Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.70


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Aaron berpamitan pada Laura dan Mario. Saat dia akan memakai helm, suara pekikan seseorang yang Aaron kenal membuatnya berdecak kesal. Padahal dia sudah sangat pagi keluar dari rumah Laura.


"Aaron, kamu di sini?" tanya Mahira, anak pertama Maira dan Rumi. Dan kini Maira, sedang hamil anak ke dua.


"Iya," jawabnya ketus, lalu mulai menghidupkan mesin motor.


"Aku ikut boleh?" pintanya memelas.


"Kamu kan di antar ka Kaivan," tolak Aaron.


"Ihh... Pelit banget sih, kali-kali aku ikut kamu lah."


"Aaron," sapa Kaivan.


"Pagi ka,"


"Pagi juga Ar, kamu nginap di rumah Grany?" tanya Kaivan.


"Iya ka, aku semalam pulang kemalaman." Ujar Aaron, Kaivan dan Aaron berbincang sebentar lalu setelah itu mereka berangkat ke tujuan masing-masing.


Dan pada akhirnya Aaron membawa Mahira bersamanya, kebetulan mereka satu sekolah yang sama hanya beda kelas.


"Hira, jangan terlalu dekat. Gue risih," teriak Aaron, karena Mahira memeluknya terlalu erat.


"Biarin aku suka kamu Ar," balas Mahira dengan teriak pula, Aaron pun hanya pasrah saat Mahira memeluk dirinya.


Tapi tidak dengan Mahira dia sangat senang bisa berangkat dengan Aaron, walau mereka bersepupu. Aaron sangatlah cuek padanya, tapi jika pada Ara, Lula dan Tatiana. Aaron sangat manis, dia akan membuat iri seluruh siswi yang ada di SMA Erlangga.


Pasalnya sangat sulit untuk mendekati Aaron, Aaron banyak yang naksir.


***


Sementara itu Melinda yang sudah sampai di perusahaan, bergegas masuk ke dalam ruangannya. Untuk menghindari rentetan pertanyaan dari Dika.


Baru saja dia mendudukan bokongnya, telepon sudah berdering.


"Ya Malinda di sini."


"Nona saya Mona, sekretaris tuan Dika. Anda di suruh keruangan beliau  sekarang," beritahu Mona.

__ADS_1


"Ya terima kasih Mona," balas Melinda, langsung menutup panggilan telepon tersebut.


Dengan rasa malas, Melinda keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Dika. Yang berada di lantai tujuh, sedangkan Melinda berada di lantai empat.


Saat tiba Melinda tersenyum pada Mona, lalu langsung masuk. Saat masuk Melinda pun terkejut saat mendapati Anyelir, ibu tirinya berada di ruangan Dika.


"Ibu," sapa Melinda, setelah menormalkan ekspresinya.


"Sayang, sini." Anyelir meminta Melinda, untuk duduk di dekatnya. Lalu dia memeluknya dengan erat, membuat Melinda heran.


Sesaat melihat anaknya masuk, Dika seperti melihat Jenny saat dia muda dulu. Membuat Dika menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu ikut bergabung dengan wanita yang dia cintai.


"Semalam kenapa gak pulang?" tanya Anyelir, memberikan kode pada Dika biarlah dia yang bertanya.


"A-aku... Menginap di rumahnya Miska, bu. Maaf tidak mengabari terlebih dulu, karena ponsel ku habis daya." Melinda beralasan dia menunduk, tak berani menatap mata Anyelir.


"Lain kali, kamu harus bilang ibu atau daddy. Biar kita gak khawatir sayang,"  jawab Anyelir mengusap wajah Melinda, yang sangat mirip dengan Jenny.


"Ibu sudah bilang sama daddy mu, supaya tidak memberikan pekerjaan sampai malam." Kata Anyelir tersenyum menatap Melinda dan Dika.


"Ibu rindu kita berkumpul," celetuk Anyelir, membuat Melinda menatap Anyelir.


Akhirnya tangis Melinda pun pecah, dia sangat merindukan pelukan Dika seperti ini. Yang hanya untuknya seorang.


"Menangis lah sayang," ujar Dika, Anyelir ikut mengusap punggung Melinda agar tenang.


Dari balik pintu, Ameera melihat itu semua. Dia sedikit kesal, tapi tidak mungkin langsung masuk dan marah-marah pada Melinda.


Dia duduk di ruang tunggu, Mona hanya menatap Ameera tanpa berkata apa pun. Menurutnya Ameera sangat sombong, pernah satu waktu dia bertemu dengan Ameera. Saat di sapa, dia tak menjawab.


"Sangat jauh dari Melinda," gumam Mona, menatap Ameera yang sedang memainkan ponselnya.


Setelah puas menumpahkan kesedihannya, Melinda melepaskan pelukannya dari Dika. Dia menatap Dika, dan tersenyum. Senyum yang mengingatkan Dika pada Jenny, lalu menatap pada Anyelir dan memeluknya.


"Aku harus bekerja kembali, jika tidak gajih ku bakal di potong sma tuan Dika." Canda Melinda, membuat Anyelir dan Dika tertawa.


"Baiklah, selamat bekerja sayang. Jangan lupakan makan siang mu," pesan Anyelir, di jawab anggukan oleh Melinda.


Melinda pamit kepada Dika dan Anyelir, dan keluar dari ruangan milik Dika. Tanpa melihat kehadiran Ameera, dan tanpa Melinda sadari Ameera mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Kamu memang gadis tukang adu yah Melinda," celetuk Ameera, membuat Melinda mengurungkan masuk ke dalam lift.


Lalu menatap Ameera dengan tatapan datar.


"Apa maksud mu?"


"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kamu sudah mengadu pada daddy dan ibu. Jika semalam kamu tidak aku beritahu," tuduh Ameera.


Melinda tersenyum miring.


"Aku bukan kamu, Ameera. Aku bukan wanita tukang adu domba, seperti mu dan bukan juga orang yang selalu ingin menang sendiri." Jelas Melinda, membuat Ameera menahan marah.


"Kamu tahu Meera, aku menyayangi mu. Tapi sikap mu yang membuat ku membenci mu, kamu selalu mencuri perhatian daddy ku. Mencuri perhatian semua orang yang menyayangi ku," lanjutnya lagi.


"Jelas itu semua harusnya hak ku, bukan kamu Melinda. Asal kamu tahu, wanita yang di cintai daddy Dika adalah ibu ku Anyelir. Karena mommy mu mereka jadi terpisah," ungkap Ameera, dari mana Ameera tahu? Tentu dari Dika dan Anyelir, dia tanpa sengaja mendengar orang tuanya berbicara tentang masa lalu. Dan Ameera menghubungkan semuanya, dan menyalahkan Jenny ibu dari Melinda.


Melinda sungguh tak tahu, akan semua itu. Yang dia tahu, mommy dan Daddy-nya Saling mencintai.


"Tidak mungkin," gumam Melinda, namun dapat di dengar oleh Ameera.


"Mana mungkin aku, daddy Dika sama ibu bohong. Ibu mu yang sudah meninggal itu sudah membuat ibu ku menderita, ingat Melinda harusnya aku yang mendapatkan apa yang kamu dapat itu." Jelas Ameera dengan dingin.


"Kalau bukan karena kakek mu Alderik yang memaksa, daddy Dika tidak mungkin mau menikahi ibu mu yang penyakitan. Kalau bukan karena kasihan," cibir Ameera, Melinda membeku di tempat. Ingin menyangkal semua tuduhan Ameera pada mommy-nya, sungguh Melinda tak suka jika ada orang yang menjelek-jelekan mommy-nya.


Melinda memilih turun dengan tangga darurat, apa benar Dika terpaksa menikah dengan Jenny? Jika iya maka dia anak yang tak di harapkan, dan ingatannya kembali saat teman dari Jenny memberitahukan bahwa dirinya harusnya tak lahir. Karena demi keselamatan nyawa Jenny jika melahirkan anaknya, tapi Jenny memilih untuk mempertahankan kehamilannya.


"Gara-gara aku mommy pergi, maafkan aku mommy. Maaf," isak Melinda, kini dia sudah berada di luar perusahaan.


Entah akan kemana langkah kakinya, membawanya pergi. Ingin rasanya dia, menemui Jenny di Singapura dan mengadu pada sang ibu.


Sementara itu Miska, sudah mengkhawatirkan sahabatnya itu. Sudah satu jam dia belum kembali setelah pamit, menuju ruangan Dika tapi dia belum juga kelihatan. Menurut Mona, Melinda sudah keluar dari ruangan Dika.


"Melinda kamu dimana?" gumamnya dengan rasa khawatir, Miska ingin menghubungi Melinda tapi tasnya juga tertinggal.


"Astaga Mel, kenapa di saat genting gini kamu gak bawa tas sih." Kesal Miska, gadis itu pun pasrah dan harus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa mencari Melinda.


Dan nanti Miska, akan meminta bantuan Aaron untuk mencari Melinda. Karena tidak mungkin Miska, membuat kehebohan untuk adik dari Melinda itu. Biarlah dia menunggu, jam makan siang.


Semoga suka, maaf typo 💜💜

__ADS_1


__ADS_2