Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.88


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul lima sore, Fransiska bergegas untuk pulang. Karena tak sabar untuk memberitahukan tentang Melinda, yang sangat mirip dengan Jenny pada sang suami Alzeta. Siska tahu, bahwa Alzeta sudah pulang lebih dulu.


Berpuluh menit kemudian, Siska sudah sampai di kediaman mewah miliknya yang merupakan hadiah kehamilan anak pertama dari Alzeta.


"Sayang sudah pulang?" tanya Alzeta.


"Iya, pekerjaan ku di rumah sakit sudah beres." Balas Siska.


"Dimana anak-anak?" tanya Siska, kini mereka sudah duduk berdua di balkon kamar. Kebiasaan Siska dan Alzeta, setelah pulang dari bekerja.


"Mereka di kamarnya," jawab Alzeta, di jawab anggukan oleh Siska.


"Kamu ingat tentang Jenny, teman kita?"


"Iya memang kenapa? Dia sudah tenang di surga sayang," ujar Alzeta mengusap pipi sang istri.


"Iya aku tahu kalau itu, tadi aku ketemu pasien ibu muda. Dia mirip sekali dengan Jenny, apa dia putri dari Jenny?" tebak Siska.


"Coba lihat fotonya?"


Fransiska pun mengetik nama Melinda istri dari Axel Johnson, setelah menemukan fotonya Fransiska langsung memberikan ponselnya.


"Mirip kan?"


"Iya sekilas mereka bak pinang di belah dua, tapi ada sedikit Dika di sana. Jika iya, dia sangat cantik aku jadi ingin bertemu." Kata Alzeta, mereka memang merindukan sang sahabat Jenny dan ingin bertemu dengan putri dari Jenny. Namun kesibukan mereka berdua, membuat mereka menunda keinginan bertemu dengan putri dari Jenny dan Dika.


****


Sementara itu Anyelir sudah mengirim pesan pada Axel, dan Axel pun berjanji untuk mengajak Melinda bertemu dengan Dika. Dan kini Axel sedang memeluk Melinda, tiba-tiba dia sangat manja dan sampai melarang Axel untuk mandi.


"Sayang aku mau mandi loh!"


"Tapi aku suka bau kamu," rengek Melinda, membuat Axel menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Sayang... Kalau daddy Dika, ingin bertemu apa kamu mau?"


Melinda nampak berpikir dalam dekapan Axel, dia pun menatap sang suami.


"Tapi kamu ikut yah!"

__ADS_1


"Iya."


"Aku mau ketemu asal sama kamu, biar ada yang jaga dan lindungi aku." Jelas Melinda, di jawab anggukan oleh Axel.


"Kita jadi menginap di rumah tante Tara?"


"Iya tante sama uncle pun gak masalah, ini kamar mommy dulu." Ujar Melinda.


Melinda mengusap pipi Axel yang di penuhi dengan bulu-bulu.


"Kenapa?"


"Engga apa-apa, aku makin cinta sama kamu." Kekeh Melinda, dia membenamkan wajahnya di dada Axel dan memejamkan matanya karena mengantuk.


Hari ini Axel pun menyanggupi untuk bertemu dengan Dika dan Anyelir, tapi tanpa Ameera dan Aaron.


Di rumah Anyelir merasa bersyukur, karena Melinda mau menemui dirinya dan Dika. Anyelir melirik Dika yang tengah terlelap, laku keluar dari kamar dan mendapati Ameera sedang duduk di ruang tamu sambil makan buah.


"Ibu, kok lama sih." Protes Ameera.


"Maaf sayang, tadi daddy minta di temani." Kata Anyelir.


"Iya."


"Kok tumben sih,"


"Entahlah ibu tidak tahu," jawab Anyelir mengedikan bahu acuh.


"Kamu jadi pulang hari ini?" tanya Anyelir.


"Iya aku mau makan malam, sama Azriel."


Anyelir pun mengangguk, lalu menemani Ameera menunggu Azriel pulang yang berjanji akan menjemputnya.


Tepat pukul delapan malam, Anyelir sudah siap dengan dress berwarna biru muda. Tak lupa Dika pun sudah tampan dengan kemeja berwarna hitam, dan celana bahan. Ameera sudah pulang satu jam yang lalu, jadi tak akan memunculkan pertanyaan dari Ameera yang selalu cemburu pada Melinda.


"Aku gugup sekali," ujar Dika, menatap pantulannya di cermin belum terlalu tua.


"Tenang, tarik napas, buang." Instruksi Anyelir, dan Dika melakukannya.

__ADS_1


"Ayok," ajak Dika, mereka keluar dari kamar dan berpapasan dengan Aaron.


"Daddy, ibu mau ke mana?" tanya Aaron.


"Kencan dong," kekeh Anyelir, membuat Aaron memutar bola mata malas. Tapi dia senang setidaknya ayahnya, tak mengingat kesedihan tentang sang kakak.


"Kamu gak mau ikut nak?" tanya Dika.


"Engga daddy, aku gak mau jadi obat nyamuk. Tapi ingat aku gak mau punya adik," goda Aaron, membuat Dika dan Anyelir tertawa.


Anyelir menatap ponselnya, terdapat pesan dari Axel bahwa kini mereka dalam perjalanan.


"Ya sudah kami pergi dulu," pamit Anyelir memeluk sang anak.


"Iya, have fun bu. Dad," ucap Aaron, di jawab anggukan oleh Anyelir.


****


Di dalam mobil Axel, Melinda terus bertanya akan kemana mereka dan bertemu siapa? Namun Axel selalu menjawab rahasia, dan kejutan untuk Melinda.


"Masih lama?" tanya Melinda.


"Sabar yah!" ucap Axel mengelus puncak kepala Melinda.


Berpuluh menit kemudian, Axel dan Melinda sudah sampai di restauran Horizon.


"Mau ketemu siapa sih? Sampai di privat room segala, emang orang penting?" tanya Melinda, saat pelayan mengarahkan mereka ke ruangan yang sudah di pesan oleh Dika.


"Ada saja, kejutan untuk mu sayang." Jawab Axel, mencium pipi Melinda dan mengajaknya masuk.


"Kita tunggu di sini, sebentar lagi mungkin akan sampai."


Melinda pun hanya diam menurut perkataan Axel, lalu melihat-lihat menu masakan restauran tersebut. Satu jam kemudian, suara seseorang yang Melinda kenal membuatnya membeku seketika. Begitu juga Dika, yang hanya terdiam mematung di ambang pintu.


"Daddy," lirih Melinda.


****


Semoga suka, maaf typo jangan lupa vote!

__ADS_1


__ADS_2