
Malam harinya keluarga besar Dika sudah berada di rumah Anyelir, Anyelir yang di dampingi oleh Sekar dan Jimi menerima Mario dan Laura dengan baik.
Mereka membahas tanggal pernikahan setelah menerima lamaran dari Dika, dan satu minggu lagi acara pernikahan Dika dan Anyelir akan di selenggarakan di halaman rumah Anyelir..
Tara pun ikut bersama bibi Maura atas permintaan Dika, karena akan di pertemukan dengan Alderik. Bibi Maura sudah di beritahu oleh Dika, dan bibi Maura setuju agar Tara bisa dekat dengan ayahnya.
Acara lamaran Dika dan Anyelir berjalan lancar, dan mereka memutuskan menikah satu minggu dari sekarang dengan sederhana di rumah Anyelir.
"Kenapa gak bikin acara meriah?" tanya Dela, kini Dela dan Anyelir tengah bersantai bersama yang lainnya.
Sedangkan para lelaki berada di halaman belakang rumah.
"Gak usah, yang penting sah di mata agama dan Negara." Jelas Anyelir, di jawab anggukan oleh yang lain.
"Iya sih, emang kamu gak mau memiliki kesan gitu? Atau apalah gitu," Dela tetap kukuh pada pendiriannya, ingin Anyelir dan Dika menikah dengan resepsi meriah.
"Kok ka Dela sih yang riweh?" sahut Maira.
"Biarin lah, kasian opa sama grany uangnya nganggur." Celetuk Dela, membuat Laura menggeleng.
"Gak apa, buat masa depan anak-anak uangnya." Kekeh Anyelir.
"Jangan bilang kamu malu karena janda dan duda? Lagian kenapa sih? Kalian kan duren sama jahe." Cetus Dela.
"Apa tuh jahe?" tanya Maira.
"Janda herang." Tawa Dela dan Maira pecah, sementara Anyelir langsung mencubit lengan Dela merasa gemas.
"Ada-ada saja kamu ini Dela," celetuk Yumna, yang sejak tadi menyimak bersama Yusra, Sekar dan Laura.
Sementara anak-anak berada di tempat bermain, di awasi oleh pelayan rumah Sekar.
Alderik sudah sampai di perumahan milik Anyelir, terlihat keraguan saat akan masuk. Dia mencoba menenangkan diri, dengan menarik napas dan menghembuskannya sampai Alderim tenang bertemu dengan Tara.
Setelah merasa lebih baik, dia mengirim pesan pada Dika. Kalau dia sudah berada di depan, dan tak enak untuk masuk.
Tak membutuhkan waktu lama, Alderik melihat Dika membuka pintu gerbang. Lalu menghampiri Alderik, dan mengajak Alderik masuk ke dalam. Tara sedang bersama Lula, Ara dan Tatiana.
"Ayok masuk dad," ajak Dika, walau Jenny sudah tiada. Tapi dia tetap menghormati Alderik menjadi mertuanya, karena adanya hubungan darah dengan Melinda. Bagaimana pun juga, Melinda mewarisi sebagian harta milik Alderik atas nama Jenny yang akan di berikan pada Melinda. Untuk Tara pun, Alderik sudah memberikan bagiannya.
__ADS_1
"Dimana Tara?" tanya Alderik, yang sudah sampai ruang tamu yang hanya ada para wanita.
"Dia ada di kamar Ameera," jawab Dika.
"Bi tolong panggil Tara," pinta Dika pada bibi Maura.
"Baik tuan."
Bibi Maura pun menuju kamar Ameera.
"Ada yang ingin bertemu," kata Bibi Maura.
"Siapa bi?"
"Kejutan untuk mu, tapi kamu harus janji jangan pernah takut dan kendalikan emosi mu. Oke!"
"Oke."
Tara dan bibi Maura keluar dari kamar Ameera, di ikuti oleh Melinda yang selalu penasaran. Sementara yang lain tetap di dalam kamar, asik menggambar.
"Kakek," pekik Melinda, saat melihat Alderik berbincang dengan Mario dan Jimi.
Jantung Tara berdebar kencang, tiba-tiba dia merasa lemas dan sesak bahkan sampai gemetar. Sungguh dia sangat takut, saat melihat orang yang di panggil kakek oleh Melinda.
"Bibi." Lirih Tara.
"Kenapa? Jangan takut, di sini banyak orang." Tara menggeleng, dia sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak mau bi, aku takut." Tolak Tara, dia tak ingin bertemu dengan Alderik.
Bahkan saat belum sampai, karena dari sini bisa terlihat Alderik yang tengah mengajak Melinda berbicara.
"Coba sayang, kamu jangan takut. Tenang rileks," ujar bibi Maura, mencoba menenangkan Tara.
Tara pun mencoba menangkan hatinya, dia menarik napas dan menghembuskannya agar lebih tenang. Tapi tetap saja, setiap perkataan, hinaan dan cacian padanya selalu membekas dalam ingatan Tara. Tara langsung membalikan tubuhnya, masih belum siap bertemu dengan ayahnya saat akan melangkah suara Alderik menghentikan langkahnya.
"Tara." Panggil Alderik, membuat langkah Tara berhenti namun dia tak menoleh sama sekali.
"Maafkan daddy nak,"
__ADS_1
"Daddy selama ini jahat sama kamu, tapi percayalah daddy sangat menyayangi mu." Isak Alderik, sudah dekat dengan Tara.
Dia mengusap puncak kepala sang anak, namun Tara segera menyingkir.
"Tara." Lirih Alderik.
"Jangan sentuh aku," tegas Tara.
"Sepanjang hidup ku aku tidak punya ayah sama sekali, yang aku punya hanya ka Jenny yang sudah pergi. Ibu Laura, ayah Mario, keluarga ka Yumna dan keluarga ka Yusra, bibi Maura, perawat yang mengurus ku serta ka Dika. Mereka adalah keluarga ku yang sesungguhnya, yang mau menyayangi ku dengan tulus." Tutur Tara panjang lebar.
"Sayang... Maafkan daddy."
"Tidak..." Pekik Tara, dia begitu frustasi dan sangat sedih.
"Aku tidak butuh maaf mu, aku tidak butuh." Teriak Tara.
"Kamu bukan daddy yang baik untuk ku dan ka Tara, kamu selalu menyuruh ka Jenny mati. Dan selalu mencaci ku," isak Tara pada akhirnya, dia pun luruh dan terduduk di lantai menyembunyikan wajahnya.
Dia sungguh sangat merindukan Jenny, Melinda yang melihat itu sangat takut karena tantenya mengamuk.
"Anyelir tolong bawa Melinda, pertengkaran ini gak baik. Buat mentalnya," kata Dika.
Anyelir membawa Melinda kembali ke kamar Ameera, dan meminta Maira menjaga Melinda dan menenangkannya.
Anyelir kembali lagi ke depan, dan sudah melihat Tara pingsan. Entah apa yang terjadi pada dirinya, Anyelir hanya tahu sekilas tentang Tara yang di telantarkan oleh Alderik. Dan Jenny yang kerja keras untuk mendapatkan uang untuk sang adik, Anyelir kira kehidupan Jenny sangat lah sempurna. Nyatanya, dia sama saja perempuan lemah yang membutuhkan perlindungan.
Dan bersama Dika, dia sudah tepat dan sekarang dia sudah bahagia bersama sang ibu di surga.
"Tuan Alderik, sebaiknya anda jangan memaksa nona Tara. Dia masih sangat Trauma dan panic attack," jelas bibi Maura, mencoba membangunkan Tara.
"Sudah om, lebih baik om pulang saja. Aku takut Tara nekat," timpal Dika, yang tadi melihat bagaimana Tara mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak setelah. Setelah meluapkan emosinya.
Alderik menatap nanar tubuh sang anak, yang di bawa ke kamar tamu. Sebegitu nya dia pada Tara dulu? Sampai dia takut padanya?
"Tara... Maafkan daddy nak! Berikan daddy kesempatan nak, daddy janji akan memanjakan mu menjadi ayah yang baik untuk mu." Gumam Alderik, dia melangkah gontai keluar dari rumah Anyelir.
Yang lainnya menatap iba, tapi tak bisa apa-apa. Bara dan Hito sangat beruntung, bisa dekat dengan anak-anaknya. Walau terkadang mereka cerewet, dan banyak maunya, suka melakukan hal aneh. Mungkin itu bentuk dari, mencari perhatian pada sang ayah.
***
__ADS_1
Semoga suka 💜 maaf typo