
Setelah mengantar Jenny, Dika pun langsung menuju kediaman Auriga. Menurut Dela, dia ingin memberikan sesuatu untuk Dika.
Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai di rumah Auriga. Dan di sambut oleh Ara.
"Uncle," pekik Ara.
"Hai!"
Ara pun langsung meminta di pangku oleh Dika.
"Udah besar loh dek, masa mau di pangku sama uncle Dika." Ledek Lula.
Ternyata bukan hanya Ara, Lula pun ada di dekat kolam ikan.
"Lula, lagi apa?"
"Nyari emas uncle, siapa tahu aku bisa beli lato-lato." Jawab Lula.
Jawaban Lula membuat Ara dan Dika tertawa.
"Masa di kolam ikan sih!" kekeh Dika.
"Ya menurut uncle, di kolam ikan lagi liat ikan lah. Masa nyari emas," cibir Lula.
"Astaga Auriga, kenapa anak lo. Julid banget sih!" teriak Dika.
"Ayok Ara, kita masuk ke dalam saja. Biarkan kakak mu cari emas, buat beli lato-lato." Cetus Dika.
"Ayok uncle."
Ara dan Dika pun sudah masuk ke dalam rumah, dan Auriga sedang berada di dapur.
"Wih... Suami able banget lo di dapur," goda Dika, membuat Auriga memutar bola mata malas.
"Biarin dong, emang situ pemalas." Celetuk Dela, yang baru keluar dari kamar mandi dapur.
Dan langsung mendapatkan segelas susu dari Auriga, Auriga pun ikut duduk bersama di meja makan.
"Enak aja, aku baik yah! Rajin menabung, dan tidak sombong. Ahh.. bonus tampan," puji Dika pada diri sendiri.
"Pede banget."
Ara pun tertawa melihat perdebatan antara Dela dan Dika, Dika pun sedikit melupakan tentang Anyelir jika bersama Dela.
"Ohh ya uncle, nanti anterin anak-anak ke rumah bunda." Ujar Dela.
"Memang kamu mau kemana?"
"Nih coba," Dela menyodorkan makanan buatan Anyelir tanpa menjawab pertanyaan Dika, yaitu rendang kesukaan Dika.
Dika pun menerimanya dengan senang hati, kebetulan dia lapar setelah berkeliling mall bersama Jenny.
"Makasih." Ucapnya.
"Memang kamu mau ke mana?" tanya Dika lagi, setelah menelan makanannya.
"Kencan dong," kekeh Dela.
"Sudah kamu makan dulu, Ara mandi dulu yah! Nanti ke rumah Neni Yumna nya sama uncle Dika." Jelas Dela.
"Itu panggil ka Lula sekalian." Lanjutnya lagi.
"Oke bunda."
Ara pun turun dari kursi, dan berlari keluar. Dela melirik Dika yang termenung, mengunyah makanannya.
"Kenapa?"
"Anyelir."
__ADS_1
"Bukan Anyelir, itu buatan Cinta. Tapi cita rasa masakannya memang mirip masakan Anyelir," papar Dela.
"Sayang ayok minum susunya," perintah Auriga.
"Terima kasih,"
Namun Dika berusaha menyangkal itu semua.
"Bukan hanya Anyelir, tapi ibu pun masakannya enak." Ujar Dika dalam hati.
***
Satu jam kemudian, Dika, Ara dan Lula sudah masuk di dalam mobil. Begitu pun Auriga dan Dela.
"Bunda kasih aku kabar gembira yah," teriak Ara.
"Ara duduk," tegur Lula.
"Baik ka."
"Kalian baik-baik yah, di rumah Neni. Jangan bikin repot," ujar Dela.
"Baik Bunda," seru Ara dan Lula kompak.
Dika pun melajukan mobilnya, membunyikan klakson pada Auriga dan Dela. Yang melambaikan tangannya.
Lalu mobil Auriga pun keluar dari rumah, dan di tutup kembali oleh penjaga rumah tersebut.
***
Berpuluh menit kemudian, Auriga dan Dela sudah sampai di dokter kandungan langganan Auriga. Saat mendiang istrinya hamil Lula dan Ara, dan mereka pun sudah membuat janji.
"Nyonya Radela." Panggil suster.
"Silahkan dokter sudah menunggu," lanjutnya kemudian.
Dela dan Auriga masuk ke dalam ruangan praktik, yang langsung di sambut dengan senyum hangat dokter yang mungkin seumuran dengan Yumna dan Auriga.
"Hai Riga, dia istri baru mu? Maaf yah, saya tidak datang ke pernikahan kalian." Ucapnya penuh sesal.
"Tidak apa-apa dok, yang penting sekarang. Tolong beri saya kabar baik," kekeh Auriga.
"Baiklah, mari kita periksa."
Dela tersenyum lalu berbaring di ranjang pemeriksaan, suster membantu Dela menyibakkan bajunya sedikit ke atas. Di sisinya terdapat Auriga, yang setia menggengam tangan Dela.
Dokter Melia pun tampak sangat serius, menggeserkann alat USG dan menatap layar monitor hitam putih. Yang Dela tak mengerti sama sekali.
"Nah ketemu," seru dokter.
"Selamat Auriga kamu akan menjadi ayah kembali, dari dua bayi kembar." Ujat dokter.
"Serius dok?"
Binar bahagia tergambar jelas di wajah Auriga, Dela pun tersenyum menatap wajah sang suami.
"Ya, kalian berdua memiliki gen kembar kan? Dan usia kandungannya, baru empat minggu." Jelas dokter Melia.
"Terima kasih dok," ucap Dela.
"Sama-sama."
Dokter pun mencetak hasil USG tersebut, sedangkan Auriga membantu membersihkan bekas gel di perut Dela.
"Terima kasih," ucap Auriga mencium puncak kepala Dela.
Auriga sangat bahagia dengan kehamilan Dela, dia pun berharap bahwa janin yang di kandung Dela adalah laki-laki.
"Jangan lupa tebus vitaminnya, jika mual. Minum obat mual lalu makan-makanan yang sehat dan bergizi." Pesan dokter Melia.
__ADS_1
"Baik makasih dok sekali lagi," ujar Dela.
"Sama-sama, kaya sama siapa aja kamu." Kekeh dokter Melia.
Dela dan Auriga tersenyum, lalu berpamitan dan tak lupa Auriga menebus obat di apotik.
"Kita ke rumah bunda, aku mau kasih kabar bahagia ini sama mereka." Ujar Dela.
"Oke."
Auriga melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota. Yang selalu macet, sebelum ke tempat Yumna. Dia mampir terlebih dulu ke supermarket.
"Aku ikut," rengek Dela.
"Ya sudah ayok."
Auriga membelikan Dela susu hamil yang terbaik, membuat Dela bahagia. Auriga sungguh perhatian padanya.
Lalu membeli berbagai macam cemilan, dan makanan kesukaan kedua anaknya. Setelah selesai, Auriga melanjutkan perjalannya.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai. Dan di sambut antusias oleh Ara, Dika pun masih di rumah Yumna hanya saja sudah berganti baju.
"Wah... Kayanya ada yang lagi bahagia nih!" goda Dika.
"Iya ada kabar baik yang ingin, kami sampaikan," papar Auriga.
"Ayok masuk, Ara. Ayok masuk sayang," ajak Dela.
"Bunda aku mau gendong," pinta Ara.
"No... Ara, Ara sudah besar. Harus jalan," tegas Auriga.
Karena dia tak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya.
"Baik ayah."
Tak butuh waktu lama, semua orang sudah berkumpul. Termasuk Bara yang sudah pulang kerja.
"Ayah, aku rindu." Ucap Dela dengan manja.
"Kakak udah punya suami, ayah Bara punya aku sekarang," celetuk Tiana.
"Tiana sayang," Yumna.
"Walau ka Dela sudah punya suami, ka Dela tetap anak ayah dan bunda Tiana. Paham?" tanya Bara pada Tiana.
"Paham ayah."
Lula, Tiana dan Ara. Duduk di sisi kiri dan kanan Dika.
"Ada kabar baik apa?" tanya Yumna.
"Aku hamil bun." Ucap Dela antusias.
Dia meletakan foto hasil USG di meja, lalu Yumna menatap tak percaya pada foto tersebut. Dia akan jadi Nenek, dengan mata yang berkaca-kaca dia memeluk Dela bersama dengan Bara.
"Uncle Dika, ka Dela kenapa sih?" bisik Tiana.
"Ka Dela sedang hamil Tiana, dia akan punya anak. Dan kamu jadi tante," jelas Dika.
"Ohh... Yeay, selamat Ara, Lula. Kalian akan punya adik," pekik Tiana menatap Ara dan Lula.
Ara bersorak senang, tapi berbeda dengan Lula yang terlihat murung. Bahkan senyumnya pun di paksakan, sang ayah telah berbohong padanya.
"Ayah melupakan janjinya pada ku," batin Lula dengan kesal.
Namun hal itu di anggap wajar oleh Dela dan Auriga, karena Lula sudah remaja. Cukup mengerti tak bersikap berlebihan.
tbc...
__ADS_1
Maaf typo jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏