Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.54


__ADS_3

Sementara itu kencan yang di rencanakan oleh Ryan dan Rumi pun gagal, karena wanita yang akan di kenalkan oleh Ryan pada Rumi membatalkan pertemuannya.


"Maaf bos," ringis Ryan, yang mendapatkan tatapan tajam dari Rumi.


"Sudahlah lupakan, kita pulang saja." Ajak Rumi, dia melangkah keluar dari restoran hotel terlebih dulu.


Rumi tak habis pikir, kenapa Ryan menyewa restoran hotel. Memang mau apa mereka? Bertemu juga belum malah batal, sepanjang perjalanan Rumi terus menggerutu. Sampai lift turun dia tak sengaja menabrak dua orang gadis, yang sedang mabuk dan menabraknya di pintu keluar.


"Maira, Prisil?" pekik Ryan, yang mengenali mereka.


"Al, tolongin dulu mereka. Kasian mabuk," ujar Ryan.


Rumi yang tak pernah suka di panggil Al, langsung melirik tajam pada Ryan  dan langsung meminta maaf. Rumi memperhatikan Maira yang sudah memerah dan mulai melantur bicaranya, begitu juga Prisil mereka.


"Sepertinya mereka tak biasa mabuk," celetuk Ryan.


"Kita antar mereka pulang," putus Rumi, membuat Ryan tak setuju.


"Lebih baik kita menyewa hotel untuk mereka, jika orang tuanya tahu mereka mabuk. Bisa habis kita Rumi, orang tuanya pasti menyangka kita yang mengajak anak gadis mereka mabuk." Tutur Ryan, Rumi membenarkan ucapan Ryan.


Dan memutuskan untuk membawa kedua gadis tersebut ke apartemen milik Rumi.


"Lah, bukannya bawa ke hotel malah bawa ke apartemen." Gerutu Ryan dalam hati, namun Ryan pun mengikuti Rumi yang sedang memapah Maira sedangkan dirinya memapah Prisil.


"Kamu bawa dia," titah Rumi.


"Hah?"


"Maksudnya gimana nih? Gue bawa Prisil, lo bawa Maira gitu?" tanya Ryan memastikan.


"Iya cepat." Jawab Rumi dingin.


"Oke.. oke."


Ryan yang dalam kebingungan pun menuruti perintah Rumi, yang membawa Prisil ke tempatnya. Mobil Rumi sudah melaju terlebih dulu, lalu di susul oleh mobil Ryan.

__ADS_1


Di rumah Hito sudah sangat cemas, karena Maira belum pulang juga. Hito mencoba menghubungi nomor sang anak, namun nomornya tak aktif begitu pun nomor Prisil.


"Astaga... Kemana mereka ini?" gumam Hito.


"Kenapa sayang?"


"Maira belum juga pulang loh, dia janji akan pulang cepat." Ujar Hito, dia duduk di tepi ranjang dan memijat kaki Yusra.


"Mungkin dia nginap di rumah Prisil," cetus Yusra.


Hito menghembuskan napasnya dengan pelan, dan menatap Yusra yang akhir-akhir ini napsu makannya menurun.


"Kamu istirahat saja sayang, aku gak mau kamu sakit. Kasian baby dalam perut," tutur Hito dengan lembut.


Di tak pernah menyangka akan di beri kepercayaan kembali setelah sekian lam, mendapatkan anak kembali. Yusra memang susah hamil awal pernikahan mereka, namun Hito selalu memberikan dukungan pada Yusra untuk sabar menghadapi tentang kapan punya anak.


****


Sementara itu di rumah Anyelir, Dika masih setia berada di sana. Walau waktu menunjukan pukul sepuluh malam, dia hanya mengkhawatirkan Melinda yang akan menangis di malam hari.


"Bukannya aku ngusir mas, tapi aku gak enak sama warga sini." Lanjutnya kemudian.


Dika pun membernarkan ucapan Anyelir, tapi dia bingung untuk pertama kalinya Dika berjauhan dengan Melinda.


"Baiklah, aku pulang kalau begitu. Jika Melinda rewel kamu hubungi aku saja," kata Dika.


"Iya mas," jawab Anyelir dengan cepat.


Dika masuk ke dalam mobilnya, memandang pintu yang sudah tertutup rapat. Anyelir yang masih di balik pintu bernapas dengan lega, dia sungguh takut di grebek warga sini.


Anyelir pun masuk ke kamarnya, menatap kedua gadis kecil di yang sedang terlelap dengan berpelukan, Ameera berhasil tidur di dalam gendongan Dika. Anyelir mengusap rambut Melinda, walau ada kemiripan dengan Jenny tapi dia tak mungkin membenci Melinda yang tak tahu apa pun.


Waktu bergerak begitu cepat, tak terasa pagi tiba. Melinda belum pernah merasakan tidur dengan nyenyak seperti semalam, biasanya dia selalu menangis dan mencari sang ibu.


Anyelir pun mengerjapkan matanya, dia menatap Melinda yang sedang menatapnya.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Anyelir.


"Sudah tante, terima kasih tante." Ucap Melinda.


"Terima kasih untuk apa?"


"Udah izinin aku tidur sama tante dan Ameera."


Anyelir mengusap puncak kepala Melinda, dia pun tersenyum dengan lembut.


"Sama-sama, kalau kamu mau menginap lagi juga boleh sayang. Tapi harus izin sama daddy kamu yah!" Ujar Anyelir.


"Iya tante, tapi aku juga mau tidur sama daddy aku rindu." Kata Melinda.


Melinda tak bisa jauh dari Dika, dia sangat merindukan Dika saat ini. Biasanya tiap bangun tidur, Melinda akan di peluk oleh Dika dan di bawa olahraga pagi.


"Nanti kita hubungi daddy mu oke! Tapi Melinda harus cuci muka dulu," cetus Anyelir, di jawab anggukan oleh Melinda. Ameera masih tidur, dia sama sekali tak terganggu dengan suara Anyelir dan Melinda.


Anyelir membantu Melinda mencuci muka, dan menggosok giginya.


"Kamu gak mau mandi dulu?" tanya Anyelir.


"Engga tante, aku biasa siang." Melinda terkikik.


"Baiklah, ayok sudah selesai."


Melinda masih menggunakan baju tidurnya, dia memang biasa mandi aga siang. Anyelir meminta Melinda menunggu di kamar bersama dengan Ameera yang tertidur, sedangkan Anyelir akan membuat sarapan untuk mereka. Lalu pergi ke cafe sebentar.


Anyelir hanya menghangatkan makanan yang di bawa oleh Dika semalam, dan hanya memasak nasi saja. Sambil menunggu nasi matang, Anyelir masuk ke ruang cuci karena sudah dua hari dia tak mencuci.


Dari arah kamar, dia bisa mendengat celotehan Ameera dan Melinda. Anaknya itu juga tak rewel saat bangun tidur, jika ada temannya. Sayup-sayup Anyelir mendengar suara Melinda yang memanggil daddy.


"Apa mereka sedang video call?" tanya Anyelir, namun Anyelir tak memusingkan mana mungkin Dika datang sepagi ini begitu pikirnya.


****

__ADS_1


Semoga suka, maaf upnya dikit 🙏


__ADS_2