Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.48


__ADS_3

...Jika mulut bisa berdusta, tapi tidak dengan hati yang masih menginginkan mu....


Setelah menormalkan debaran jantungnya, Dika tersenyum pada Melinda yang mengkhawatirkan Dika.


"Daddy baik-baik saja," ucap Dika, membuat Melinda mengangguk.


"Anyelir apa kabar?" tanya Dika, walau dalam hatinya di sungguh berdebar.


"Ba-baik mas eh.. Dika." Jawab Anyelir gugup.


Maira dan Lula pun mengajak anak-anak menjauh, memberikan kesempatan pada dua orang dewasa yang akan melepas rindu. Melinda sempat protes, tapi dengan bujuk rayu akhirnya dia menurut.


"Daddy jangan lupa minta nomor ponsel, ibunya Ameera." Pekik Melinda.


"Iya sayang," sahut Dika dengan terpaksa.


Canggung yang terjadi di meja Dika dan Anyelir, mereka saling diam dan saling tatap. Seolah sulit untuk merangkai kata yang terucap, sementara Maira yang dari kejauhan tertawa merasa lucu menatap sang paman yang sudah seperti anak abegeh saja.


"Kalo Dela tahu, heboh satu Rt nih." Kekeh Maira.


Maira pun kembali bergabung bersama anak-anak, dia mengawasi Melinda, Rakai dan Ceilo.


"Jadi... Ameera anak mu? Kamu sudah menikah?" cerca Dika.


"Iya mas," lirih Anyelir menunduk.


"Dia cantik seperti kamu, suami mu.."


"Dia meninggal karena kecelakaan," potong Anyelir dengan terburu-buru, seolah tak ingin Dika salah paham.


Dika hanya menganggu sebagai jawaban, lalu meminum minumannya untuk mengurangi kegugupannya hening kembali tercipta di antara mereka.


"Aku boleh minta nomor kamu? Jangan salah paham, Ameera selalu merengek ingin bertemu Melinda." Tutur Anyelir dengan cepat, dia takut Dika salah paham karena masih mengharapkan Dika.


Dika tersenyum lalu mengetikan nomornya pada ponsel Anyelir, dan memberi nama Daddy Melinda. Membuat Anyelir tersenyum.


Setelah puasa bermain, Dika mengajak anak-anak pulang. Karena hari akan berganti menjadi malam, padahal baru pukul enam tapi di luar seperti pukul delapan karena gelap.


"Sepertinya hujan akan turun," celetuk Lula.


"Iya makanya uncle ajak kalian pulang cepat," sahut Dika, sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir mall.


Saat melewati halte bus, tak sengaja Melinda melihat Ameera dan Anyelir.


"Daddy... Daddy, itu Ameera." Pekik Melinda.

__ADS_1


"Iya daddy tahu sayang," jawab Dika.


"Ajak mereka dad, kasian. Ameera bilang mereka ke mall ini naik taxi online," tutur Melinda.


"Tapi sayang arah rumah kita beda loh," jelas Dika.


"Gak mau pokoknya daddy harus, izinin tante Anyelir ikut." Ketus Melinda, membuat Dika memijat keningnya Maira pun mengulum senyum menahan tawa.


Dengan terpaksa Dika memundurkan mobilnya, dan berhenti tepat di depan Anyelir dan Ameera.


"Ameera," seru Melinda, sementara si kembar sudah berada di dalam mimpi.


Ameera tersenyum menatap Melinda, yang duduk di depan bersama Dika. Maira dan Lula berpura-pura memainkan ponselnya, dia tak ingin Anyelir tak enak hati.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Melinda, Ameera melirik Anyelir.


"Kita naik bus Melinda," jawab Ameera.


"Daddy boleh Ameera sama tante Anyelir, boleh ikut?" tanya Melinda lagi, untuk memastikan bahwa ayahnya tak berubah pikiran.


"Boleh sayang," sahut Dika.


"Ayo Meera, tante. Daddy udah izinin lo," tutur Melinda.


"Ayok bu," bujuk Ameera.


"Baiklah, tapi aku duduk di belakang saja yah."


"Tidak Anyelir kamu, Melinda dan Ameera di depan." Titah Dika, karena di belakang sudah penuh oleh Lula dan Ara tampak Rakai tidur di pangkuan Lula. Lalu Maira dan Ceilo di belakang, dengan Ceilo tidur di pangkuan Maira jadi tidak ada alasan Anyelir untuk di depan.


"Apa tidak sempit?" tanya Anyelir pada Ameera dan Melinda.


"Tidak ibu, malah aku senang bisa berdiri bersama Melinda." Ucap Ameera dengan antusias.


"Iya tante, biasanya aku sama daddy berdua kalo di mobil." Timpal Melinda.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Anyelir, Melinda lebih banyak menceritakan kesehariannya di Singapura. Mulai dari bangun tidur, mandi dan yang tak penting lainnya. Melinda juga bercerita bahwa dia sering ke makam ibunya, hanya untuk melepas rindu.


"Aku sering ke lumah mommy, kalo kangen. Kata daddy, mommy udah bahagia di dekat Tuhan." Oceh Melinda.


Anyelir pun melirik Dika, dia masih tak percaya benarkah Jenny sudah tiada? Tapi sakit apa dia?


Ameera pun sesekali menimpali obrolan Melinda, tak terasa Dika sudah sampai di rumah Anyelir yang cukup asri dengan tanaman di depannya. Bisa Dika tebak, bahwa di taman belakang rumah Anyelir banyak berbagai macam bunga.


"Terima kasih Melinda, om Dika. Udah kasih aku sama ibu tumpangan," ujar Ameera, melambai pada Dika dan Melinda.

__ADS_1


"Sama-sama sayang," balas Dika.


"Sekali lagi makasih ya mas," sahut Anyelir, di jawab anggukan oleh Dika setelah itu pamit dan meninggalkan perumahan tersebut.


"Daddy Melinda baik yah bu, beruntung Melinda punya daddy kaya Om Dika." Cetus Ameera.


"Ayah Axel juga baik, jika dia ada pasti dia akan sayang sama kamu nak!"


Ameera hanya mengangguk saja, dia pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. Sambil menunggu Anyelir, membawakan minuman untuknya.


"Aku mau deh punya ayah, kaya om Dika." Celetuk Ameera.


Membuat Anyelir tersedak, beruntung dia selesai minum jika tidak. Bisa di pastikan minumannya tersembur keluar, mengenai sofa atau lantai.


***


"Kamu mau ke mana Arjuna?" tanya Melati, saat Arjuna sudah memakai baju kembali.


"Aku harus pulang," sahut Arjuna.


"Kenapa pulang? Bukannya kamu janji, akan di apartemen ku sampai pagi?"


Arjuna menatap tajam Melati, namun Melati tak gentar sekali pun. Bahkan dia turun dengan tubuh, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.


"Pakai baju mu sekarang juga," titah Arjuna.


"Aku tidak mau, aku maunya kamu." Rengek Melati.


"Sudahlah Melati, jangan melebihi batasan mu kamu haru ingat. Kalau kamu hanya jadi teman ranjang ku," tekan Arjuna.


"Aku tahu dan tak akan lupa, tapi aku masih merindukan mu sayang."


"Mel, masih ada waktu besok sayang. Sebentar lagi kita akan keluar negeri kan? Kita manfaatkan pekerjaan sebagai liburan bersama," cetus Arjuna, di jawab anggukan oleh Melati dengan antusias.


Dengan terpaksa Melati merelakan Arjuna pulang, padahal masih pukul sepuluh malam. Biasanya Arjuna menghabiskan waktu bersamanya sampai larut malam.


Menempuh jarak satu jam, Arjuna sampai di rumah sederhana yang dia tempati selama kurang lebih tiga tahun. Rumah ini hadiah pernikahan untuk Reen saat itu, saat pertama membuka pintu suasana cukup sunyi dan gelap. Arjuna selalu membawa, kunci cadangan agar tak harus membangunkan Reen.


Arjuna tahu kebiasaan Reen, selalu tidur di atas pukul sepuluh malam. Tapi kali ini, rumah tampak sepi dan kamar pribadi miliknya pun sudah temaram. Arjuna membuka pintu kamarnya, mendapati Reen sudah tertidur memeluk guling.


Arjuna pun mendekat, dan mencium kening Reen.


"Maafkan aku sayang," gumam Arjuna, dia pun beranjak menuju kamar mandi. Untuk membersihkan diri, lalu ikut bergabung bersama Reen mengarungi alam mimpi.


Arjuna memeluknya dari belakang, tak membutuhkan waktu kama. Arjuna langsung terlelap, dan saat itu Reen membuka matanya. Dia tak tidur, hanya pura-pura saja.

__ADS_1


****


__ADS_2