matanya dan langsung menatap ke arah Riri.


"Kenapa Kakak ngerebut bantal itu dari Vio?" tanya Viona polos.


"Heh gadis jelek-"


"Makasih pujiannya Kakak." potong Viona menyela Riri yang sedang berbicara dengan wajahnya yang ceria.


"Heh, jangan potong perkataanku ya!" Riri semakin bertambah emosi.


"Ayo lanjutkan, Kak. Kakak tadi mau bilang apa?" sahut Viona lugu.


"Arghhh, sini kau! Cepat turun!" kali ini Riri mulai menarik tubuh Viona agar turun dari atas kasur empuk itu.

__ADS_1


"Aku nggak mau turun, Kak. Lepasin!" ronta Viona.


"Heh, kau itu gadis jelek. Jangan pernah bermimpi ya bisa tidur satu ranjang dengan Tuan Muda Saga." tutur Riri sembari menjambak rambut Viona dengan sangat keras. "Ayo cepat turun!" titah Riri penuh dengan nada emosi.


"Aaa, sakit, Kak." ucap Viona.


"Bodo amat." ketus Riri.


Rambut panjang Viona mulai ditarik sekuat tenaga oleh tangan Riri agar gadis muda itu turun dari atas kasur majikannya.


"Aaa, sakit Kak, aduh sakit, aaa," teriak Viona kesakitan.


Tubuh Viona mulai mengikuti tarikkan dari tangan Riri yang sedang memaksanya untuk turun dari atas kasur. Gadis itu terus mengikuti tarikkan itu supaya rasa sakit yang dia derita tidak terlalu parah.


Brukkk.


"Ugh," lenguh Viona yang saat ini tengah memeriksa sikut tangan dan lulut kakinya yang terbentur lumayan keras ke atas lantai.


"Heh," ucap Riri sambil menoyor kepala Viona, "kau itu gadis jelek, gadis bodoh, nggak pantes nikah sama Tuan Muda Saga. Meskipun saat ini Kamu adalah Istrinya Tuan Muda, tapi kau itu hanyalah sampah yang tidak berguna." hina Riri.

__ADS_1


Kaki kanan Riri saat ini mulai terayun untuk menendang Viona.


Grep.


Brukkk.


Secepat kilat, tangan Viona yang masih kesakitan segera menangkap kaki kanan Riri yang sedang terayun ke arahnya dan dengan sekuat tenaga menarik kaki Riri dan sang empunya kaki itu ikut terjatuh juga ke atas lantai marmer rumah ini.


"Dasar gadis s*alan!" umpat Riri yang saat ini merasakan sakit di sekujur tubuhnya. "Berani-beraninya kau melawanku!" teriak Riri yang kini sudah mulai terduduk. "Rasakan ini!" pekik Riri sambil mengayunkan tangan kanannya ke arah pipi medok Viona yang tertutupi make up tebal.


Syut.


Dengan kecepatan kilat, Viona menghindari tamparan wanita di depannya.


"Kau," geram Riri yang kini semakin terbakar emosi.


Riri segera berdiri dan mulai menerjang tubuh Viona yang masih terduduk di atas lantai.


Tubuh Viona saat ini sedang diduduki oleh Riri yang sudah mulai berancang-ancang untuk memukuli gadis itu yang sedang berada di dalam kendalinya.

__ADS_1


Riri yang sudah mulai melancarkan aksinya tiba-tiba diserang oleh tangan Viona yang kini mulai menjambak rambut Riri yang tergelung rapi dan membuat serangan wanita itu terhenti karena tangannya saat ini sedang sibuk melepaskan cengkraman tangan Viona dari rambut panjangnya.


Gelungan Riri telah rusak, bukan hanya itu saja, kali ini posisi sudah terbalik. Yang awalnya Viona menjadi target penyerangan, kini Riri lah yang akan menjadi target serangan dari tangan mulusnya Viona yang kekar dan bertenaga.


__ADS_2