CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Misi Pembebasan Viola


__ADS_3

Riri bergidik ngeri saat terbayang aura mengerikan yang terpancar dari Viona yang terkenal akan kejelekan dan kebodohannya.


Kini langkah wanita itu sudah hampir dekat dengan ruang kamarnya Sagara. Sebelum masuk ke dalam ruangan yang pintunya masih terbuka, dia sempatkan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu, sebagai bentuk kesopan-santunan yang telah dia pelajari sejak dia menginjakkan kedua kakinya di kediaman Tuan Bhumi Cakra saat dia masih remaja.


Riri adalah pelayan lawas di kediaman Tuan Bhumi Cakra dan ketika Tuan-nya meninggal dunia, dia ikut bersama Sagara karena dia memang dekat dengan laki-laki itu yang sekaligus adalah cinta pertamanya.


Riri disebut sebagai pelayan kesayangannya Sagara bukan tanpa alasan. Wanita itu memang kerap kali diistimewakan oleh Tuan Muda pemilik rumah ini. Jika wanita lain hanya memiliki satu kesempatan untuk menghangatkan ranjang tidurnya Sagara, maka lain ceritanya dengan Riri. Dia sudah beberapa kali bisa naik kembali ke atas ranjang tidurnya Tuan Mudanya itu.


Besar harapan Riri bisa menikah dengan Sagara, meski itu hanya sebuah pernikahan siri saja, dia tidak keberatan.


Pada saat dia tahu bahwa Sagara kecelakaan dan lumpuh kedua kakinya, Riri juga tidak mencemooh Sagara, malah keinginannya untuk menjadi istri resminya Sagara semakin kuat. Tapi sayang, dia tetaplah pelayan rendahan yang tidak akan mungkin bisa bersanding dengan Tuan Mudanya yang terhormat, sebab Tuan-nya kini sudah menikah dengan wanita lain.


"Nona Viona, ini bunga mawar pesanan Anda." ucap Riri sambil menyerahkan sekeranjang bunga mawar segar yang barusan dia petik di taman tengah rumah ini.

__ADS_1


"Makasih ya, Kakak." tutur Viona ceria.


Kini gadis lugu itu mulai mengambil bunga-bunga mawar merah itu dan memutikki setiap kelopaknya, lalu menebarnya di seluruh penjuru kamar ini. Beberapa tangkai bunga mawar dia biarkan tetap utuh dan memasukkannya ke dalam sebuah vas bunga untuk mempercantik ruangan ini.


"Nona Viona, saya pamit undur diri dulu ya! Ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu saya selesaikan." ucap Riri mencoba untuk segera melarikan diri dari Viona.


"Iya, Kak. Silakan aja kalau mau melanjutkan kerjaan Kakak yang lain." sahut Viona santai.


Riri segera undur diri dan meninggalkan ruangan kamar ini dengan senyum misteriusnya.


'Jika aku tidak bisa menindasmu dengan tanganku sendiri, maka aku akan meminjam tangan orang lain untuk menyiksamu.'


Riri mulai berjalan menjauhi Viona dan mulai melanjutkan pekerjaannya kembali yang ternyata hanya bualan semata.

__ADS_1


Gadis itu tidak pernah mengerjakan pekerjaan pelayan di rumah ini. Dia hanya sok nge-bossy, yang suka memerintah ini itu kepada pelayan lainnya yang tingkatannya jauh berada di bawahnya.


Kehidupan pelayan di rumah ini juga tidak kalah sengitnya dengan persaingan di dunia kerja lainnya.


Semua orang yang memiliki wajah yang rupawan akan selalu lebih diistimewakan oleh para atasannya. Tidak butuh keahlian yang mumpuni, asal mereka mau naik ke atas ranjang para majikannya, maka jabatan yang tinggi pun bisa mereka raih dengan mudah.


Sungguh mirisnya dunia jaman sekarang.


***


Di tempat penyekapan Viola.


Saat ini para penjahat tengah membawa Viola ke sebuah mobil untuk dibawa ke lokasi pelepasan gadis itu.

__ADS_1


"Cepet bangun!" bentak salah satu penjahat.


Viola yang memang sudah dalam keadaan yang lemas sedikit kesusahan untuk bangun dari posisi duduknya saat ini.


__ADS_2