CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Makna Terselubung Part 2


__ADS_3

"Hahaha," gelak Tuan Batari yang tidak menyangka kalau istrinya Gibran bisa melawak juga.


"Aw," ringis Nadya yang perutnya dicubit oleh Gibran.


"Kalau Om Batari yang manggil ganteng, aku percaya dia tulus. Tapi kalau kamu, aku ngerasanya lagi diledekin tahu." bisik Gibran kesal.


"Hahaha," Nadya dan Tuan Batari tertawa bersama melihat kekesalan di wajah tampannya Gibran.


"Oh iya, Nad. Jangan panggil saya, Tuan. Panggil saja saya Om seperti Gibran!" perintah Tuan Batari saat tawa mereka sudah reda.


"Baik, Om." angguk Nadya patuh.


"Ngomong-ngomong, kamu katanya ada proyek bersama dengan Samudra Group ya, Bran?" tanya Tuan Batari yang kini sudah fokus ke arah pemuda itu.


"Iya, Om." angguk Gibran.


"Tuh, Awannya ada di sebelah sana. Kamu susulin aja dia. Kata Handoyo, kamu kesulitan ya ketemuan sama Awan?"


"Iya, Om. Tuan Awan jadwalnya padet banget. Jadi sampai saat ini kami belum membahas tentang proyek itu lebih lanjut."


"Sana samperin aja. Mumpung anaknya lagi nggak sibuk!"

__ADS_1


"Apa nggak apa-apa, Om? Ini kan acara ulang tahunnya Yun."


"Nggak apa-apa. Lagian si Awan juga anaknya doyan kerja."


"Kalau gitu Gibran ke sana dulu ya, Om." pamit pemuda itu.


"Permisi, Om." ucap Nadya sopan.


"Iya," angguk Tuan Batari.


Gibran dan Nadya pun mulai berjalan menjauh menuju ke tempatnya Awan.


***


Viona saat ini tengah memandangi semua makanan lezat yang tersaji di atas meja makan di rumah ini.


"Kok Suamiku belum pulang juga ya?" tanyanya lirih pada diri sendiri dengan raut wajahnya yang sedih.


"Padahal aku tuh pengen cepet-cepet ambil sayap ayam itu yang udah melambai-lambai dari tadi." keluh Viona yang ternyata sedih karena ingin cepat makan.


"Kriuk," perut Viona berbunyi karena lapar.

__ADS_1


"Waduh, alarmnya udah bunyi nih. Mending Vio makan duluan aja deh. Kasian juga semua makanan di meja ini pasti udah pada nangis tuh di-PHP-in sama Vio sejak tadi."


"Udah ambil nasi tapi belum ngambil mereka. Berasa kayak digantung pas lagi baper-bapernya."


"Maafin Vio ya semua kesayangan-kesayangannya Vio. Vio beneren nggak lagi PHP-in kalian. Suer," ucap gadis itu sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V kepada seluruh makanan di atas meja.


"Karena Vio tahu gimana sakitnya di-PHP-in, Vio putuskan untuk makan sekarang juga." putus gadis itu yang mulai mengambil lauk pauk dan menaruhnya di atas piringnya.


Dari jauh para pelayan di rumah ini melihat Viona dengan pandangan aneh, heran, jijik dan juga takut.


"Kayaknya Nona Viona selain jelek, bodoh, dia juga gila." komentar salah satu pelayan.


"Iya," angguk rekannya. "Mana ada orang normal yang ngobrol sama benda mati. Eh, lupa, Nona Viona kan bukan orang normal ya, hahaha," kikiknya.


"Poor, Tuan Muda Saga." ucap salah satu pelayan di rumah itu sedih. " Kenapa sih nasib kamu malang benar, Tuan. Padahal dengan kondisi Tuan Muda yang kaya raya kayak gini tuh masih bisa dapetin cewek cantik dan normal kayak artis di tivi meski kedua kaki Tuan sudah cacat." ratap pelayan itu.


"Iya, betul." timpal rekannya yang ikut meratapi nasib buruk Sagara.


***


Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.

__ADS_1


__ADS_2