
Di tempat lain.
Sagara sedang terbaring di samping tubuh Riri yang saat ini sudah tidak mengenakan pakaian satu potong pun.
Ada yang aneh dari ekspresi wajah gadis itu.
Saat ini raut wajah Riri sedang tertekuk karena kesal tidak bisa melanjutkan permainan panasnya dengan Sagara ke tahap selanjutnya.
"Tuan, kenapa Angri Bird-mu tidak mau aktif? Padahal aku sudah mengerahkan segala kemampuanku untuk menegakkannya."
"Aku juga tidak tahu, Ri." sahut Sagara yang saat ini sedang kacau pikirannya.
"Apa Angri Bird-mu sudah tidak bisa berfungsi lagi?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu, hah?" delik Sagara tajam.
"Angri Bird-mu sepertinya sudah lumpuh seperti kedua kakimu, Tuan." ucap Riri kesal.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, Ri!" kini suara Sagara mulai meninggi.
Riri kaget dengan perubahan emosi dari pria disampingnya.
__ADS_1
"Kamu itu hanya Pembantu di rumah ini. Harusnya kamu sadar diri!" bentak lelaki itu. "Aku memperlakukanmu dengan baik karena kita tumbuh bersama. Meski kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, tapi ... kamu tidak pantas mengataiku seperti itu. Cepat tinggalkan ruangan ini!"
"Tuan Muda, tolong maafkan aku! Aku khilaf. Semua perkataanku tadi hanya emosi sesaatku yang sedang kesal karena kebutuhan bathinku tidak bisa terpenuhi."
"Cepat pergi dari sini!" pekik Sagara yang memilih abai dengan semua perkataan Riri.
Riri yang tahu betul Tuan Mudanya sedang marah besar segera beringsut turun dari atas ranjang itu dan mulai memakai lingerie dan gaun luar tidurnya kembali sebelum meninggalkan ruangan kamar ini.
"Arghhh," erang Sagara setelah Riri pergi meninggalkan ruangan ini.
"Kenapa tubuhku jadi aneh begini sih?"
"Tadi ... aku langsung tegang hanya karena merasakan kenyalnya arghhhh! Kenapa ini terjadi padaku? Jangan bilang kalau aku sudah benar-benar terkena guna-guna si gadis jelek itu. Dan Adik kecilku tidak bisa aktif lagi saat bersama dengan wanita lain."
Sagara mulai berguling-guling di atas ranjang karena merasa frustasi dengan kondisinya saat ini.
***
Di kediaman keluarga Adiatama.
"Mana anakku hah?!" pekik seorang wanita yang rambutnya acak-acakan tidak karuan sambil mencengkram erat kerah kemejanya Sekretaris Ken. "Kau sembunyikan anakku di mana, hah?! Ayo jawab!"
__ADS_1
Sekretaris Ken tidak menjawab semua pertanyaan dari Ibundanya. Dia hanya memegang tangan Ibunya dengan lembut. "Bunda, ini aku Kenzo." ucapnya lirih.
"Kenzo, Kenzo anakku." ucap Nyonya Amanda yang kini mulai melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Sekretaris Ken.
"Iya, Bunda. Ini Kenzo anakmu."
"Kamu jangan jauh-jauh dari Bunda ya, Nak!" tutur Nyonya Amanda yang kini mulai memeluk tubuh Sekretaris Ken dengan sangat kuat. "Jika kamu hilang, maka Bunda akan sedih sekali."
"Iya, Bunda."
"Maafkan Bunda, Sayang. Gara-gara keteledoran Bunda, Adik cantik kamu hilang entah kemana. Maafkan Bunda, Nak." Nyonya Amanda saat ini mulai menangis meraung-raung sambil bersimpuh di atas lantai.
"Bella, Arrabella! Di mana kamu, Nak?" tangis pilu Nyonya Amanda.
"Huft," Sekretaris Ken hanya bisa menghela napas beratnya.
Pemuda itu dengan setia menemani Ibunya menangis semalaman sampai wanita itu terlelap tidur dengan tetesan air mata yang sudah mengering di pipinya.
"Bunda, Kenzo akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menemukan kembali Arrabella." tuturnya lirih berjanji kepada Ibunya yang sudah terlelap tidur itu.
***
__ADS_1
Like, komen, dan rate 5