CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Huha! Huha!


__ADS_3

Flashback sudah selesai ya gaes.


Pak Jang masih memeluk Sagara yang masih menangis. "Tuan, lebih baik kita masuk ke dalam rumah lagi ya!" ajak lelaki tua itu.


"Nggak, Pak. Aku masih mau di sini dulu. Siapa tahu arwah gadis itu muncul kembali di taman ini." jawab Sagara.


"Kalau begitu ijinkan saya untuk menemani Anda ya, Tuan Muda!"


"Iya, Pak, dengan senang hati."


Kursi roda yang diduduki oleh Sagara mulai didorong oleh Pak Jang menyusuri koridor yang berbatasan langsung dengan taman di tengah-tengah rumah ini.


"Sudah lama sekali ya, Pak, kita tidak jalan-jalan berdua seperti ini." ucap Sagara.


"Iya, Tuan. Setelah Anda dewasa, Anda lebih sering jalan-jalan dengan teman-teman Anda dan melupakan saya, huhu,"


"Hahaha," Sagara terkekeh mendengar tangis buatan Pak Jang. "Tangisan Anda kurang menyentuh, Pak."


"Hahaha," Pak Jang tergelak.


"Oh iya, Anda tahu nama gadis kecil yang dulu aku tabrak tidak, Pak?" tanya Sagara tiba-tiba dengan posisi tubuhnya yang saat ini menoleh ke arah lelaki tua yang sedang mendorong kursi rodanya.


Langkah Pak Jang terhenti, lelaki tua itu terlihat sedang berpikir. "Namanya siapa ya?"


"Masa Anda lupa namanya sih, Pak?"


"Maafkan saya, Tuan Muda. Tapi saya benar-benar tidak ingat siapa namanya."


"Ya sudahlah. Lagipula ini salahku. Harusnya dari dulu aku menanyakan nama gadis cilik itu padamu, Pak."


"Tapi ... kalau Anda memang benar-benar ingin tahu nama gadis cilik itu, Almarhum Tuan Bhumi memilik berkas-berkasnya."


"Benarkah?" tanya Saga antusias.


"Iya, Tuan. Dulu semua berkas laporan yang aku peroleh, langsung aku berikan kepada Ayah Anda, Tuan."

__ADS_1


"Siang ini kita kembali ke rumah lama ya, Pak. Aku ingin mencoba memecahkan kode brangkas milik Papa."


"Baik, Tuan Muda."


Pak Jang memang tidak ingat nama Viona karena dulu dia hanya fokus ke hasil laporan saja dan tidak peduli dengan nama gadis cilik itu.


Nama orang tua Viona juga tidak Pak Jang perhatikan karena dia hanya fokus ke alamat rumah mereka saja.


***


Di dalam ruang kamar utama Sagara, Viona baru saja selesai melaksanakan sholat subuh. Saat ini Viona mulai memanjatkan do'a kepada Tuhannya.


"Ya Allah, Vio pengen banget ketemu sama Bunda lagi. Udah bertahun-tahun lamanya Vio kepisah sama Bunda. Vio kangen sama beliau, Ya Allah. Tolong segera pertemukan Vio lagi ya sama Bunda Vio yang asli! Vio kan sudah jadi anak yang baik, ya meskipun masih suka baca-baca novel porno, tapi itu kan bukan salah Vio. Vio hanya korban Ya Allah. Percaya deh sama Vio. Vio berani sumpah. Udah dulu ya, Ya Allah, udah siang, Vio mau olahraga biar sehat. Aamiin."


Cuit, cuit, cuit!


Ponsel Viona berbunyi dan itu adalah panggilan video call dari Raga yang memang rutin menghubungi Viona setiap waktu.


"Halo, rekanku, selamat pagi." sapa Viona sambil dadah-dadah ke arah Raga yang ada di dalam layar hapenya.


"Hehe," cengir Viona.


"Tapi udah selesai sholat subuh kan?"


"Udah kok." angguk Viona.


"Ya udah kalau gitu sampai ketemu di sekolah."


"Siap, rekanku."


Panggilan video itu pun berakhir.


Raga saat ini sedang memegangi area dadanya karena jantung pemuda itu berdetak dengan sangat kencang setelah panggilan video call itu berakhir.


"Kenapa sih kecantikan Viona pas pakai mukena meningkat drastis 180 derajat." gumam Raga yang hatinya masih jedag-jedug setelah melihat kecantikan Viona meski peristiwa itu bukan yang pertama kalinya bagi pemuda itu.

__ADS_1


***


Viona yang telah selesai melipat kembali mukena miliknya mulai mendekat ke arah cermin sambil membawa alat make up sehari-harinya.


Wajah cantik gadis itu mulai ditutupi kembali oleh alas bedak yang tabrak warna dengan warna pigmen kulit Viona yang asli.


Pengaplikasian yang tidak rata membuat wajah Viona makin terlihat tidak karu-karuan. Ditambah lagi dengan bedak tabur warna putih yang saat ini mulai diusapkan ke seluruh permukaan wajah Viona membuatnya semakin parah saja.


Sentuhan terakhir tentu saja blush on warna pink yang Viona usapkan banyak-banyak dengan kuas di tangannya.


"Woah~ cantik sekali Vio hari ini." pujinya pada diri sendiri.


"Sekarang saatnya lari pagi, huha, huha," sorak Viona yang mulai melesat pergi meninggalkan ruangan kamar ini dengan pakaian training miliknya.


"Huha! Huha! Huha! Huha!" suara teriakan heboh Viona yang saat ini sedang berlari menuju ke arah taman tengah rumah ini menarik perhatian Sagara dan Pak Jang.


"Itu gadis bodoh lagi ngapain coba?" tutur Sagara heran.


"Sepertinya sedang lari, Tuan Muda." sahut Pak Jang.


"Aku juga tahu, Pak, kalau dia sedang lari. Tapi kenapa dia teriak huha huha segala sih?"


"Mungkin biar mirip kayak tentara-tentara, Tuan."


"Oh,"


Viona dan Sagara bertemu pandang saat gadis itu menyadari keberadaan suaminya ada di sekitar taman itu juga.


"Pagi suamiku!" sapa Viona dari jauh.


Sagara mengabaikan sapaan istrinya dan memilih membuang muka ke arah lain.


"Ih gemesnya," seru Viona saat melihat respon Sagara mirip laki-laki dingin di dalam novel-novel porno bacaannya.


Gadis itu mulai melanjutkan larinya kembali dengan kehebohan yang nyata terlihat oleh semua penghuni di rumah ini. Bahkan burung-burung kecil yang hinggap di dedaunan jagung manis yang ditanam di taman ini juga langsung terbang menjauh saat mendengar suara huha gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2