
Di lain tempat, Viola saat ini masih berdiam diri di rumah biru, padahal sang asisten rumah tangga di rumah ini sudah memberikan informasi tentang pesan Sagara untuk Viola.
Saat ini sang asisten rumah tangga yang semua ucapannya diabaikan oleh Viola sedang ngedumel kesal di belakang gadis itu.
"Itu cewek dikasih tahu batu banget ya,"
"Udah tahu kalau Tuan Muda Saga minta dia untuk pulang sendiri, malah masih betah aja diem di rumah ini."
"Kalau Tuan Muda tahu cewek itu masih ada di rumah ini -bisa-bisa aku bakalan kena omel nih. Dikira aku kelupaan nggak ngasih tahu perihal permintaan Tuan Muda ke cewek itu."
Sang asisten rumah tangga itu melirik sinis ke arah Viola karena gadis itu tidak bisa diajak bekerjasama.
"Mudah-mudahan cewek itu bukan pacarnya Tuan Muda Saga. Nggak rela aku kalau Tuan Muda Saga dapet cewek tipe macem dia."
"Udah gayanya angkuh banget, sok bossy lagi."
Viola yang merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang pun segera mengalihkan pandangannya ke arah asisten rumah tangga itu yang secepat kilat mengalihkan pandangannya dari sosok gadis cantik di rumah ini yang kini tengah menatapnya.
Viola yang merasa sepertinya dia hanya salah sangka segera kembali fokus ke layar hape orang tuanya yang tadi diberikan oleh asisten rumah tangga di rumah ini kepada dirinya.
Viola yang takut kedua orang tuanya merasa khawatir segera menelepon nomor Ibunya dan kebetulan langsung diangkat oleh sang empunya nomor.
"Halo," sapa Nyonya Nadira dari seberang telepon.
"Halo, Ma. Ini Viola," cakap gadis itu mulai membuka suaranya.
"Ya ampun sayang, kamu gimana keadaannya? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu ada yang luka nggak? Kemarin penjahat-penjahat itu nggak nyakitin kamu kan?" tanya Nyonya Nadira yang memberondong anak perempuannya dengan banyak pertanyaan dalam sekali waktu.
Viola yang merasa pengang dengan suara cempreng milik Ibunya segera menjauhkan speaker ponsel di tangannya dan baru menempelkannya kembali saat suara Ibunya telah berhenti.
"Aku nggak apa-apa, Ma. Hanya lecet-lecet dikit aja. Untungnya kemarin Tuan Muda Saga nyelamatin aku tepat waktu. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin aku sudah dijual oleh Black Devil ke germo-germo di kota A ini untuk melayani dan memuaskan ***** para bandot-bandot tua," jawab Viola.
"Ya ampun, ngeri sekali, La. Kok bisa kamu ketemu sama geng mafia Black Devil?" tanya Nyonya Nadira penuh kekhawatiran dan rasa keingintahuan.
__ADS_1
"Aku dibawa ke hutan oleh para penculik itu. Lalu aku diturunkan di sana dan ternyata kemarin sore adalah jadwal di mana para anggota Black Devil melewati jalan itu. Sungguh malang sekali nasibku. Untunglah aku memiliki calon suami yang sigap," jelas Viola panjang lebar dan tersenyum saat mengucapkan sebutan calon suami yang dia maksudkan untuk Sagara.
Nyonya Nadira sebenernya cukup merasa aneh dengan sebutan calon suami yang diucapkan oleh anaknya, namun sebelum dia berkata sesuatu lagi untuk menjelaskan hal yang sebenarnya bahwa Sagara telah menikah dengan Viona, semua ucapannya dipotong oleh Viola yang saat ini ingin segera menghubungi seseorang karena amarah di hatinya langsung memuncak saat teringat dengan peristiwa kemarin saat dia hampir di perkos* oleh para penculik itu.
"Udah dulu ya, Ma. Ola capek banget nih, mau istirahat lagi," pamit gadis itu.
Pada saat Viola akan mematikan sambungan telepon itu, Nyonya Nadira mencegahnya.
"La, jangan dimatikan dulu!"
"Kenapa, Ma?" tanya Viola yang langsung mengurungkan niatnya mengakhiri panggilan telepon itu.
"Mama baru ingat kalau Tuan Muda Saga memerintahkan Mama sama Papa untuk datang menjemput kamu dititik kordinat yang telah ditentukan. Katanya kamu mau diantar oleh orang-orangnya Tuan Muda Saga. Kamu sudah otewe belum sama anak buahnya Tuan Muda?"
"Nggak usah jemput Ola, Ma. Ola nanti pulangnya bakalan minta diantar oleh Tuan Muda Saga aja. Udah dulu ya, Ma. Ola ada hal yang penting nih."
Viola langsung mematikan sambungan telepon itu, dan kini dia mulai beralih menelepon nomor ponsel Pamannya.
"Halo, Paman," sapa Viola yang langsung berbicara terlebih dahulu saat panggilan teleponnya diangkat oleh lawan bicaranya.
"Iya, Om. Ini Ola," jawab Viola membenarkan.
"Kamu udah selamatkan dari insiden penculikan itu?"
"Sudah, Om. Ini aku ngehubungin Om juga karena ada perlu untuk meminta bantuan memburu para penculik si*lan itu."
"Memburu? Kamu mau ngeburu mereka?"
"Iya, Om. Aku nggak rela ya, kalau aku diperlakukan buruk oleh mereka. Aku ingin membalas semua kesakitanku kepada mereka semua berkali-kali lipat banyaknya. Aku ingin mereka mati mengenaskan," ucap Viola yang raut wajahnya saat ini begitu sangat menyeramkan dan mirip seperti psykopat yang sedang merencanakan sebuah strategi untuk menjerat mangsanya.
"Baiklah, Om akan bantu. Kira-kira kamu punya gambar sketsa mereka nggak?" tanya Om-nya Viola.
"Ada. Aku sudah selesai menggambar semua wajah dari para baji*gan itu," jawab Viola mantap.
__ADS_1
"Kalau begitu kirimkan semua gambar-gambar itu kepada Om! Setelah Om mendapatkan semua gambar itu, akan Om sebar kepada para detektif dan preman bayaran yang Om punya."
"Baik, Om." angguk Viola. "Kalau gitu teleponnya aku matiin dulu ya, Om."
"Iya, Ola."
Sambungan telepon itu pun berakhir dan saat ini Viola mulai memotret selembar demi selembar sketsa wajah para penculik yang sudah berhasil dia gambar sejak tadi di rumah ini.
Semua gambar sketsa hasil goresan penanya Viola begitu sempurna dan semua wajah yang tergambar di atas kertas begitu mirip dengan aslinya.
Setelah berhasil memotret semua sketsa wajah para penculik, Viola segera mengirimkannya ke nomor ponsel Pamannya.
"Aku tunggu informasi selanjutnya," pesan Viola diakhir chat.
Semua media foto yang telah dikirim oleh Viola sudah centang biru dan pesan balasan dari Pamannya pun masuk ke ponsel yang saat ini sedang dipegang oleh Viola.
"Beres," balas Paman Viola.
Setelah membaca pesan Pamannya, gadis cantik itu mulai menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi yang sedang dia duduki.
Tangan cantiknya kini mulai terulur ke minuman yang ada di atas meja.
Viola menyesapnya dengan gerakan tubuh yang sangat anggun dan berkelas.
"Aku sudah tidak sabar untuk menyiksa semua para baj*ngan itu," gumam gadis cantik itu yang saat ini sedang menyeka bekas air minum yang menempel di bibirnya dengan sebuah tissue.
Kini jari lentik gadis itu mulai digunakan untuk menggulirkan layar ponselnya ditangannya yang sedang menampilkan berbagai macam artikel-artikel penyiksaan dan pembunuhan tersadis sepanjang masa.
Sepertinya Viola akan menghukum para penculik itu dengan cara-cara yang tidak manusiawi.
to be continued.
***
__ADS_1
Tolong subscribe channel YouTube aku dong.
Bayu Hidayat Penulis