CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Luapan Emosi Awan Dan Diana


__ADS_3

Sekretaris Ken dan Sagara sudah berada di tempat parkir, begitu pula dengan Yunita, wanita itu ternyata sudah berada di tempat yang sama pula.


"Apa kau lihat-lihat?" ketus Yunita kepada Sekretaris Ken yang tidak sengaja melihat ke arahnya.


Sekretaris Ken hanya membuang wajahnya saja ke arah lain dan tidak ada keinginan sedikit pun untuk meladeni Yunita.


"Tuan, tolong pegangan kuat-kuat ke tubuhku!" pinta Sekretaris Ken kepada Sagara. Saat ini laki-laki itu ingin memindahkan tubuh Sagara ke dalam mobil.


Sagara pun menurutinya dan dengan mudahnya Sekretaris Ken bisa mengangkat tubuh Tuan Mudanya hanya dalam sekali coba.


"Wow, kuat banget." gumam Yunita yang masih memperhatikan kedua laki-laki itu dari balik kaca hitam mobilnya.


"Terimakasih, Ken." ucap Sagara.


"Sama-sama, Tuan."


Kini Sekretaris Ken segera melipat kursi roda Tuan Mudanya dan memasukkan kursi roda itu ke dalam bagasi mobil ini dan disusul dengan masuknya dia ke dalam mobil di bagian kursi kemudi.


"Sekarang kita akan ke markas dulu kan, Tuan Muda?"

__ADS_1


"Iya, Ken. Aku ingin bebas berdiri dan berjalan-jalan tanpa risau terpergok siapapun."


"Baik, Tuan Muda."


Mobil yang dikendarai oleh Sekretaris Ken mulai melesat meninggalkan tempat parkir gedung B ini dan mobil Yunita juga membuntuti dari belakang dan ketika di persimpangan barulah mereka mengambil arah yang berbeda.


***


Di tempat lain, Awan sedang mengomeli para anak buahnya ditemani oleh Sekretaris Diana.


"Kalian semua bodoh ya?!" bentak Awan.


"Maafkan kami, Tuan." jawab mereka dengan kepala yang tertunduk.


"Maafkan kami, Nona."


"Huh," dengus Sekretaris Diana, "maaf kalian tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula."


Para preman itu hanya bisa menunduk.

__ADS_1


"Sudah kalian jangan nunduk begitu terus. Untuk masalah uang tebusan, kalian tidak usah mengharapkannya lagi. Urungkan niat kalian!"


"Baik, Nona. Tapi kalau boleh tahu kenapa ya, Nona?"


"Huh," lagi-lagi Diana mendengus, "jadi penjahat pinteran dikit dong! Kalian sudah tahu kan kalau Sagara tahu perihal penculikan ini. Sudah pasti dia yang akan turun tangan dalam membebaskan Viola. Jika pada saat barter, kalian sudah dikepung oleh para antek-anteknya Sagara, kalian akan tamat."


"Tapi kita kan masih punya para Adik yang telah berhasil menyusup ke barisannya Tuan Muda Saga, Nona. Kami masih bisa lolos dengan bantuan mereka."


"Bodoh! Kalian memang benar-benar bodoh!" bentak Sekretaris Diana. "Tuan, tolong kamu kasih penjelasan ke anak buahmu itu. Aku benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Aku tidak mau kalau emosiku mengganggu kesehatan kulitku." ucap wanita itu yang kini mulai memegangi wajahnya yang takut berkeriput.


"Baiklah." angguk Awan.


Laki-laki itu mulai kembali berdiri dan menghampiri para anak buahnya.


"Apa kalian akan menggunakan jasa para Adik yang sudah susah payah menyusup ke dalam barisan-nya Sagara untuk membebaskan kalian, hah?" tanya Awan dengan nada bicara yang santai namun begitu menusuk.


"Niatnya begitu, Tuan." cicit para preman itu.


"Bodoh. Kalian memang benar-benar bodoh." umpat Awan. "Jika kalian meminta bantuan para Adik, maka penyamaran mereka akan terbongkar, bodoh!" bentak Awan. "Sagara akan langsung tahu bahwa di dalam barisan-nya ada para musuh-musuh dalam selimut." jelas Awan.

__ADS_1


***


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.


__ADS_2