CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Satu Teriakan Sama Dengan Satu Peluru


__ADS_3

"Aku pulang dulu ya, Di." pamit Awan yang kini sedang mencium kening Sekretarisnya itu yang masih belum berpakaian.


"Hati-hati di jalan!"


"Iya," angguk Awan. "Kamu juga nanti pulangnya hati-hati ya!"


"Iya," angguk Sekretaris Diana.


Awan mulai pergi meninggalkan kekasih gelapnya di markas ini seorang diri. Sepeninggal Awan, Sekretaris Diana mulai menghempaskan tubuhnya ke permukaan sofa.


Tangan perempuan cantik itu mulai meraih ponsel pintarnya dan membuka sebuah folder rahasia yang ada di hapenya.


Jemari yang lentik mulai mengusap-usap sebuah potret di layar ponselnya.


"Ga, andai kamu nggak kejam kayak gitu, aku nggak bakalan nyakitin kamu sampai segitunya." gumam Sekretaris Diana yang saat ini sedang memandangi sebuah foto antara dirinya dan Sagara yang sedang saling tertawa sambil berpelukan.


Diana mulai menggulirkan layar hapenya dan kini potret berganti. Kali ini bukan hanya Diana dan Sagara saja, tapi ada Sekretaris Ken juga yang ikut berfoto dan tertawa bersama di dalam potret itu.


"Aku kangen masa-masa kita pas kayak gini, Ga, Ken."

__ADS_1


Terkadang Sekretaris Diana merindukan masa-masa di saat dia dan kedua laki-laki itu berteman akrab. Dia juga kangen dengan kemesraannya dulu dengan Sagara yang sempat terjalin beberapa tahun meski tanpa ada status yang jelas.


Diana pikir, hubungannya dengan Sagara bisa berlanjut ke jenjang selanjutnya, namun dia salah, ternyata laki-laki itu tidak pernah berpikiran untuk menikahinya, bahkan untuk menjadikannya kekasih pun dia tidak sudi.


"Huft," Sekretaris Diana menghela napas lelahnya dan kini mulai meletakkan hape itu kembali di atas meja.


***


Di tempat lain.


Sagara dan Sekretaris Ken masih dalam perjalanan menuju ke jalan aspal hutan kota A.


"Ken, tadi kamu minta tolong sama siapa?" tanya Sagara penasaran.


"Iya, aku tahu. Tapi maksudku Boss Chen itu orangnya seperti apa? Kenapa kamu malah minta bantuan sama dia?"


"Dia itu salah satu dari pemimpin Mafia terbesar di negeri ini, Tuan. Kelompok Mafianya kebetulan adalah lawan dari Kelompok Mafianya Black Devil."


"Jangan bilang kalau Boss Chen itu si Cakar Hitam?"

__ADS_1


"Dia memang si Cakar Hitam."


"Kok kamu bisa kenal? Aku aja belum pernah ketemuan sama dia. Setiap ada proyek, dia selalu ngirim anak buahnya aja."


"Ayahku temennya Boss Chen. Jadi wajar aja kalau aku kenal sama beliau."


"Kapan-kapan perkenalkan aku dengan Boss Chen dong, Ken! Masa aku seorang CEO Samudra Group nggak kenal sih sama si Cakar Hitam yang terkenal itu."


"Iya, Tuan. Kapan-kapan aku kenalkan ya sama beliau."


"Jangan sampai kelupaan lho!"


"Iya, Tuan." angguk Sekretaris Ken. "Oh iya, pasukan Elang gimana, Tuan? Udah berangkat belum?"


"Udah. Mereka lagi otewe. Mudah-mudahan mereka bisa menemukan Viola sebelum Black Devil lewat."


"Mudah-mudahan ya, Tuan."


***

__ADS_1


Di jalanan aspal hutan kota A. Viola saat ini sedang berjalan terseok-seok seorang diri mencari jalan keluar dari hutan itu. Dia belum pernah melewati jalan ini karena gadis itu lebih sering menggunakan jalan baru.


Tapi untunglah berkat kepintarannya, Viola tahu dia harus mengambil arah yang mana agar bisa sampai di kota A kembali atau setidaknya bisa sampai ke jalan besar yang dilalui oleh banyak kendaraan sehingga dia bisa naik kendaraan umum agar bisa kembali ke rumah orang tuanya.


__ADS_2