CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Jepit Rambut Berdarah


__ADS_3

Keesokan harinya, Viona bangun subuh-subuh sekali dan dia tidak menemukan Sagara di samping tubuhnya.


"Suamiku kemana ya?" ucapnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Viona mulai menengok ke arah jam digital yang tersimpan di atas nakas dan angka sudah menunjukkan pukul lima lebih empat menit.


"Aduh, aku telat bangun." ucap Viona sambil menepuk keningnya sendiri.


Gadis itu mulai bangkit dari tidurnya dan langsung bergegas ke arah kamar mandi di ruangan ini.


Make up tebalnya kini sudah tersapu oleh air hangat yang keluar dari dalam kran dan dilanjutkan dengan cuci muka menggunakan facial foam ternama untuk mengangkat semua make up dan kotoran yang menempel di wajah gadis itu.


Kini wajah cantiknya sudah terlihat kembali. Beruntung sekali Viona meski wajahnya selalu tertutup oleh make up yang tebal, tapi keadaan kulitnya masih mulus dan sehat terawat.


Jerawat satu biji pun tidak ada yang berani menghampiri wajah Viona karena terlalu malu untuk nangkring di wajah mulus itu.


"Waduh, di sini nggak ada kran air buat wudlu ya?" ucap Viona yang saat ini kebingungan untuk mensucikan diri.

__ADS_1


Meski terkenal sebagai gadis yang bodoh, namun kenyataannya Viona ini masih secerdik sebelumnya. Buktinya, dalam waktu sekejap dia bisa beradaptasi.


Gadis itu mulai keluar dari dalam kamarnya dan mencari kran air di halaman luar rumah ini.


"Ketemu," serunya senang saat mendapati kran air di dekat taman tengah-tengah rumah ini.


Viona mulai berwudlu menggunakan air dari keran air itu setelah sebelumnya selang air yang menempel pada kran itu dia lepaskan terlebih dahulu.


Di ruang kamar Sagara, pemuda itu sampai pagi ini belum kunjung memejamkan kedua matanya karena jam tidur ngantuknya telah terlewat.


Pemuda itu mulai bangkit dari posisinya saat ini dengan keadaan kepala yang pening karena tidak tidur semalaman.


Jemari tangannya memijat-mijat keningnya untuk meredakan pusing yang melanda lelaki itu.


Sagara mulai membuka pintu kulkas kecil yang ada di samping dashboard ranjang tidurnya, lalu tangannya mulai mengambil satu botol air mineral dari dalam sana.


Gluk, gluk, gluk!

__ADS_1


Air dingin dari dalam botol mulai mengalir di dalam tenggorokan Sagara.


Setelah keadaan tubuhnya agak mendingan, Sagara mulai bangkit dari duduknya dan kedua kakinya melangkah ke arah balkon untuk melihat langit subuh yang sebentar lagi akan beraneka ragam warnanya.


"Masih gelap kebiru-biruan," ucap Sagara saat melihat langit masih didominasi oleh warna yang kelam.


Kali ini pandangan matanya Sagara mulai melihat ke arah bunga-bunga kesayangannya yang ada di taman tengah-tengah rumah ini.


Kedua mata lelaki itu mulai memicing saat menangkap sesosok gadis yang sedang berwudlu di dekat keran air yang biasa dipakai untuk menyiram tanaman-tanamannya.


"Siapa wanita itu? Berani sekali dia cuci muka di area tamanku." ucap Sagara marah.


Viona yang telah selesai berwudlu kini mulai menegakkan wajahnya dan seketika itu pula Sagara langsung tertegun melihat wajah aslinya yang tidak tertutup make up.


"Dia ...," gumam Sagara yang saat ini tidak bisa berkedip saat melihat ke arah Viona.


Sagara tidak mengenali Viona yang tanpa make up, ditambah lagi gaun tidur gadis itu saat ini sudah tertutupi oleh kimono berwarna biru, sehingga membuat Sagara benar-benar tidak mengenalinya.

__ADS_1


__ADS_2