
Dua minggu berlalu, kini hari lamaran Dika dan Jenny tiba. Banyak wartawan dan pemburu berita lainnya, langsung menuju ke kediaman Sanova. Siapa yang tak kenal Sanova? Perusahaan yang mengeluarkan bintang, yang multitalenta dan berbakat lainnya.
Pertunangan tersebut di gelar meriah, bahkan Rafa pun pulang dari luar Negeri. Sementara Tara, dia sudah berada di rumah Dika.
Laura menerima Tara dengan tangan terbuka, dan merawat Tara. Membuat Tara menangis, merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Yumna dan Yusra pun menyayangi Tara, seperti adik mereka sendiri.
"Ayok Tara," ajak Laura.
"Ta-tapi aku takut, bertemu da-daddy," ujarnya.
"Kamu jangan takut, ada ibu, ka Yusra ka Yumna dan papi Mario. Kami akan melindungi mu sayang," Laura mengusap pipi Tara, dia merasa iba akan nasib Tara yang di tinggal sejak kecil oleh seorang ibu. Dan di campakkan oleh sang ayah.
Tara menunduk dia tetap cemas, akan bertemu dengan Alderik. Terutama dengan Linda, dia sempat bertemu sekali dan bersikap kurang baik pada Tara.
Tara pun menurut mengikuti langkah Laura, sudah ada Dela dan Auriga beserta kedua anaknya. Yang menunggu di ruang tamu, sementara Dika masih berada di dalam kamar.
"Dika belum juga turun?" tanya Laura.
"Belum bu," jawab Yumna.
"Ya sudah ibu lihat dulu, Tara kamu di sini dulu sama yang lain. Ibu akan menemui ka Dika," ujar Laura.
"Ba-baik bu," balas Tara pelan.
Tara pun duduk di dekat Yumna, dia menunduk karena tak biasa berinteraksi dengan banyak orang. Sedangkan bibi Maura sedang menemani Jenny, dan perawat yang selalu bersama Tara memantau Tara dari jauh. Karena selama di rumah Dika, Tara baik-baik saja.
Laura berjalan menuju kamar Dika, dia membuka pintu setelah mendapat izin masuk.
"Kamu sudah siap nak?"
"Sudah bu,"
Laura menatap Dika, dan membelai wajah sang anak yang sudah dewasa.
"Gak kerasa, kamu sudah besar aja nak!"
Dika tersenyum menatap sang ibu, lalu memeluknya dengan erat.
"Aku gak akan bisa, manja-manja sama ibu lagi. Kalau sudah menikah," bisik Dika dalam pelukan Laura.
"Iya nanti kamu manja-manja sama istri mu saja," kekeh Laura.
Laura pun melepaskan pelukan Dika, dan merapihkan sedikit rambut sang anak.
"Ayok kita berangkat, semua orang sudah menunggu. Raihlah masa depan mu, ibu tahu belum ada cinta untuk Jenny dari mu. Jika bisa jangan pernah menyebut nama Anyelir," pesan Laura.
"Ya bu," balas Dika pelan.
__ADS_1
Walau bagaimana pun, Anyelir adalah cinta pertamanya. Dan tak akan pernah dia lupakan, sampai kapan pun. Dika berharap memiliki kesempatan untuk bertemu dan bersama dengan Anyelir suatu saat nanti.
***
Berpuluh menit kemudian, keluarga besar Dika sudah sampai di kediaman Sanova. Dan para pemburu berita, sudah menunggu di luar rumah.
"Mereka sudah sampai," seru salah seorang wartawan.
Mereka pun langsung menyerbu mobil yang di bawa oleh Mario, yang terdapat Dika dan Laura.
"Randika, mas. Bagaimana tanggapan anda tentang pertunangan ini?" tanya salah satu wartawan.
"Apakah anda bahagia? Saya dengar anda di jodohkan?" tanya yang lain.
Namun Dika enggan menjawab, dia hanya tersenyum tipis. Dan langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan wartawan di hadang oleh bodyguard keluarga Sanova.
Seluruh keluarga besar Dika sudah masuk ke dalam rumah mewah, yang telah di sulap menjadi sedemikian rupa. Terdapat foto Jenny dan Dika, secara terpisah.
Di luar di sediakan tv besar, untuk melihat prosesnya lamaran untuk para wartawan yang meliput. Dan live untuk para fans Jenny.
Anyelir sendiri dia pun melihat prosesi lamaran antara Dika dan Jenny, ada rasa sakit di hatinya saat melihat orang yang dia cintai akan menikah.
"Semoga kamu bahagia Dika," lirihnya.
"Hidup mu harus berjalan Nye, kamu harus bahagia. Walau tanpa Dika kamu pasti bisa!" bisik Anyelir dalam hati, dia menyemangati diri sendiri.
"Kamu baik-baik saja Cinta?" tanya Bu Sekar, tadi diam-diam bu Sekar melihat Anyelir mengusap pipinya.
"Ya aku baik-baik saja bu," ucap Anyelir.
"Ibu gak tahu, apa hubungan mu dengan laki-laki yang bernama Randika itu. Ibu berharap, kamu menemukan kebahagiaan mu sendiri Cinta." Papar Bu Sekar, di jawab anggukan Anyelir.
"Sekarang kita fokus, untuk usaha mu saja yah! Ibu akan bantu jualan," ujar Bu Sekar.
"Ya bu."
Anyelir tersenyum dan menatap ke arah televisi, yang menampilkan wajah rupawan Dika. Lalu mematikan tv tersebut.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihan, orang tua mu Dik." Gumam Anyelir.
****
Acara pertunangan berlangsung meriah, Jenny terharu walau dia sempat jahat. Tapi dia di beri kesempatan untuk bersama Dika, Alderik terus menatap lekat Tara yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Ada rasa rindu yang tak bisa di ungkapkan oleh Alderik, pada sang anak. Dia tahu mungkin dia sudah kelewatan.
Tara nampak tenang di antara keluarga Dika, dia tak memperhatikan Alderik. Matanya tertuju hanya pada Jenny, dengan senyum mengembang sangat cantik.
__ADS_1
Semua sepakat bahwa pernikahan, akan di adakan satu bulan lagi. Jenny menatap Tara yang tersenyum padanya, dan dia menatap Dika yang menampilkan senyumnya juga.
"Jangan cemberut dong sayang," bisik Auriga.
"Tapi aku kesal loh! Masa di tayangkan secara live juga sih," kesal Dela.
"Memang kenapa? Toh dia artis,"
"Iya tapi Anyelir pasti lihat," jelas Dela.
"Sudahlah jika Dika dan Anyelir, berjodoh aku yakin mereka akan bersama menuju jalan. Yang di takdir kan untuk mereka," tutur Auriga.
Dela pun mengangguk saja, dan mengelus lembut perutnya. Tiba-tiba dia lapar, saat tak sengaja matanya melirik sate ayam di meja.
"Sayang, aku lapar." Bisik Dela.
"Sabar sebentar lagi kita makan," kekeh Auriga, membuat Dela cemberut.
Auriga mengusap perut rata Dela, yang di dalamnya tengah tumbuh calon anaknya dengan Dela.
Sementara gadis-gadis kesayangan Dika, tak lupa bersorak untuk sang paman kesayangan.
"Uncle selamat," pekik Lula, Ara dan Tatiana.
Tak lupa Manda pun ikutan menyerukan nama Dika, semakin ramai saja rumah Jenny. Setelah selesai memberikan selamat, semua tamu yang datang langsung menuju meja. Yang menyediakan berbagai macam hidangan.
"Huh... Akhirnya, aku gak sabar pengen cicipi sate ayam ini." Kata Dela pada Maira, kini Dela dan Maira sedang mengantri mengambil makanan.
Sedangkan Auriga berada di belakang Yumna, Yusra, Bara dan Hito.
"Auriga," sapa Hito.
Auriga hanya mengangguk saja, rasanya masih canggung sekali pada keluarga Dela.
"Bar mantu mu tuh, gimana rasanya punya mantu yang seumuran?" tanya Hito.
"Gak gimana-gimana sih, memang kenapa?"
"Gak papa, aneh aja."
Tawa Hito pun pecah membuat Auriga dan Bara, kompak memutar mata malas.
Semoga suka
tbc...
Aku baru pulang dari Bandung, pas di Bandung juga banyak banget kegiatannya bareng keluarga. maaf kalau ada typo dan nunggu lama.
__ADS_1