Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.16


__ADS_3

Keluarga Yumna bersuka cita atas kehamilan Dela, nanti malam mereka akan mengadakan makan malam bersama keluarga besar, di rumah baru Auriga dan Dela.


Lain halnya Lula, dia terlihat tak bersemangat. Menyambut calon adik barunya tersebut, dan itu terlihat oleh Dela.


"Aku ke luar dulu," celetuk Lula, dia berlari ke taman belakang.


"Kenapa Lula?" tanya Yumna.


"Aku gak tahu bunda, aku akan menemuinya dan mengajaknya bicara." Ujar Dela.


"Ya sudah," balas Yumna.


Dela pun melangkah menuju taman belakang, dia menatap Lula yang sedang melamun menatap senja yang mulai muncul.


"Boleh bunda duduk?"


Lula hanya mengangguk, dan bergeser sedikit. Lula duduk di kursi panjang seperti ayunan.


"Kamu kenapa sayang?"


"Aku gak papa bun," lirih Lula.


"Jangan bohong, ayah mu gak pernah mengajarkan mu bohong kan?"


Lula kembali menggeleng, dia pun akhirnya menangis. Dan Dela membawa Lula, kedalam pelukannya.


"Aku senang bunda hamil, aku hanya takut. Jika terjadi sesuatu sama bunda," cerita Lula.


Belajar dari pengalaman, Lula tidak ingin terjadi sesuatu pada ibu barunya tersebut. Dia tidak ingin membenci kembali sang adik, cukup Ara yang pernah dia benci.


"Ayah janji, gak akan bikin bunda hamil. Tapi ayah ingkar janji," kesal Lula pada Auriga.


Dela melirik Auriga yang baru saja datang.


"Maafkan ayah mu yah! Tapi adik bayi ini, adalah rezeki dari Tuhan sayang. Sekarang Lula sudah besar, bisa bantu jaga kehamilan bunda." Jelas Dela.


Lula tampak berpikir, kemudian dia mengangguk saja.


"Kalau begitu ayok kita masuk, kita harus pulang dan bersiap. Mengumumkan kabar baik ini, pada semua orang." Kata Dela.


"Iya."


Dela pun mengajak Lula masuk, Lula menatap sang ayah. Namun langsung memalingkan wajahnya, Lula masih kesal pada Auriga.


****


Sementara itu di Bandung, Anyelir kembali menjalani aktifitas seperti biasa. Tapi kini dia di bantu oleh Sekar.


"Lebih baik, ibu istirahat saja."


"Tidak apa, aku akan membantu mu. Lagian kalau tiduran terus gak enak,"


Lilya dan Adam pun bermain di depan kontrakan Anyelir, terdapat anak-anak sebaya dengan Lilya dan Adam.


"Ibu." Panggil Lilya.


"Ya sayang?"


"Aku suka di sini, kita tinggal di sini saja yah? Jangan di rumah kontrakan kita yang jelek," pinta Lilya.

__ADS_1


Sebab sebelumnya dia dan sang adik, tinggal di tempat penampungan rongsok. Itu pun rumahnya tak layak dari kata huni, kontrakan mereka terbuat dari bambu, dan beratapkan seng.


"Tapi ini kan rumah ka Cinta."


Lilya cemberut menatap sang ibu. "Disini banyak teman bu, di sana kita berteman dengan tumpukan dus dan botol bekas." Lirihnya.


"Adik pun suka disini," Lilya menunjuk Adam yang bermain dengan riang.


"Sudah bu tidak apa-apa, kalian boleh tinggal di sini. Toh aku hanya sendiri," sahur Anyelir.


"Beneran ka?" tanya Lilya antusias.


"Iya."


"Hore!" pekik Lilya.


Lilya pun kembali bermain dengan teman-temannya, di sekitaran kontrakan Anyelir anak-anaknya memang ramah.


"Nanti aku bantu beresin barang-barang kalian," cetus Anyelir.


"Terima kasih cinta, ibu gak tau lagi. Harus berterima kasih dengan apa, kamu baik sekali." Papar Sekar.


Anyelir hanya tersenyum, dia merasakan sendiri sejak kecil. Dia bersama sang ibu, lalu saat lulus SMP sang ibu meninggal dunia. Dia harus kerja untuk kebutuhan sehari-hari, sampai bayar uang sekolah.


Malam pun tiba, semua orang telah berkumpul di rumah baru Auriga. Jimi, Zea, Keanu dan Manda pun sudah tiba. Tak lupa keluarga besar Mario, Wina pun hadir.


"Uncle Dika kemana Mai?" tanya Dela.


"Katanya mau jemput Jenny, biar terbiasa sama keluarga kita." Ujar Maira.


Dela pun berdecak kesal, kenapa Dika menerima Jenny. Dika sendiri sudah sampai di rumah Jenny, dia belum tahu jika Jenny tak pulang ke rumah Alderik.


"Daddy berharap kamu dan adik mu itu, tiada dari dunia ini! Adik mu menyebabkan istri ku pergi." Teriak Alderik.


Di samping Alderik, Linda mencoba menenangkan tapi dalam hati dia tersenyum menang.


Dika pun bergegas pergi dari sana, dan menuju rumah Tara. Dengan kecepatan tinggi, Dika menuju rumah Tara.


Berpuluh menit kemudian Dika sudah sampai, dia mendengar teriakan Tara. Dan suara pecahan barang.


Di dalam rumah.


"Tara tenang sayang, daddy marahin aku. Bukan kamu," ujar Jenny.


Tadi saat dia mendapat panggilan dari Alderik, tak sengaja Tara yang menjawabnya tanpa bersuara. Tiba-tiba Alderik langsung membentak Tara.


"Da-daddy benci aku, dia mau a-aku mati." Pekik Tara.


"Tara tenang." Pinta Jenny.


Kebetulan suster yang selalu menenangkan Tara, sedang berada di luar bersama bibi Maura. Tiba-tiba piring kecil mengenai kening Jenny.


"Akhh.. Tara," lirih Jenny memegang keningnya, yang berdarah.


"Jenny." Panggil Dika, dia baru sampai ke dalam rumah dan tak sempat mencegah Tara.


"Dika."


Dika menghampiri Tara lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Tenang Tara, ada aku. Aku kakak mu yang akan melindungi mu," ucap Dika menenangkan.


Tara pun terisak dia menatap kening Jenny yang terluka, Dika terus membelai punggung Tara agar tenang.


"Dimana obatnya?"


"Di kamarnya dekat nakas," jawab Jenny menahan rasa sakit.


Dika pun mendudukan Tara, dan berlari membawa obat. Setelah mendapatkan obat, dia membawa minum lalu memberikannya pada Tara.


Tara pun sudah mulai tenang, dengan nafas teratur. Dika sendiri melirik Jenny, dia lalu membawa kotak obat. Yang selalu berada di dapur, mengobati luka di kening Jenny.


"Dia tidak pernah hilang kendali seperti tadi," cerita Jenny, Dika pun fokus mengobati lukanya.


"Apakah ayah mu selalu menyuruh adik mu mati?" tanya Dika.


"Iya begitulah dia, dia pun ingin aku mati." Kata Jenny lirih.


Jenny menatap Dika yang tengah mengobati keningnya, lalu dia teringat akan gadis yang dia jahati saat gadis itu berada di kontrakannya.


"Maafkan aku Dik, karena kau kamu harus pisah sama orang yang kamu cinta." Bisik Jenny dalam hati.


Dia berjanji akan membantu mencari Anyelir, jika sisa usianya cukup.


Dika pun selesai mengobati luka di kening Jenny.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Tadinya aku ingin mengajak mu, ke tempat Dela. Dia ingin mengumumkan kehamilannya," papar Dika.


Jenny pun mengangguk, tak lama Bibi Maura dan perawat khusus Tara sudah kembali. Dan terkejut mendapati rumah berantakan.


"Nona? Ada apa? Lalu kenapa kening anda?" tanya Bibi Maura khawatir.


"Tara ngamuk Bi, karena daddy." Lirihnya.


"Maafkan saya nona, saya dan bibi Maura terlalu lama." Sesal perawat tersebut.


"Tidak apa-apa, untung ada Dika yang menolong. Kalian juga berhak memiliki me time," cetus Jenny.


Bibi Maura dan perawat tersebut membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh Tara, sementara dia dan Dika akan memindahkan Tara ke kamar.


"Makasih Dika," ucap Jenny setelah menyelimuti sang adik.


"Sama-sama, jadi kamu mau ikut aku? Atau beristirahat?"


"Aku di sini aja dulu, lagian aku canggung sama Dela. Aku tahu Dela gak suka sama aku,"


"Baiklah kalau begitu, aku pamit."


"Ya hati-hati, maaf tidak bisa mengantar mu Dika."


"Tidak apa-apa."


Dika pun beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari kamar Tara. Setelah kepergian Dika, Jenny menghembuskan nafasnya dengan berat. Sebab sakit kepalanya kambuh karena hantaman piring kecil, yang di sebabkan oleh Tara.


tbc...


Maaf typo, jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏

__ADS_1


Kalian pasti bertanya kenapa dominan Dika dan Jenny? sedangkan judulnya Cinta Anyelir. Sabar nanti ada part Anyelir dan Dika, jadi jangan pernah bosen baca ceritanya Anyelir dan Dika yah! 💜💜💜


__ADS_2