CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Kadang Suka Khilaf Gitu Part 2


__ADS_3

"Tapi tetap saja, Tuan. Anda harus selalu berhati-hati."


"Sudahlah, Ken. Kamu jangan terlalu berlebih-lebihan. Kata Dokter Erick, Viola kemungkinan baru bisa siuman beberapa jam lagi."


"Hemph, terserah Anda sajalah kalau begitu. Yang penting aku sudah mengingatkan ya. Awas saja kalau rencana Anda berantakan dan malah menyalahkanku."


"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Ken. Paling hanya merepotkanmu saja, hahaha," gelak Sagara yang kini mulai duduk di samping Sekretarisnya.


"Jangan dekat-dekat! Sana menjauh!"


"Kau saja yang pergi sana! Ini kan tempat favoritku."


"Siapa cepat dia yang dapat."


"Tapi ini rumahku." tegas Sagara.


"Aku tidak peduli."


Pada akhirnya Sagara dan Sekretaris Ken rebutan tempat duduk seperti anak kecil.


Dari sela pintu salah satu kamar terlihat ada Viola yang sedang mengintip ke arah mereka berdua.


"Woah, ternyata Tuan Muda Saga nggak cacat." ucapnya tidak percaya.


Berkali-kali Viola mengucek kedua matanya barangkali dia salah lihat, tapi sebanyak apapun dia mengucek mata, tetap saja kenyataan Sagara yang keadaan tubuhnya normal tidak bisa enyah dari pandangannya.


"Si*l, kalau tahu gini ceritanya -aku nggak bakalan kabur dari acara pernikahanku." sesal Viola. "Mudah-mudahan perjodohanku dengan Tuan Muda Saga tidak dibatalkan dan masih bisa berlanjut." harapnya.

__ADS_1


Sayang sekali harapan Viola hanya tinggal angan belaka. Sagara saat ini sudah menjadi suaminya Viona. Meskipun Viola tidak ada niatan kabur sekali pun, tapi tetap saja nasibnya tak akan berubah.


Baik kabur ataupun tidak, dia akan tetap didatangi oleh para penculik yang ditugaskan oleh Awan untuk membawa kabur gadis itu.


***


Di rumah utama Sagara. Viona yang baru selesai mematikan sambungan teleponnya tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah panggilan video call dari nomor yang diberi nama "Rekanku."


"Waduh gawat," ucap Viona yang saat ini langsung berdiri dan ngacir masuk ke dalam rumah.


Setelah berada di dalam rumah. Gadis itu baru berani mengangkat panggilan video itu.


"Halo, selamat malam Rekanku." sapa Viona semanis mungkin.


"Kenapa angkat teleponnya lama banget? Kamu nggak lagi berada di luar rumah kan?" tanya Pemuda tampan itu yang wajahnya kini terbingkai di dalam layar ponsel Viona.


"Nggak lagi bohong kan?"


"Iya, eh, nggak kok."


"Huft," pemuda tampan itu terlihat menghela napasnya. "Na, lain kali kalau lagi sendekala jangan berada di luar rumah ya! Berbahaya tahu. Banyak setan yang berkeliaran di jam-jam seperti itu. Bukankah Nabi kita juga menganjurkan untuk menutup pintu dan jendela saat malam menjelang. Kamu masih ingat kan?"


"Iya, Vio masih ingat. Tapi kadang suka khilaf gitu, Ga." jawab Viona lirih.


"Ingat, jangan diulangi lagi ya!"


"Baik, Rekanku." angguk Viona patuh.

__ADS_1


"Oh iya, kamu lagi di mana, Na? Kok background ruangan rumah kamu terlihat berbeda."


"Aku lagi ada di rumah suamiku." jawab Viona sambil tersenyum riang.


"Hahahaha, jangan suka ngarang ah,"


"Ih beneran." yakin Viona.


"Iya deh, iya. Haha,"


"Ga!" tiba-tiba terdengar ada suara lain yang memanggil nama pemuda tampan itu.


"Iya, Ma!" jawab pemuda itu.


"Cepetan turun! Kita udah mau berangkat nih!"


"Oke, Ma!"


Setelah selesai ngobrol dengan Ibunya, Pemuda tampan itu mulai fokus kembali ke layar ponselnya.


"Na, udah dulu ya! Aku udah dicariin Mama."


"Oke." angguk Viona.


***


Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.

__ADS_1


__ADS_2