Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.10


__ADS_3

"Dela," desis Anyelir.


Namun dengan segera Anyelir menormalkan perasaannya, dia bersikap biasa. Beruntung Anyelir selalu berpenampilan culun, dan sedikit kucel.


"Ada apa nona?" tanyanya.


"Kamu Anyelir kan?" bukannya menjawab, Dela malah bertanya.


Tak lama Auriga pun muncul kini berdiri di samping Anyelir, membuatnya gugup luar biasa. Apalagi Auriga yang bersikap datar dan menatapnya dengan tajam.


"Bu-bukan nona," jawab Anyelir pelan.


"Nama saya Cinta," lanjutnya lagi.


"Tidak kamu pasti Anyelir, aku yakin itu. Kamu Anyelir," kukuh Dela, dia yakin itu Anyelir bukan Cinta. Tapi kenapa Anyelir berpenampilan seperti itu?


"Maaf nona anda salah orang," ujar Anyelir.


Anyelir pun langsung pergi dengan sedikit berlari.


"Hey... Tunggu, Anyelir, Anyelir." Pekik Dela.


"Sudah sayang, mungkin hanya mirip." Kata Auriga.


"Gak mungkin kan, ada yang mirip sampai detail begitu?"


Auriga menuntun Dela untuk masuk, kemudian Auriga berputar menuju kemudi. Dan melanjutkan perjalanannya.


"Kamu lupa, kalau kita di dunia ini. Memiliki tujuh manusia yang mirip dengan kita?"


"Iya sih, aku tau itu. Tapi memang sampai ke tubuh gitu?" tanya Dela melirik sang suami.


Auriga pun mengedikan bahu acuh.


"Bunda, ayah?" panggil Ara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sudah sampai?" sahut Lula.


"Bentar lagi sayang," jawab Dela.


Dela pun merasa penasaran dengan gadis yang mengaku bernama Cinta barusan, dia tak percaya. Bisa saja Anyelir merubah penampilannya, tapi kenapa? Dela pun menghela napas pelan, dia menyandarkan tubuhnya menatap ke depan vila mewah milik Auriga.


****


Sementara Anyelir dia bernafas dengan lega, pasalnya dia bisa terbebas dari Dela.


"Astaga kenapa Dela bisa ada disini? Kalau ketemu Dika gimana?"


Terlalu larut dalam pikiran, Anyelir pun sudah sampai di puskesmas. Dia melihat Lilya yang tengah memijat kaki Sekar, dan Adam yang tengah tertidur di ranjang yang kosong. Di ruang rawat puskesmas tersebut, terdapat tiga ranjang pasien dan kini tinggal dua bersama Sekar.


"Cinta," lirih Sekar.


"Bu, bagaimana sekarang?"

__ADS_1


"Baik, terima kasih sudah membantu ku dan anak-anak. Jika gak ada kamu, aku gak tau akan bagaimana jadinya aku dan kedua anak ku," tutur Sekar.


"Sama-sama bu, aku sudah menganggap Lilya sebagai adik ku."


"Ka Cinta, aku mau makan." Cicit Adam langsung bangun, saat mendengar suara Anyelir.


"Oh... Iya, maaf kakak lupa. Ayok," ajak Anyelir.


Anyelir, Lilya, dan Adam pun duduk di lantai. Karena tak ada meja makan, jika pun di luar Anyelir pun takut nanti Bu Sekar butuh sesuatu. Anyelir pun menyuapi Adam, nasi dan telur dadar dengan sayur capcay. Begitu pun dengan Lilya, Anyelir bahagia melihat mereka makan dengan lahap.


***


Sementara itu di Vila, Auriga kebingungan karena Dela mendadak sakit. Saat setelah turun, Dela mengeluh pusing.


"Sayang? Kita periksa yah?"


"Aku gak papa kok, aku butuh istirahat. Nanti juga sembuh," ujar Dela, kini dia membelakangi Auriga.


"Astaga anak-anak belum makan lagi," batinnya.


Auriga pun memutuskan untuk keluar, setelah pamit pada Dela. Kemudian memanggil Lula dan Ara.


"Ada apa ayah?" tanya Lula dan Ara.


"Lula bisakah kamu jaga Bunda dulu? Ayah mau pergi cari makan, bunda lagi sakit." Jelas Auriga.


"Baik ayah," balas Lula patuh dan segera pergi ke kamar Dela.


"Ara kamu ikut ayah oke!"


Dengan antusias Ara pun keluar bersama Auriga menggunakan mobil, pembantu selalu datang saat pagi. jika sore begini mereka sudah kembali pulang, salah Auriga sendiri tak menyuruh penjaga membelikan bahan untuk masak.


Beberapa menit kemudian, Auriga sampai di salah satu toko sembako yang cukup lengkap. Dia pun membeli bahan makanan instan, karena tak menemukan penjual lauk yang matang. Jika ingin ke jalan besar pun harus menempuh waktu dua jam.


"Ayah aku mau ini," tunjuk Ara pada makanan ringan, yang di beli oleh anak-anak sekitar.


"Ambil bagi sama ka Lula yah?"


"Oke,"


Ara pun mengambil jajanan, yang jarang dia beli. Lalu minuman susu kotak untuknya dan sang kakak.


"Aden orang baru yah disini?" tanya si penjaga warung.


"Iya pak, saya yang punya Villa di ujung jalan ini." Ujar Auriga.


"Ohh... Kenapa beli makanan instan den?"


"Kami lupa membeli bahan, niatnya tadi kami mau keluar. Namun istri saya sedang sakit," cerita Auriga.


"Ohh... Maaf bapak banyak tanya, sebenarnya selalu ada yang jualan lauk matang den. Namun sudah habis jam segini mah,"


"Ohh... Mungkin besok jika pembantu saya belum membeli, tolong kasih tau orangnya. Suruh ke Villa ujung yah pak!"

__ADS_1


"Siap den, ini semuanya 200rb."


Auriga pun memberikan uang pas, lalu mengajak Ara pulang yang sedang bercanda dengan anak warga kampung tersebut.


"Ayah aku senang disini, ada banyak teman." Kata Ara setelah di dalam mobil.


Auriga pun hanya tersenyum tipis, kemudian melajukan mobilnya. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai, dan membawa belanjaannya masuk.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Dela, kini sudah mulai lebih baik.


"Mie instan, telur, osis, beras, teh sama gula. Aku lupa gak bilang sama penjaga buat beli kebutuhan," ujar Auriga.


"Kamu sih, makanan tadi malah di simpen lagi." Kesal Dela, padahal tadi Dela sudah membawa bahan makanan. Namun Auriga mengeluarkannya kembali.


"Ya sudah maafkan aku," ucap Auriga memeluk Dela.


"Jangan disini ahh... Nanti Lula sama Ara lihat lagi," protes Dela.


Auriga pun tertawa, lalu dia menuju dapur dan akan memasak untuk makan malam. Di bantu oleh Dela, sedangkan Lula dan Ara sedang mandi.


***


Di Jakarta


Malam ini di lakukan pertemuan antara keluarga Randika dan Jenny.


"Dika?" panggil Yumna.


"Apa?"


"Kok wajahnya kusut sih, nanti cakepnya ilang loh!" goda Yumna.


"Biarin lah," jawab Dika ketus.


"Kenapa sih? Kok kamu ketus gitu?"


"Kakak masih nanya? Kakak pasti tau kan, apa yang aku mau? Kalian saja yang pura-pura tak tahu," cetus Dika.


"Dik, bukan gitu. Kita mau yang terbaik untuk kamu,"


"Jadi Anyelir gak baik gitu?"


"Bukan gitu, Anyelir baik anaknya ramah juga. Tapi dia kan pergi gak tau kemana, jika dia ada pun aku akan dukung kamu sama Anye." Terang Yumna.


Dika berjalan menuju balkon kamar, dia menatap langit yang sudah berubah warna.


"Aku gak tahu apa alasan dia pergi, alasan klasik karena menemukan yang lebih baik dari aku. Apa kurang ku? Aku kaya, tampan dan punya segalanya. Ibu juga mendukung ku," tutur Dika.


"Tapi sekarang ibu malah menyetujui aku untuk menjadi tunangan Jenny." Lanjutnya lagi.


Yumna pun tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya mengelus lembut pundak sang adik.


"Sebaiknya kita turun, dan menyambut kedatangan keluarga Jenny." Kata Yumna pada akhirnya.

__ADS_1


Yumna pun tak mau Dika menjadi semakin benci pada Mario dan Laura, atau pada Anyelir yang meninggalkannya.


tbc


__ADS_2