CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Dirampas Paksa


__ADS_3

Nyonya Dania dan Saga sudah berpindah tempat.


Saat ini keduanya sedang duduk di dekat jendela kantor Saga sambil meminum teh hangat yang tadi diantarkan oleh salah satu Office Boy di perusahaan ini.


"Ma,"


"Hm,"


"Mama kok tahu kalau Saga kemarin sudah menikah? Tahu dari siapa?" tanya pemuda itu dengan pandangan menyelidik.


"Tahu dari temen yang datang ke resepsi pernikahan kamu," sahut Nyonya Dania enteng.


"Siapa?" kening Saga kini saling bertautan kerutannya.


"Rahasia," jawab Nyonya Dania sambil memelekan lidahnya ke arah Saga.


"Cih, sok rahasia-rahasiaan," gumam Saga tidak suka.


"Biarin." Nyonya Dania tidak peduli dan terus melanjutkan memakan snack yang ada di atas meja.


"Oh iya, besok kamu sama Arra datang ya ke rumah Mama," lanjut Nyonya Dania yang keceplosan bicara.


"Arra siapa, Ma?" tanya Saga tidak mengerti.


'Aduh, mampus aku. Kalau Saga curiga, bisa-bisa aku diomelin sama Kenzo, nih,' batin Nyonya Dania panik.


"Maksud Mama Viona," ralat Nyonya Dania. "Mama tadi kepleset lidah gara-gara keingetan drama di tivi, jadinya yang diinget nama para pemainnya,"


"Oh," angguk Sagara mengerti.


Saat Nyonya Dania akan keluar dari Rumah Sakit Citra Husada, Sekretaris Ken berhasil memberhentikan mobil wanita itu, dan akhirnya pemuda itu berhasil meminta Nyonya Dania agar tidak membocorkan rahasia tentang Viona kepada Sagara.


***


Di kediaman Abigail, Sekretaris Diana saat ini sedang berjalan memasuki rumah ini dengan segerombolan para preman yang merupakan anak buahnya Awan.


"Seret semua penghuni rumah ini!" titahnya tegas kepada para preman.


"Baik, Nona," angguk mereka patuh.


Para preman mulai berpencar dan orang rumah yang merupakan target mereka berjengit kaget karena kehadiran mereka yang tiba-tiba di rumah ini.


"Kalian siapa?" tanya Yunita takut-takut.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut Sang Preman.


Preman itu langsung tangan menarik Yunita yang saat ini sedang memberi makan ayam-ayam pemberian dari Kenzo.


"Lepasin!" ronta Yunita yang tidak mau diseret oleh mereka.


Pakan ayam yang dipegan oleh Yunita pun jatuh begitu saja ke atas rerumputan di taman belakang ini.


Brukk!


Kini ketiga orang yang merupakan pemilik rumah ini telah jatuh tersungkur di atas lantai marmer rumah ini.

__ADS_1


"Berani sekali kalian melakukan hal ini!" pekik Nyonya Sherina marah.


"Diam kamu!" teriak Sekretaris Diana yang tidak suka diteriaki.


"Kamu ini apa-apa sih? Kok tiba-tiba masuk ke rumah kami?" tanya Yunita yang kini telah berhasil bangun dari posisinya tadi.


"Aku apa-apaan? Hahaha," tawa Sekretaris Diana seperti orang gila.


"Heh Yun, asal kamu tahu saja, rumah ini itu sudah menjadi milikku," lanjut Sekretaris Diana menjelaskan.


"Jangan suka ngarang kamu, Di!" pekik Yunita yang tidak terima rumah ini diaku-aku oleh Diana.


"Kalau kamu tidak percaya, lihat salinan surat-surat berharga ini!" ucap Sekretaris Diana sambil melemparkan sebuah berkas ke arah Yunita.


Yunita dan kedua orang tuanya mulai mendekat dan bersama-sama membaca berkas-berkas itu.


"Tidak, ini semua pasti hanya rekayasa," tutur Yunita tidak percaya.


Yunita dan kedua orang tuanya merobek-robek kertas salinan itu hingga beberapa bagian.


"Silakan saja kalian robek kertas itu! Karena yang asli ada di sini, hahaha," tawa Sekretaris Diana yang saat ini sedang menggenggam semua berkas asli kepemilikan aset dan saham Tuan Batari.


Baik Nyonya Sherina dan Yunita berusaha untuk mendapatkan berkas asli itu dari tangan Sekretaris Diana, namun apa daya langkah mereka terjegal oleh tangan-tangan kekar para preman.


"Usir mereka semua!" titah Sekretaris Diana.


Detik itu juga para preman menarik ketiga orang itu dan menyeretnya ke arah luar rumah ini.


Brukk!


Yunita yang tahu bahwa ada suaminya di dalam mobil itu langsung menghadang mobil yang dinaiki oleh Awan.


"Mas Awan! Mas!"


Mobil putih itu berhasil berhenti tepat sebelum menabrak Yunita.


Kini Yunita berjalan mendekat ke arah jendela kaca mobil di samping Awan.


"Mas, buka Mas!" pintanya kalut.


Kaca jendela mobil itu terbuka dan menampilkan wajah Awan yang dingin.


"Apa?" ketus Awan yang tidak sudi melirik sedikit pun ke arah Yunita.


"Mas, rumah orang tuaku diambil alih oleh Sekretarismu," adu Yunita.


"Hanya itu?" tanya Awan dengan mimik wajah santainya.


Yunita terperangah melihat hal ini.


"Kenapa kamu santai sekali, Mas?" tanya Yunita tidak percaya.


"Sebenarnya akulah yang memberikan rumah itu untuk Diana,"


"Apa?!" pekik Yunita kaget. "Kenapa kamu melakukan hal itu, Mas?" tanya Yunita yang saat ini sudah mulai meraih kerah leher Awan dari luar mobil.

__ADS_1


Dengan mudahnya Awan bisa melepaskan diri dari cengkeraman tangan istrinya itu.


"Karena aku mencintainya," jawab Awan simpel.


Yunita terperangah dan seisi dunianya serasa runtuh menimpa tubuh mungilnya.


"Besok aku akan mengajukan surat gugatan cerai untukmu, jadi bersiap-siaplah dan jangan kaget!!"


Yunita tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa berdiam diri sambil terbengong setelah tahu kenyataan yang ada.


"Jalan, Pak!" pinta Awan kepada supir mobilnya.


Nyonya Sherina yang tahu bahwa Yunita sedang terpukul berusaha menguatkan anak perempuannya itu dengan pelukan hangatnya.


"Yang sabar ya, Nak! Mama yakin kamu bisa melalui hal ini dengan mudah,"


Yunita tidak bisa menjawab perkataan Ibunya, yang dia lakukan saat ini hanya menangis sesenggukan.


***


Di dalam rumah keluarga Batari, Sekretaris Diana dan Awan saling berpelukan dan tertawa bahagia karena misinya kini telah sukses besar.


"Akhirnya kita berhasil merebut semua harta Tuan Batari sayang," ucap Sekretaris Diana.


"Kamu suka?"


"Tentu saja aku suka," angguk wanita itu yang kini mulai memeluk tubuh Awan.


"Makasih ya karena kamu sudah memberikan rumah ini untukku," lanjutnya.


"Buat kamu apa sih yang nggak," sahut Awan yang kini bibirnya mulai aktif di sekitar leher Sekretaris Diana.


"Jangan nakal ih!" ucap Sekretaris Diana manja. "Malu, di sini masih ada anak buah kamu,"


"Aku kangen kamu," bisik Awan yang tetap tidak peduli.


"Baru juga kemarin, kok sekarang mau lagi," Sekretaris Diana mencubit pinggang Awan.


"Abisnya kamu bikin nagih,"


"Dasar," kekeh Sekretaris Diana.


"Aw," pekik wanita itu yang kini sudah digendong ala bridal oleh Awan.


"Mas, malu ih," protes Sekretaris Diana yang sebenarnya mau mau kucing.


"Udah biarin aja,"


Kini Awan mulai menggendong Sekretaris Diana untuk menaiki satu demi satu anak tangga di rumah ini.


Sedangkan para preman bayaran mereka sedang mengawasi para pekerja dan sedang mengancam mereka semua agar tidak berbuat macam-macam kepada pemilik baru rumah ini, dan mereka semua harus patuh dengan semua perintah sang pemilik yang baru.


Para pekerja hanya bisa merunduk ketakutan karena para preman itu sangat menyeramkan.


To be continued.

__ADS_1


***


__ADS_2