
Tak terasa waktu cepat berlalu, setelah satu bulan berlalu sejak Melinda dan Ameera bertengkar. Kini Melinda dan Axel akan melangsungkan pernikahan di Bali, sesuai keinginan Melinda.
Bahkan selama di Jakarta Melinda tak pernah datang ke rumah Dika, selalu Aaron atau Dika yang datang ke rumah Laura. Anyelir hanya mampu mengirim pesan pada Melinda tanpa menemui karena dia malu, karena Ameera telah menjelek-jelekan ibu dari Melinda Jenny.
"Cantik sekali," puji Miska.
"Terima kasih, aku memang selalu cantik." Kekeh Melinda, membuat Miska memutar bola mata malas tapi Melinda memang selalu cantik. Walau baru bangun tidur pun.
"Lo gak bisa kerja lagi Mel? Gue bakal kangen sama lo," keluh Miska memeluk sang sahabat.
"Bisa selagi belum hamil, Axel bakal izinin gue." Balas Melinda, dia sudah bekerja kembali di perusahaan milik Mario. Walau Alderik meminta Melinda untuk bekerja di Sanova.
Hubungan Melinda dan Ameera pun menjadi canggung, walau mereka sudah bermaafan. Dan Ameera kembali menjalin hubungan dengan Azriel, karena hanya Azriel yang bisa membuat Ameera menjadi lebih baik.
Pukul sembilan pagi, Melinda dan Axel mengucap janji suci pernikahan. Dan kini mereka sah menjadi suami istri.
Mereka langsung menggelar acara resepsi pada pukul sepuluh pagi, banyak tamu yang berdatangan. Dan selesai pada pukul lima sore, Melinda dan Axel langsung masuk ke dalam kamar khusus pengantin baru yang sudah di pesan oleh Axel.
"Lelahnya," keluh Melinda, saat sudah sampai di kamarnya. Kamar yang sudah di hias sedemikian rupa.
"Biar aku pijit," ujar Axel, dia berjongkok di hadapan Melinda yang duduk di tepi ranjang.
Melinda tersenyum menatap Axel, dia teringat bocah laki-laki yang jatuh di hotel waktu itu.
"Aku gak nyangka bocah laki-laki, yang jatuh itu ternyata kamu." Kekeh Melinda, saat itu Axel dan Melinda melakukan foto prewedding.
Dan salah satu lokasinya berada di hotel, tempat Maira dan Rumi menikah dulu. Entah mengapa Axel, ingin membawa Melinda saat itu.
Axel tersenyum tipis, dia terus memijat lembut kaki Melinda yang lecet karena memakai sepatu hak tinggi seharian. Padahal Melinda tipe orang yang jarang memakai, sepatu hak tinggi seperti tadi.
"Mungkin takdir dan jodoh," sahut Axel, dia pun duduk di sisi Melinda setelah di rasa cukup memijat kaki Melinda.
__ADS_1
Axel mengusap lembut pipi Melinda, dan mengecup bibirnya dengan lembut. Namun lama-lama menjadi menuntut.
"Masih sore loh!" desah Melinda, saat Axel membaringkannya dan mencium tengkuknya.
"Memang kenapa? Ini akan menjadi sore pertama kita, sayang." Jawab Axel.
"Tapi aku mau melihat sunset sayang," rengek Melinda.
"Hah... Baiklah, ayok kita mandi dulu. Lalu kita kembali ke pantai," ujar Axel, dia tanpa malu langsung membuka pakaiannya di depan Melinda.
Dan hanya menyisakan boxer-nya saja.
"Axel," desis Melinda, namun pandangannya tak lepas dari tubuh atletis Axel. Dan jangan lupakan, isi dari boxer-nya.
"Kenapa? Jangan malu-malu, aku tahu kamu terpesona kan. Ayok," Axel menarik Melinda, dan membantu melepaskan gaunnya. Dan kini mereka sudah sama-sama tanpa baju, hanya ********** saja.
Seketika Axel menelan ludahnya dengan susah payah, tubuh Melinda benar-benar sempurna. Dan padat di bagian tertentu, selama ini dia selalu memakai pakaian yang longgar.
"Axel udah ayok kita mandi," sahut Melinda, untuk menghilangkan rasa malu dan canggungnya karena Axel menatap lekat tubuhnya.
Mereka pun masuk ke kamar mandi, di kamar mandi Axel memainkan jarinya di inti Melinda. Membuat Melinda berhasil mencapai puncak, begitu juga Axel hanya dengan **** *** yang di lakukan oleh Melinda. Dia bisa mencapai kepuasannya.
Cup.
"Sudah ahh, nanti ketinggalan liat sunset." Protes Melinda, karena Axel tak hentinya mencium terus.
"Iya.. iya maaf, nanti malam kamu sudah janji. Dan aku tak akan lepasin kamu sampai pagi," ujar Axel mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum," omel Melinda.
Melinda menghembuskan napasnya dengan pelan, kini pasangan suami istri tersebut sedang menikmati sore di pantai. Walau matahari sudah tenggelam, membuat Melinda sempat protes. Karena Axel membuatnya lama di kamar mandi, namun Axel berjanji akan membawa Melinda melihatnya esok hari.
__ADS_1
****
Sementara itu Ameera, dia melihat Axel dan Melinda yang terlihat bahagia dari kejauhan. Dia pun menoleh pada Azriel yang membawakan satu buah kelapa muda.
"Terima kasih," ucap Ameera, di balas senyuman oleh Azriel.
"Riel," panggil Ameera.
"Ya kenapa? Kamu lapar?"
"Terima kasih udah kasih aku kesempatan, aku sadar kalau aku cinta sama kamu. Gak bisa tanpa kamu," jujur Ameera, dia terlalu di butakan oleh rasa iri pada Melinda.
Ameera tak ingat kapan kenangan manis yang terakhir, dengan Melinda. Yang dia tahu, hanya kenangan yang buruk yang sering dia ciptakan sendiri. Padahal Melinda selalu berusaha, untuk menjadi kakak yang baik baginya.
"Itu sudah berlalu, setiap orang memang harus di uji dengan orang yang dia cintai pergi atau di tinggalkan." Tutur Azriel.
"Sekarang kita berpikir tentang masa depan kita, jangan pernah berpikir yang lain. Apa lagi menghancurkan kebahagiaan kakak mu Ameera," Azriel melirik ke arah Melinda dan Axel, yang tengah bercanda.
"Setelah dari sini, aku akan melamar mu Ameera." Celetuk Azriel, membuat Ameera tersedak minumannya.
"Kamu gak apa-apa?"
"Gak papa, ta-tadi kamu bilang apa? Kamu mau lamar aku?" tanya Ameera tak percaya.
"Iya, aku tidak mau kamu berubah. Dan pergi lagi aku mencintai mu Ameera," ucap Azriel, mencium lengan Ameera.
Ameera menghambur memeluk Azriel, dan terisak dalam pelukan sang kekasih. Dan tak lupa dia pun bersyukur, pada sang Pencipta.
****
Semoga suka, maaf typo 💜
__ADS_1