CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Gara-Gara Teh Jadi Lieur (Selamat Berpusing-pusing )


__ADS_3

Semua preman hanya bisa menunduk dengan rasa penuh ketakutan.


"Apa kalian sudah mengerti apa maksud dari perkataanku hah?" tanya Awan.


"Mengerti, Tuan." cicit mereka semua.


"Kalian bilang apa hah? Aku tidak bisa mendengarnya,"


"Mengerti, Tuan!" ulang mereka dengan suara yang lantang.


"Bagus. Nanti sore kalian jangan datang ke tempat janjian yang sebelumnya. Turunkan saja gadis itu di sebuah tempat yang tidak terdapat satu pun CCTV di area sekitarnya."


"Baik, Tuan." sahut mereka patuh.


***


Di kediaman keluarga besar Abigail, Yunita sedang kebingungan mencari jejak suaminya yang ternyata tidak ada di rumah ini.


"Teh, Teteh lihat Mas Awan nggak?" tanya Yunita ke salah satu Asisten Rumah Tangga di rumahnya.


"Teu ningal, Teh." jawab ART itu.


"Aduh, Mas Awan kemana sih? Sudah tahu malam ini akan diadakan upacara besar di rumah ini untuk merayakan hari ulang tahunku, kok dia malah belum pulang juga sih. Huft," des*h Yunita kecewa.


"Tunggu saja, Teh Yun. Siapa tahu sebentar lagi Tuan Awan pulang. Toh acaranya juga masih lama kan, Teh."

__ADS_1


"Iya juga sih. Kalau gitu tolong buatin aku minuman saja, Teh."


"Baik, Teh Yun. Saya akan buatkan teh buat Teteh." angguknya patuh.


ART itu yang bernama Meida segera ngeloyor pergi menuju ke arah dapur.


"Teh, Teh, Teh, Teh!" seru Yunita mencegah kepergian Meida.


"Iya, Teh, mau nambah sama camilannya juga, Teh?" tanya Meida yang malah menawarkan camilan untuk majikannya.


"Bukan, Teh. Saya teh bukan mau dibikinin teh, Teh."


"Lho, bukannya tadi teh, Teh Yun minta dibuatin teh." ucap Meida sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siapa yang bilang, Teh? Saya nggak bilang gitu."


"Astaga," Yunita menepuk keningnya dengan telapak tangannya.


"Kenapa, Teh? Kok Teteh nyebut?" tanya Meida dengan raut wajah yang kebingungan.


"Aduh, Teh, saya teh lagi nyebut Teteh bukan minta dibuatin minuman teh, Teh." jelas Yunita.


"Hehehe, kirain teh, Teh Yun minta dibuatin minuman teh. Kalau gitu Teh Yun mau dibuatin minuman apa, Teh?"


"Kan saya teh sudah bilang nggak mau dibuatin minuman teh, Teh."

__ADS_1


"Haduh, maksud saya teh, Teh Yun mau dibuatin minuman apa?"


"Jus melon saja, Teh. Kasih serutan buah melonnya juga ya! Terus tambahin buah naga yang udah dihancurin, sama tambahin perasan jeruk peras yang asem ya, Teh. Tapi ingat jangan pakai teh ya, Teh."


"Wokeh, siap, Teh." jawab Meida dengan dua jempol yang dia acungkan.


"Sip. Kalau gitu saya tinggal dulu ya, Teh. Nanti minumannya anterin saja ke ruang kerja Babeh ya, Teh!"


"Wokeh,"


Baik Meida dan Yunita mulai berjalan menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing dan saat di anak tangga ke lima belas, Yunita berpapasan dengan Ayahnya, Tuan Batari.


"Kok kamu sendirian, Teh? Awan-nya kemana, Teh?" tanya Tuan Batari.


"Mas Awan nggak tahu kemana, Beh."


"Kok nggak tahu kemana sih? Bukannya tadi pas di acara pernikahan kalian bareng terus."


"Itu mah kan tadi, Beh. Beda lagi kalau sekarang. Tadi teh, Teteh ditinggalin sama Mas Awan. Dia lagi kiciwi berat kayaknya, Beh."


"Kiciwi kenapa, Teh?"


"Mana Teteh tahu, Beh. Nanti Babeh tanya langsung aja sama Mas Awan. Teteh mau ke ruang kerja Babeh dulu. Mau ketemu sama Kimoci yang unyu-unyu, mumpung masih banyak waktu."


***

__ADS_1


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.


__ADS_2