CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Aku Boleh Minta Nambah Kan, Yank?


__ADS_3

"Itu masalah gampang, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu." ucap Awan menyanggupi segala permintaan Sekretaris-nya.


"Oh iya, bukannya nanti malam kamu harus merayakan acara ulang tahunnya Yunita. Cepat sana, kamu pulang ke rumahmu! Kamu kan harus segera bersiap-siap juga untuk acara yang spesial."


"Ssstt," jari telunjuk Awan membungkam bibir Sekretaris Diana. "Kamu jangan ngomong gitu, Yank. Bagiku nggak ada yang lebih spesial dibandingkan dengan kamu."


"Masa?" tanya Sekretaris Diana tidak percaya.


"Sumpah, Yank." jawab Awan cepat sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


Sekretaris Diana mulai menghentikan aktivitasnya dan kini wanita itu mulai menghadap ke arah Awan. "Tapi aku ngerasanya Yunita tetap yang paling spesial bagi kamu, Yank." ucap Sekretaris Diana yang kini mulai meraba dada bidang milik Awan.


"Tapi bagi aku, Yunita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu, Sayang." timpal Awan yang kini mulai merengkuh tubuh wanita di depannya dan sesekali mengec*pi leher putihnya Diana.


"Tapi bagi aku, Yunita tetap yang paling istimewa," Sekretaris Diana mendorong tubuh Awan agar lelaki itu bisa bertatap muka dengannya, "sebab dia adalah istrimu. Mungkin akan lain ceritanya kalau aku juga menjadi Istrimu dan hanya aku satu-satunya wanita yang mendapatkan gelar Nyonya Awan Bhumi Saputra." lanjut Sekretaris Diana yang kini kepalanya telah menempel di dada bidang milik Awan.

__ADS_1


Kedua tangan Awan pun mulai melingkari tubuh Sekretaris-nya. "Apa ini kode darimu? yang sebenarnya menginginkan aku menikahimu dan menceraikan Yunita, hm?"


"Seperti yang kau sangka, Yank." jawab Sekretaris Diana cepat dan sekilas bibir wanita itu juga mengec*p lehernya Awan.


"Itu masalah mudah. Tunggulah beberapa saat lagi! Jika semua harta yang dimiliki oleh Yunita telah berhasil aku dapatkan, maka keinginanmu akan segera tercapai. Kita akan menikah dengan pesta yang sangat meriah." janji Awan. "Tapi, puaskan aku terlebih dahulu siang ini." bisik Awan.


Sekretaris Diana langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh laki-laki di hadapannya dan bukkk, tangan cantiknya memukul pelan paha lelaki itu. "Kamu masih belum puas dengan permainan kita sewaktu di motel, hah?"


"Tubuhmu itu bagaikan candu bagiku, Sayang. Aku selalu ketagihan setiap waktu." bisik Awan yang kini mulai menurunkan ret sleting milik Sekretaris Diana


"Tanganku nggak nakal kok, Sayang." jawab Awan pura-pura polos.


"Iya, nggak nakal, tapi terlalu agresif." ucap Sekretaris Diana sambil memutar malas kedua bola matanya.


"Boleh kan kalau aku minta nambah, Yank?" pinta Awan dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah, sesuai permintaanmu, lakukanlah apa yang kamu mau, Mas." sahut Sekretaris Diana pada akhirnya.


"Aw," pekik Sekretaris Diana yang kaget saat tubuhnya diterkam oleh laki-laki di hadapannya dan membuat tubuhnya terbaring di atas permukaan jok sofa.


Gaun dan pakaian yang dikenakan oleh kedua anak manusia itu mulai berserakan di sekitar sofa mahal di ruangan ini dan terjadilah pergulatan seperti tadi pagi di atas sofa itu.


***


Di rumahnya Sagara, Viona saat ini tengah menaburkan kelopak-kelopak bunga mawar yang merah merona di atas ranjang tidurnya Sagara.


"Nona, apakah bunganya masih kurang?" tanya seorang pelayan yang keadaannya saat ini sangat berantakan seperti orang yang habis selesai bergulat.


"Iya, masih kurang." jawab Viona dengan senyum cerianya.


***

__ADS_1


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.


__ADS_2