
Lima bulan berlalu Anyelir dan Dika menjadi lebih dekat, karena Ameera dan Melinda yang selalu ingin bersama layaknya anak kembar. Kadang Ameera menginap di rumah Mario dan Laura, Dika juga belum pindah ke rumah miliknya atau apartemen miliknya. Karena saat dia bekerja tak ada yang menjaga Melinda.
Untuk Reen dan Arjuna mereka membatalkan perceraian mereka, karena pada akhirnya Reen hamil. Usia kandungannya sekarang sudah memasuki empat bulan, dan sedang mengadakan syukuran di kediaman Jimi karena Reen ingin dekat dengan sang kakek.
Walau kini sikapnya menjadi dingin, tak sehangat dulu. Tapi itu membuat Arjuna bersyukur, karena tidak berpisah dengan Reen.
"Anyelir," panggil Sekar.
"Ada apa mbak?"
"Gimana hubungan mu dengan Dika?" tanya Sekar kepo.
"Ish... Kepo yah," kekeh Anyelir.
"Kamu yah..."
Sekar mencubit lengan Anyelir pelan, kini Anyelir tengah berada di rumah Jimi bersama Ameera yang sedang bermain dengan Manda, Ara, Lula dan si kembar. Karena nanti sore akan di adakan syukuran kehamilan Reen di rumah ini.
"Ayok sini, di sini sudah banyak pekerja. Dari cafe Keano dan juga cafe kamu," kata Sekar.
Sekar membawa Anyelir ke taman belakang, sambil mengawasi para pekerja. Yang sedang menata bangku di taman belakang yang cukup luas, di dalam ruangan pun sudah di dekorasi sedemikian rupa. Taman belakang khusus untuk keluarga, sedangkan di rumah untuk para tamu menikmati sajian.
"Ayok cerita, sudah sampai mana hubungan mu dengan Dika?"
"Ya gitulah..." Jawab Anyelir ambigu.
"Gitu gimana? Yang jelas dong, apa kalian sudah gitu atau gimana?" tuntut Sekar.
"Ampun mbak, mana mungkin aku dan Dika gitu. Kita belum nikah," kata Anyelir.
"Jelaskan saja lah, jangan berbelit-belit." Ketus Sekar, membuat Anyelir tertawa.
"Oke.. oke, aku sama Dika akan segera menikah satu minggu lagi." Beritahu Anyelir pada Sekar, membuat Sekar menatapnya tak percaya.
"Serius kamu?" tanya Sekar tak percaya.
"Memang wajah ku gak meyakinkan yah?" kesal Anyelir.
"Tadinya aku mau kasih kejutan sama mbak Sekar, tapi mbak gak sabaran sih." Ujar Anyelir, meminum minumannya.
Sekar bersorak heboh, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"Mbak ih... Malu tahu, di liatin." Omel Anyelir.
"Ini kabar baik, harus segera di umumkan. Kapan kalian lamaran?" tanya Sekar.
"Besok malam," jawab Anyelir.
"Baiklah mbak dan mas Jimi, akan menjadi perwakilan keluarga mu. Kamu tenang saja mbak akan mempersiapkan semuanya," seru Sekar antusias.
__ADS_1
Anyelir hanya tersenyum saja, pada akhirnya Anyelir memutuskan menerima lamaran Dika secara tak langsung pada saat mereka, pergi liburan ke Bandung.
****
Sementara itu Rumi pun sudah menyampaikan niatnya pada sang bunda, awalnya dia ingin mengatakannya pada hari itu juga. Tapi masalah yang terjadi di keluarga Feli sang kakak membuat mereka tak ada waktu.
"Bunda aku mau bicara," kata Rumi.
Bunda Nia membawa sang anak duduk di gazebo dekat kolam renang, gazebo tersebut selalu di gunakan saat kumpul keluarga.
"Mau bicara apa? Siap nikah?" tanya Bunda Nia.
"Ya," jawab Rumi singkat dan padat, membuat bunda Nia menoleh ke arahnya dengan syok.
"Serius kamu? Al, jangan bercanda."
"Memangnya aku tipe orang yang suka bercanda apa? Bunda tahu, aku bukan Keanu atau ka Radit," ujar Rumi, membiarkan kali ini di panggil Al oleh sang bunda.
"Maaf sayang, bunda terlalu terkejut. Pasalnya bunda kira kamu gay," celetuk bunda Nia.
"Bunda," desis Rumi, menatap tajam sang bunda.
"Maaf sayang, soalnya selama ini kamu gak pernah dekat sama wanita mana pun. Atau bawa mereka ke sini," tutur bunda Nia.
"Maaf bunda, bunda tahu sendiri kan. Aku fokus membangun usaha ku sendiri dan perusahaan ayah."
"Iya bunda tahu, baiklah gadis mana yang mau kamu lamar?"
"Maira?" gumam bunda Nia.
"Kaya gak asing tapi siapa ya?"
"Anaknya Hito Wijaya dan Yusra bun, cucu dari tuan Mario dan nyonya Laura." Celetuk Rumi.
"Ahh... Ya mereka, bunda sedikit tahu sih. Gak begitu kenal," ungkap bunda Nia.
"Jadi gimana bun? Bunda mau melamar dia untuk ku?"
"Iya bunda akan melamarkan gadis itu untuk mu, anak bunda si kulkas dua belas pintu." Kekeh bunda Nia, membuat Rumi mendelik sebal ke arah sang bunda.
Setelah berbincang dengan Rumi, bunda Nia memberitahu rencana ini pada ayah Satria. Karena mungkin ayah Satria kenal dekat dengan Mario dan Laura.
"Itu bagus, besok ayah akan buat janji bertemu dengan tuan Hito." Ujar ayah Satria, yang merasa senang karena sang anak akan melepas masa lajangnya.
"Bunda ikut?"
"Tidak perlu, ayah akan bertemu di kantor saja." Katanya, di jawab anggukan oleh bunda Nia.
****
__ADS_1
Kediaman Jimi
Sore pun tiba, acara syukuran empat bulanan Reen di gelar secara meriah. Orang tua Arjuna, Hilda dan Sebastian hadir karena di undang oleh Zea dan Keano. Awalnya Melati ingin ikut, tapi langsung di larang oleh Sebastian. Sebastian sendiri sudah tahu permasalahan sang anak dengan sekretarisnya, dan langsung memecat Melati.
Tapi dengan tak tahu malunya, Melati rajin berkunjung ke tempat Hilda istrinya. Membuat Sebastian jengkel, dia bisa melihat wajah kusut dan penyesalan dari sang anak pada menantunya Reen.
Bahkan Sebastian rela memohon pada Reen saat itu, dan Reen pun luluh pada permintaannya dengan syarat jika kembali menjalin dengan Melati Arjuna harus menceraikan Reen.
"Kenapa Ma?" tanya Sebastian.
"Itu si Melati, minta masuk ke rumah ini. Dia sudah ada di luar Pa," bisik Hilda.
"Biarkan saja dan abaikan dia, papa sudah sering bilang sama mama. Jangan pernah baikkin dia," tegas Sebastian, sungguh dia tak ingin kehilangan menantu seperti Reen yang baik dan pengertian.
"Tapi pa... Dia ngancem terus mau bunuh diri, terus salahin mama."
"Sudah biarkan, kamu gak lihat Arjuna bahagia. Lihat dia walau Reen bersikap dingin tapi Arjuna memperlakukannya dengan hangat," tutur Sebastian.
Hilda pun terdiam, dia tak bisa berbuat apa pun. Ini kediaman Jimi dan tuan rumahnya Jimi, bukan dirinya bisa-bisa dia yang di usir dan bikin malu saja.
Acara berjalan dengan lancar, setelah pengajian. Semua tamu di jamu oleh Jimi dengan baik, tak lupa Zea pun mempersiapkan bingkisan untuk anak-anak yatim.
Sementara itu di taman, Anyelir dan Dika sedang meminta Melinda dan Ameera duduk tak kejar-kejaran dengan si kembar. Dela sudah menyerah sejak tadi, dan memutuskan untuk makan biarlah anak-anak itu setelah lelah dia akan diam begitu pikirnya.
"Anak-anak mu loh sayang, tenaganya gak ada habisnya." Kata Dela pada Auriga.
"Dia juga anak mu sayang, kita buat berdua loh! Kamu ingat," bisik Auriga, mencium pipi Dela. Membuat pipi Dela bersemu merah.
"Ish... Di tempat umum loh,"
"Biarin aku hanya cium pipi, bukan bibir sayang."
"Tolong yah kalian, jangan menunjukan kemesraannya." Celetuk Maira, yang memang sejak tadi melihat Dela dan Auriga.
"Jangan buat iri para jomblo ya," omel Maira, menunjuk pada Lula di sampingnya.
"Apaan sih ka Mai, aku masih kelas sepuluh. Gak akan pacaran," ketus Lula.
"Bisa habis sama ayah, kalo pacaran." Batin Lula, melirik Auriga.
Dela dan Auriga tertawa melihat Maira yang cemberut, dan terus di ledek habis-habisan oleh Dela. Lalu Maira pun pergi ke tempat Yusra, dan mengadu pada sang ibu.
Sedangkan Mario, Jimi, Laura dan Sekar duduk bersama. Untuk mengenang masa lalu mereka, dimana Jimi dan Mario pernah menjadi sahabat baik Mario. Mereka bersyukur akan keluarga yang mereka miliki sekarang.
Berbeda dengan keluarga Mario, Alderik pun di landa rasa bersalah kepada Tara dan Jenny. Terlebih sekarang Dika, melarang Alderik bertemu dengan Melinda cucu pertamanya.
"Daddy harap kamu mau pertemukan daddy, dengan Melinda Dika. Bagaimana pun dia cucu ku juga," kata Alderik di dalam pesannya untuk Dika. Namun tak ada balasan dari Dika.
****
__ADS_1
Maaf typo