Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.32


__ADS_3

Dika memutuskan untuk bertemu dengan dokter Alzeta, yang menurut suster adalah dokter spesialis Neurologi. Tiba di depan ruangannya, Dika ragu untuk mengetuk pintu yang tertutup rapat.


Saat Dika akan mengetuk pintu, pintu terbuka dari dalam. Membuat keduanya terkejut.


"Oh... Dika, ada apa? Jenny baik-baik saja?" tanya Alzeta.


"Ya dia baik-baik saja dokter, ada yang ingin aku tanyakan tentang penyakit Jenny. Dan apakah anda dokter kandungan?"


Alzeta menghembuskan napasnya dengan pelan, dia menduga cepat atau lambat. Dika akan mengetahui penyakit Jenny.


"Baiklah, mari ikut saya. Kebetulan saya ingin membeli kopi," ujar Alzeta.


Tiga puluh menit waktu yang di butuhkan mereka berdua, menuju kantin rumah sakit. Setelah mendapatkan pesanan yang di inginkan, Dika dan Alzeta duduk di dekat pojok jendela. Yang menghadap ke taman rumah sakit.


"Sebelumnya saya sudah pernah, memberitahu Jenny tentang penyakitnya pada mu. Tapi dia tak mau, dia tidak mau merepotkan mu." Papar Alzeta.


"Sebenarnya dia sakit apa dok? Apa separah itu? Sampai harus di gugurkan?" lirih Dika.


"Panggil saya Zeta, biar lebih akrab." Kekeh Zeta.


"Ah... Baiklah," jawab Dika.


"Aku dan Jenny teman lama. Dia adik kelas ku di sekolah menengah pertama sampai SMA, aku dan Siska berteman baik saat itu." Ungkap Alzeta, di jawab anggukan oleh Dika.


Alzeta menceritakan Jenny sering sakit kepala.


"Aku pikir awalnya hanya sakit biasa pada umumnya, sampai pada akhirnya aku menemukan keanehan. Terdapat tumor, yang bisa berkembang menjadi kanker. Jenny tidak mau di rujuk ke rumah sakit Singapura, karena dia tak mau berjauhan dengan Tara. Maka aku memberikan obat penghilang sakit dosis yang lumayan tinggi, tak lupa vitamin-vitamin lainnya." Jelas Alzeta, menatap kosong ke depan.


"Aku kurang tahu, kapan dia sakit kepala. Mungkin dia mengabaikan istirahat dengan baik dan juga makanannya tak di jaga, dia artis dan waktu itu sedang naik-naiknya. Dia banyak bergadang, saat umur kandungan berusia dua bulan. Aku menyarankan Jenny menggugurkan kandungannya, dan memberitahukan semuanya kepada mu. Tapi dia tak mau, alasannya hanya satu. Dia tak mau jadi beban kamu," ungkap Alzeta, membuat Dika sesak dan ingin menangis.


Namun dia menahan air matanya, dengan menghembuskan napasnya dengan pelan untuk menangkan hatinya.


"Tidak, dia bukan beban bagi ku. Dia istri ku," gumam Dika, dapat di dengar oleh Alzeta.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Dika, dengan mata merah menahan tangis.


"Karena tidak mungkin menggugurkan kandungannya, maka jalan satu-satunya adalah membuat Jenny tak banyak pikiran dan tertekan," papar Alzeta.


"Baiklah, terima kasih Zeta." Ucap Dika.


Setelah mengobrol sebentar, Dika pun pamit undur diri karena ada hal penting. Lamunan Dika buyar, saat Jenny merintih dalam tidurnya.


Dengan sigap Dika mengelus lembut kepalanya, dan memeluknya dengan erat.


"Walau aku tak mencintai mu, aku sangat menyayangi mu Jenny." Bisik Dika.


Lalu Dika pun terlelap memeluk Jenny, dan calon anak mereka yang masih dalam perut.

__ADS_1


Keesokan paginya, Jenny bangun dari tidurnya yang nyaman. Tentu nyaman, dia berada dalam pelukan Dika. Jenny tak pernah bosan menatap wajah tampan Dika, dan tersenyum dia salah satu orang beruntung ke dua setelah Anyelir tentunya.


Ngomong-ngomong soal Anyelir, Jenny sangat ingin bertemu dengannya. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah dia mau bertemu dengan dirinya?


"Selamat pagi," ucap Dika, mengecup pipi Jenny.


Membuat pipi Jenny, bersemu merah merona.


"Selamat pagi juga," balas Jenny.


"Bagaimana hari ini? Anak daddy gak nyusahin mommy kan?" tanya Dika, mengelus lembut perut Jenny.


"Engga daddy," sahut Jenny, menirukan suara anak kecil. Membuat Dika tertawa, memang pagi hari di awali dengan senyum. Agar hari ini, berjalan dengan lancar.


"Hari ini jadwal kamu cek kandungan kan?"


"Hah? Eh... I-iya," jawab Jenny gugup.


"Aku akan antar, habis makan siang."


"Aku sendiri saja, aku takut kamu sibuk." Tolak Jenny.


"Tidak kali ini, aku akan meluangkan waktu ku untuk mu." Ujar Dika, dia jawab anggukan Jenny. Dia tak bisa menolak, apa ini waktu yang pas untuk mengatakan tentang penyakitnya?


***


Dan hari ini dia akan berkunjung ke cafe milik Anyelir kembali, dia sungguh rindu masakan Anyelir.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zea, saat melihat Dela sudah siap.


"Ke cafe yang kemarin, kebetulan dia teman ku ka." Jujur Jenny.


"Sepagi ini?"


Dela terkekeh merasa malu, dan menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Gak sih, aku mau jalan pagi sekitaran alun-alun."


"Aku tahu, kamu pasti kesal karena semalam kan?" Zea membuang napasnya dengan kasar.


"Ya begitulah," jawab Dela.


"Kamu tenang aja Del, daddy sudah memarahi Auriga semalam. Saat kamu sudah tidur," terang Zea.


"Biar daddy saja yang menemani mu jalan-jalan Dela," celetuk Jimi, membuat Dela dan Zea membulatkan matanya.


Tadi tak sengaja Jimi, mendengar anak dan menantunya berbicara tentang cafe yang semalam mereka datangi. Entah mengapa, Jimi ingin sekali lagi melihat wajah ayu Sekar.

__ADS_1


"Tumben? Pasti ada sesuatu," ucap Dela curiga.


"Apaan sih kamu Zea, daddy cuma mau temani Dela saja. Jangan berpikir macam-macam," omel Jimi.


"Oke maaf," balas Dela.


"Bagaimana?" tanya Jimi.


"Ya sudah, daddy boleh temani aku." Putus Dela, membuat senyum di wajah Jimi mengembang sempurna.


Walau usianya lima puluh lebih, tapi Jimi nampak seperti Keanu dan Auriga. Karena dia selalu menjaga pola hidup sehat, dan pola makannya yang selama ini selalu Zea awasi.


Sementara itu Auriga, Keanu dan anak-anak. Sedang berada di kolam renang apartemen, mereka meminta berenang di pagi hari karena jika siang sudah banyak orang.


"Tapu daddy janji jangan ajak Auriga," sambung Dela.


"Iya... Iya, daddy janji." Sahut Jimi.


Mereka pun sarapan terlebih dulu, karena Dela mengeluh lapar. Dan tak enak juga jika makan sendiri, alhasil Zea dan Jimi pun menemaninya makan.


Anyelir dan Sekar pun sudah di sibukkan dengan urusan pekerjaan, pagi-pagi buta Sekar sudah datang ke cafe dan mengecek kebutuhan yang habis. Dia selalu belanja sendiri ke pasar yang tak jauh dari cafe tersebut, makanya sayuran dan buah di cafe Anyelir. Selalu fresh tiap hari, dan hari ini mereka baru pulang belanja.


"Anye, ibu ke rumah dulu. Mau lihat anak-anak, sekalian mengantar Lilya sekolah." Papar Sekar.


"Ya bu,"


Anyelir pun membereskan semua belanjaannya, untuk beberapa hari ke depan. Saat dia tengah asik membereskan barang, tiba-tiba ada yang menutup matanya. Membuat Anyelir berdecak kesal, siapa lagi kalau bukan Axel.


"Axel." Rengek Anyelir, membuat Axel tertawa.


"Kamu selalu bisa nebak itu aku, dasar curang." Omel Axel.


"Ya aku bisa tahu, karena tangan mu kasar." Canda Anyelir, padahal Anyelir sudah hafal aroma parfum Axel.


Axel datang ke cafe Anyelir, untuk melaporkan keuangan rumah makan yang berada di Pangalengan. Karena Axel pun ikut mengawasi, rumah makan tersebut.


"Ibu Arumi apa kabar?" tanya Anyelir, di sela, memasukan barang belanjaannya.


"Baik, dia kangen kamu. Dan pengen ketemu kamu," kata Axel.


"Tapi ya, gitu. Ibu udah gak mau perjalanan jauh, padahal dari sini ke Pangalengan kan lumayan sih gak lama." Sambungnya lagi.


"Nanti aku akan jenguk Bu Arumi," sahut Anyelir.


Axel menatap lekat Anyelir, sulit sekali meruntuhkan tembok. Yang Anyelir bangun, dia setia pada satu pria yaitu Randika. Membuat Axel mengehela napas dengan pelan, dia pun terus memperhatikan Anyelir.


***

__ADS_1


__ADS_2