Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.69


__ADS_3

Sementara itu Aaron yang sudah mencari Melinda ke mana pun, tak menemukan sang kakak. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah Laura dan Mario, Aaron menatap jam di tangannya pukul sepuluh.


"Ibu aku menginap di rumah Grany," kata Aaron dalam pesan chatnya, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Setidaknya Aaron sudah mengirim pesan, pada sang ibu.


Berpuluh menit kemudian, Aaron sudah sampai di kediaman Mario. Nampak sepi karena mungkin sudah tertidur, hanya satpam yang bergantian berjaga.


"Mas Aaron, kok tumben ke sini?"


"Iya aku abis jalan-jalan tadi, ehh kemalaman. Pak," kata Aaron memberikan alasan.


"Masuk dulu pak," pamit Aaron.


"Silahkan mas," balas penjaga rumah Mario.


Karena Aaron sering menginap di rumah Mario, dia memiliki kunci cadangan yang dulu sering di pegang oleh Dika. Saat masuk, suasana rumah sudah mulai sepi dan sebagian lampu sudah di padamkan.


Aaron naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Kamar khusus setiap anak-anak Dika dan Dela menginap, karena anak dari Yusra tak perlu menginap rumah mereka dekat.


Saat akan masuk ke kamar, pintu kamar Mario terbuka. Dan menampilkan wajah mengantuk Laura, walau sudah memiliki cucu banyak dan dewasa. Laura masih cocok menjadi ibu bagi Aaron.


"Grany," sapa Aaron, membuat Laura terlonjak kaget.


"Aaron, astaga kamu. Bikin kaget Grany saja," omel Laura, Aaron meringis dan meminta maaf.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Laura.


"Aku nginap yah? Tadi abis cari ka Melinda, tapi gak ketemu. Akhirnya kemalaman," tutur Aaron.


"Memang kemana Melinda? Tumben dia tak pulang?"


"Aku gak tahu Grany, nomornya pun gak aktif. Grany mau ke mana?"


"Mau ambil air, opah mu haus." Balas Laura, di jawab anggukan Aaron.


Laura pun menyuruh Aaron untuk beristirahat, sementara Laura menuju dapur untuk mengisi air. Akhir-akhir ini, kesehatan Mario menurun.


Keesokan paginya di apartemen Melinda, dia baru selesai membuat sarapan untuknya dan Miska.


"Pagi Mel, maaf aku gak bantuin kamu. Tidur ku nyenyak banget," kekeh Miska.


"Gak papa, kamu tamu. Jadi aku yang akan menjamu mu," tutur Melinda, meletakan nasi goreng sosis dan telur dadar.


"Ayok makan dulu, abis itu kita mandi." Ajak Melinda, Miska pun menurut dan duduk di hadapan Melinda.

__ADS_1


"Semalam kamu tidur jam berapa Mel?" tanya Miska, pasalnya samar-samar dia mendengar Melinda mengomel.


"Gak tahu, mungkin jam satu." Sahutnya, sambil menyuapkan nasi goreng karena Melinda tak menyukai ikan seperti Jenny.


Melinda teringat sesuatu, lalu menatap Miska.


"Ada apa?" tanya Miska.


"Kapan hari libur ku?"


"Satu minggu lagi, kenapa? Kamu mau ambil jatah libur mu?" tebak Miska.


"Iya aku mau ke Singapura," celetuk Melinda.


"Apa? Singapura?" pekik Miska.


"Mau apa? Aku ikut dong," Miska tersenyum manis, berharap Melinda mengajaknya.


"Tidak selama aku libur, kamu handel semua pekerjaan ku. Aku mau ke makam mommy, sudah lama aku gak kesana." Ungkap Melinda, dari nada suaranya Miska tahu ada rasa kesedihan dan kerinduan. Untuk ibu yang sudah melahirkan Melinda, sahabatnya ini selalu menyembunyikan kesedihan kepada semua orang.


"Oh... Oke! Tapi kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku yah! Ingat kita sahabat Melinda. Aku akan selalu ada untuk mu," jelas Miska, mengusap lengan Melinda berharap bisa menenangkan sang sahabat.


"Makasih Mis," jawab Melinda tersenyum manis.


Satu jam kemudian, Melinda dan Miska sudah siap dan rapih dengan setelan kerjanya. Seperti biasa Melinda tak pernah menggunakan riasan tebal, dia hanya memoles bibirnya dan memberikan bedak saja.


"Hai," sapanya pada Melinda, lalu dia mundur untuk berdiri dekat Melinda.


Lift terbuka dan beberapa orang masuk, termasuk Melinda, Miska dan lelaki semalam. Melinda dan lelaki itu berdiri bersisian di belakang, sedangkan Miska di depan.


"Senang jumpa lagi dengan mu nona, kamu lebih cantik tanpa make-up." Bisik lelaki itu, membuat Melinda tersipu malu.


Tak membutuhkan waktu lama, lift terbuka dan mereka turun. Miska hari ini yang membawa mobil miliknya, Miska selalu mengantar jemput Melinda karena rumahnya dan rumah Miska searah.


"Duluan cantik," ucapnya pada Melinda, sambil mengedipkan mata. Namun Melinda menatap lelaki itu dengan tatapan tajam, penuh permusuhan.


"Dasar cowok nyebelin," gumam Melinda.


"Siapa Mel? Kayanya kalian akrab," tanya Miska, mereka kini sudah di dalam mobil dan bersiap menuju perusahaan.


"Gak tau gak kenal," jawab Melinda acuh, dia lalu memeriksa pekerjaannya yang berada di e-mail.


Tapi Melinda merasa wajah lelaki itu sangat familiar, tapi dia lupa di mana.

__ADS_1


"Aku baru ingat, tadi pagi. Aaron telepon ke ponsel ku dia nanyain kamu, kenapa ponsel mu gak aktif." Ujar Miska, masih fokus dengan kemudinya.


"Iya kah? Aku lupa gak aktifin ponsel."


Melinda dengan buru-buru mengeluarkan ponselnya, lalu menghidupkannya. Ada panggilan masuk dan pesan dari Aaron, yang mengkhawatirkannya. Membuat Melinda terharu, ternyata selain keluarganya yang lain. Aaron masih peduli dengannya, Dika tak pernah menanyakan lagi kabarnya.


Tak lama ponsel Melinda berdering, menampilkan nama Aaron.


"Ya Aaron."


Terdengar helaan napas di sebrang sana, Aaron sungguh mencemaskan nya.


"Kakak dimana? Kenapa semalam ponselnya gak aktif?" cerca Aaron tak sabar.


"Semalam kakak nginap di rumah Miska, karena banyak kerjaan. Yang harus kita selesaikan dengan cepat," bohong Melinda, dia mengigit bibirnya untuk pertama kalinya dia melakukan kebohongan. Biasanya dia selalu jujur, walau dia tak pernah salah.


"Iya kah?" tanya Aaron tak percaya.


"Iya dek, masa kakak bohong sih. Udah dulu yah bentar lagi sampe ada rapat penting pagi ini," lagi dan lagi, Melinda berbohong pada sang adik.


"Ya sudah aku percaya, kalo ada apa-apa kakak bisa hubungi aku. Aku adik mu," ujar Aaron.


"Iya."


Setelah Melinda meminta nanti Aaron untuk menjemputnya, Aaron mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa harus bohong Mel?" Miska melirik sekilas ke arah Melinda, yang menghela napas sepenuh dada.


"Gak papa, aku gak mau dia khawatir. Dan menimbulkan rasa cemburu di hati Ameera," jelas Melinda, selama ini dia selalu mengalah untuk Ameera yang berubah menjadi pencemburu.


"Mel..."


"Sudah Mis, aku gak mau bahas apa pun saat ini. Tolong nanti mood ku hancur seharian, belum lagi nanti daddy akan mengajukan banyak pertanyaan pada ku," keluh Melinda.


Miska pun akhirnya diam, dia menyadari perasaan Melinda saat ini. Bahkan dari kecil mungkin, karena Miska bertemu Melinda saat SMA.


****


Sementara itu di kediaman Mario, setelah melakukan panggilan dengan sang kakak. Aaron langsung memakai seragam sekolahnya dan memutuskan untuk duduk di balkon kamar, Aaron tahu Melinda sedang berbohong.


Semalam di datang ke rumah orang tua Miska, tapi tak ada kakaknya di sana. Dan menurut orang tua Miska, Anaknya itu menginap di kediaman Melinda.


Tapi dimana tempatnya, mereka pun tak tahu. Masih ada waktu, satu jam lagi jam masuk kelas jadi Aaron bisa santai terlebih dulu memikirkan sang kakak.

__ADS_1


****


Semoga suka, maaf typo 💜


__ADS_2