
Acara pesta ulang tahun Yunita sudah berakhir sepuluh menit yang lalu. Semua tamu undangan sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Yunita saat ini sedang duduk di atas jok sofa yang di depannya terdapat kado yang menumpuk dengan ukuran yang beraneka ragam.
"Kamu capek banget ya, Sayang?" tanya Awan yang saat ini ikut nimbrung duduk bersama dengan Istrinya.
Pria itu juga menyodorkan segelas minuman orange jus kepada Yunita yang langsung ditenggak habis oleh wanita itu.
"Kok kamu tahu sih Yank, kalau aku sedang haus?" tanya Yunita yang saat ini tengah mengelap sisa-sisa air minum yang menempel di sekitar mulutnya dengan tissue.
"Tahu dong. Aku kan suamimu."
"Oh iya, maaf banget ya karna aku ngundang Mama sama Om Surya ke pesta ulang tahun ini."
"It's okay. Aku ngerti kok. Kamu dan kedua orang tuamu pasti akan merasa tidak enak jika tidak mengundang mereka."
"Tapi pesta ulang tahun kali ini -aku kurang menikmatinya. Terlalu banyak tamu yang datang. Aku lebih suka acara ulang tahun yang sebelum-sebelumnya, yang dihadiri oleh orang terdekatku saja. Meski jumlahnya tidak banyak, tapi aku merasa sangat nyaman." curhat Yunita.
Saat ini tubuh wanita itu sudah menyender ke tubuh tegapnya Awan dan tangan lelaki itu mulai merangkul pundak wanita di sampingnya.
"Pasti kamu ngerasa capek sekali ya ngeladenin para tamu satu persatu?"
"Iya, capek banget." angguk Yunita.
__ADS_1
Awan terkekeh mendengar keluhan istrinya. "Tapi seenggaknya ... tahun ini kamu dapet hadiah yang banyak tuh." tunjuk Awan dengan gerakan dagunya.
"Oh iya, aku penasaran sama kado-kado dari mereka semua." ucap wanita itu.
Yunita mulai bangkit dari posisinya saat ini dan berjalan mendekat ke arah tumpukan kado itu.
Kado-kado dari para tamu undangan memang tidak diserahkan secara langsung kepada Yunita, namun langsung disimpan di tempat penyimpanan khusus yang nantinya semua kado itu akan dibuka oleh Yunita.
Bungkusan kado itu mulai dibuka satu persatu. Semua barang yang Yunita dapatkan dari para tamu yang hadir rata-rata adalah barang branded.
Mulai dari tas Kremes, Jam Rileks, Topi Pocci, Sepatu Nuke, dan lain-lain.
"Wah, kadonya luar biasa semua ya." takjub Awan.
"Oh iya, aku belum ngasih kado nih ke kamu. Kamu maunya dikasih kado apa, Sayang?" tanya Awan yang kini mulai ikut duduk bersimpuh di atas karpet ruangan ini.
"Aku mau baby." jawab Yunita. "Kita bikin baby yuk malam ini! Siapa tahu di hari ulang tahunku, Tuhan memperkenankan kita memiliki buah hati yang akan mewarnai kehidupan rumah tangga kita."
"Apa pun keinginanmu, akan aku penuhi. Tapi ... malam ini aku terlalu lelah. Besok saja ya, mainnya."
"Tapi ... kalau besok kan bukan hari ulang tahunku lagi." Yunita mulai cemberut.
"Baiklah. Ayo kita segera ke kamar!" ajak Awan menggandeng tangan Yunita untuk naik ke lantai dua rumah ini.
__ADS_1
Saat mereka dalam perjalanan menuju ke lantai atas, mereka berpapasan dengan Nyonya Sherina yang sedang menuruni anak tangga rumah ini.
"Lho ... kok nggak diselesaikan buka kadonya, Teh?" tanya wanita itu.
"Buat besok lagi aja, Ma."
"Udah ngantuk ya? Atau ...," Nyonya Sherina yang peka dengan hal-hal yang berbau dua puluh satu plus langsung memainkan kedua alisnya.
"Hehehe, Yun mau usaha bareng sama Mas Awan, Ma."
"Uhuk," Nyonya Sherina batuk dibuat-buat. "Geber terus ya, Wan! Buat si Teteh melendung, okay." bisik perempuan itu ke telinga menantu laki-lakinya.
"Hehehe," Awan hanya bisa nyengir saja.
"Sudah ah, Yun mau naik ke tubuh Mas Awan dulu. Eh," Yunita salah bicara.
"Hahaha," Nyonya Sherina langsung tergelak mendengar penuturan anak perempuannya itu. "Tapi jangan direkam ya, Teh! Ntar jadi viral lagi ... mirip kayak video 15 detiknya Xissel."
"Ih, Mama. Mana mungkin Yun kayak gitu. Udah ah Yun mau naik dulu. Bye,"
"Bye bye juga, Teh." lambai Nyonya Sherina melepaskan kepergian anak perempuannya yang akan melaksanakan misi khusus malam ini.
Sesampainya di ruang kamar, tubuh Awan langsung dirobohkan oleh Yunita ke atas ranjang. Dalam sekejap pakaian yang sebelumnya mereka kenakan sudah berserakan di atas lantai kamar ini.
__ADS_1
Isi saku jas Awan juga berceceran di atas lantai dan beberapa obat bubuk yang terbungkus kertas dan dilapisi oleh plastik khusus keluar dari dalam saku jas itu.