
Sesuap makanan sudah masuk ke dalam mulut Saga dan setelah beberapa saat mengunyah makanan itu, Saga terisak.
Viona panik saat melihat Sagara terisak.
"Suamiku, kamu tidak apa-apa kan? Kalau makanannya tidak enak jangan dipaksakan untuk makan! Sini muntahin aja makanannya ke tangan Vio!" perintah gadis itu yang sudah siap sedia menangkupkan kedua tangannya untuk menampung muntahan Saga.
Saga tidak mempedulikan tangan Viona yang sedang berada di hadapannya, tangis lelaki itu semakin deras.
"Suamiku, jangan bikin Vio khawatir dong!" rengek gadis itu yang saat ini sudah membungkukkan badannya untuk melihat keadaan Saga yang kepalanya sedang tertunduk.
Makanan dalam mulut Saga sudah lelaki itu telan. Tangan kanannya pun berusaha mengambil tissue yang ada di tengah meja.
Viona yang tahu Saga sedang kesulitan mengambil tissue segera mengulurkan tangannya untuk membantu Suaminya dalam mengambil tissue-tissue itu, dan dia langsung menyerahkan beberapa lembar tissue yang sudah berhasil dia ambil ke arah Saga.
Saga menerima uluran tissue itu dan mulai melap air mata dan sedikit ingus yang mulai keluar.
Pak Jang dan anaknya Usep sudah menghalau semua pelayan dari ruang dapur dan ruang makan ini, karena Saga tidak suka jika saat emosinya tidak terkontrol dilihat oleh para bawahannya.
"Masakan Vio kepedesan ya, Suamiku?" tanya Viona yang saat ini sedang sangat khawatir.
Saga hanya menggeleng saja, namun lelaki itu tidak mau bersuara. Malah tangannya kini mulai menyendok kembali sesuap makanan di atas piringnya ke dalam mulutnya yang diiringi dengan isak tangis yang terus berlanjut kencang.
Viona hanya bisa garuk-garuk kepalanya saja yang tidak gatal saat melihat peristiwa itu. Gadis itu bingung mau melakukan apa.
Saga menangis bukan karena masakan itu tidak enak, tapi, rasa masakan Viona mengingatkannya pada masakan almarhum neneknya dulu yang sering memasakkan makanan sederhana untuk keluarga kecil mereka.
Meski Saga masih kecil, tapi dia ingat betul betapa harmonis dan hangatnya keluarga mereka dulu saat neneknya masih ada di dunia ini.
Saga menangis karena teringat kenangan indah itu. Kenangan yang tidak akan mungkin bisa terulang kembali di masa mendatang.
Keluarga kecil mereka sudah hancur lebur setelah setahun ditinggal pergi oleh mendiang Nyonya Yeyen.
Saga yang masih berlinang air mata, mulai melihat ke arah Pak Jang, "Pak Jang, silakan Anda coba masakannya Vio!" pinta pemuda itu kepada kepala pelayan di rumah ini.
Gluk!
Pak Jang meneguk ludahnya sendiri karena takut rasa makanan yang Viona masak akan merusak indera pengecapnya.
"Silakan, Pak!" ucap Saga mulai menarik kursi di sebelahnya.
Dengan berat hati, Pak Jang mulai duduk di atas kursi yang Saga siapkan.
Dengan ragu-ragu, tangan yang mulai keriput itu mengambil nasi dan oseng kangkung di atas meja ini.
"Ayo dimakan, Pak!" tutur Saga yang saat ini sedang menghapus air mata di kelopak matanya.
"Baik, Tuan,"
Pak Jang yang takut dengan rasa mengerikan dari makanan itu langsung memasukkan sesendok makanan dengan cepat ke arah mulutnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Belum ada reaksi karena Pak Jang belum mengunyahnya. Saat lidah lelaki tua itu merasakan bahwa makanan di dalam mulutnya baik-baik saja, dia mulai mengunyahnya.
__ADS_1
Deg!
Pak Jang langsung mengenali rasa masakan ini yang mirip dengan masakan yang sering dibuat oleh Ibunya Tuan Bhumi sewaktu beliau masih hidup.
"Nyonya Yeyen," gumam Pak Jang menyebut nama mendiang wanita yang sangat dia hormati.
Kini di ruangan ini bukan hanya Saga saja yang menangis, tapi Pak Jang juga menangis bersama lelaki muda itu.
Viona semakin bingung dengan reaksi kedua lelaki itu, meski mereka menangis setelah mencicipi masakan buatanya, tapi kedua tangan mereka tidak berhenti menyendok makanan di atas piring mereka ke arah mulut mereka, yang bisa Viona lakukan saat ini hanya berdo'a saja, semoga mereka berdua yang sudah memakan masakannya baik-baik saja.
Usep yang sudah selesai membakar ubi pesanan Viona segera meletakkan makanan itu ke atas meja makan.
"Nona Vio, ini ubi bakar pesanan Anda."
Viona melihat ke arah Usep dan tersenyum manis, "Makasih, Kakak," ucap gadis itu riang.
"Sama-sama cantik," timpal Usep yang juga tersenyum ramah ke arah gadis itu.
Kedua mata Saga langsung mendelik ke arah Usep yang baru saja memuji Viona dengan sebutan cantik.
Entah kenapa setelah memakan masakan Viona, setitik rasa cinta mulai tumbuh di hati Saga dan membuat dia tidak rela jika ada laki-laki lain yang memuji Viona.
Tangis Saga yang sedari tadi mengalir, kini seketika mereda saat melihat Usep membantu Viona membuka bungkusan berwarna silver yang membungkus ubi singkong yang ada di piring Viona.
Usep juga terlihat sangat senang saat menjawab semua pertanyaan Viona yang penuh dengan keingintahuan.
"Usep," panggil Saga kepada pelayan itu.
Usep menengok ke arah Sagara, "Iya, Tuan," sahutnya.
"Kelasku diundur, Tuan. Dosennya hari ini tidak masuk ke kampus," jawab Usep.
"Kalau begitu tolong siapkan perlengkapanku hari ini!" titah Saga yang sedang berusaha mengusir Usep dari sekitar Viona.
"Baik, Tuan," angguk Usep patuh.
Usep yang akan pergi dari tempat itu segera ditahan oleh Viona.
"Kakak, jangan dulu pergi! Ubi manisnya kan belum dibuka semua bungkusannya," rajuk Viona manja.
"Biar aku aja yang buka!" sergah Saga yang mendahului perkataan Usep. "Kamu boleh pergi sekarang, Sep!" usir Saga dengan gerakan tangan seperti menggebah-gebah pelan.
"Baik, Tuan," angguk Usep yang kini mulai undur diri dan meninggalkan tempat ini.
Viona yang melihat tangis Saga sudah mereda mulai mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata lelaki itu yang masih menempel di salah satu pipi Saga.
"Suamiku, kamu udah baik-baik aja kan sekarang?" tanya Viona seraya menghapus air mata di pipi Saga.
Saga memegangi tangan Viona dan mengangguk pelan, "Aku baik-baik aja kok," ucapnya.
"Syukurlah," ucap Viona lega. "Vio kira tadi Suamiku keracunan masakan perdananya Vio."
"Nggak kok," geleng Sagara kuat-kuat. "Masakan kamu nggak ngeracunin aku kok. Malahan enak banget rasanya," puji Saga tulus.
"Iyakah?" tanya Viona antusias.
"Hu'um," angguk Saga mantap.
__ADS_1
"Yeay!" sorak Viona senang.
"Makasih ya, udah masakin makanan seenak itu buat aku."
"Sama-sama, Suamiku." angguk Viona berkali-kali dengan kecepatan yang tinggi.
Saat ini Viona melihat tangannya sendiri dan menatapnya dengan takjub.
"Tangan Vio memang ajaib," ucapnya seraya memeluk tangannya sendiri.
***
Di rumah biru, Viola sudah bangun dari tidurnya, dan saat ini gadis cantik itu sedang menikmati makanan yang dihidangkan oleh ART di rumah ini.
"Bi," panggil Viola.
"Iya, Nona," sahut ART itu seraya mendekat ke arah Viola.
"Tuan Muda Saga kemana ya? Kok nggak kelihatan di rumah ini?" tanya gadis itu penasaran.
"Biasanya Tuan Muda Saga datang ke rumah ini siang hari atau sore hari. Nggak tentu juga sih, tapi minimal tiap tiga hari sekali pasti datang berkunjung ke rumah ini." papar ART itu.
"Oh," Viola menggangguk mengerti.
"Berarti rumah ini bukan rumah utamanya Tuan Muda Saga ya?"
"Sepertinya bukan, Nona,"
"Makasih ya infonya, Bi,"
"Iya, Nona, sama-sama."
Setelah menjawab semua pertanyaan Viola, ART itu segera melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Wah, rumah semewah ini saja bukan rumah utama. Kira-kira rumah utama Tuan Muda Saga semewah apa ya?" gumam Viola bertanya-tanya.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikah dengan lelaki itu. Sudah ganteng, kaya raya, tubuhnya sempurna lagi," ucap Viola membayangkan dirinya menjadi Nyonya Sagara.
"Pokoknya setelah aku kembali ke rumah orang tuaku, aku harus mendesak mereka untuk memaksa Tuan Muda Saga menikahiku kembali."
To be continued.
***
Makasih buat Teteh Nur yang udah kasih egip buat Vio dan Saga.
Kedua mata otor langsung berbinar-binar liatnya.
Cuan, cuan, cuan, wkwk.
Oh iya, kenapa cerita ini baru up karena otor tuh sengaja, biar banyak yang komen di bab kemaren 😂
Abisnya seneng baca-baca komenan kalian semua😘
***
Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.
__ADS_1