Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.63


__ADS_3

Rumi menatap tajam Maira dan Prisil yang tengah membeku atas kehadiran Rumi.


"Pa-pak Rumi, ada apa? Eh... Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Prisil gugup.


Sementara Maira dia menundukan kepalanya, takut dan malu menjadi satu. Tadi dia membicarakan Rumi, bahkan mempromosikannya pada Prisil. Dan Maira berharap, bahwa Rumi tak mendengar semua pembicaraannya.


"Saya kesini ingin bicara dengan Maira," jawab Rumi dengan dingin, membuat Maira yang mendengar pun menelan salivanya dengan susah payah.


"Ya Tuhan... Lindungi lah hamba mu, yang baik hati dan manis ini." Kata Maira dalam hati.


"Ma-mau bicara apa?" tanya Maira.


"Ayok ikut," ajak Rumi.


"Tapi aku masih banyak kerjaan," tolaknya.


"Aku tahu, hari ini kamu gak masuk ke kantor. Dan melimpahkan semua pekerjaan mu pada Prisil," terang Rumi, membuat Maira menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Baiklah ayok, masuk ke ruangan ku saja." Ajaknya.


"Mai buka dikit pintunya, nanti ada setan yang goda kalian." Celetuk Prisil, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Maira.


Tak menanggapi ucapan Prisil, Maira pun mempersilahkan Rumi masuk ke ruangannya. Pertama kali Rumi masuk, semerbak harum mint dan vanila. Masuk ke indra, penciumannya. Membuatnya terdiam dan memejamkan matanya, Maira memperhatikan Rumi. Tanpa rasa berdosa, Rumi duduk di sofa dia menatap dengan ekspresi yang susah di tebak oleh Maira.


Yang malah membuat Maira risih, dia pun memalingkan wajahnya.


"Maaf anda ingin minum apa ka?" tanya Maira.


"Tidak perlu, aku tidak lama karena masih ada urusan lain." Terang Rumi, di jawab anggukan Maira.

__ADS_1


"Apa kamu menolak menikah dengan ku?" tanya Rumi to the poin, membuat Maira gugup.


"I-itu saya, saya belum siap menikah." Cicitnya pelan.


Rumi mengerutkan keningnya menatap Maira, sungguh dia sudah tertarik dengan gadis di depannya ini. Tak ingin melepaskannya, begitu saja.


"Alasannya?"


"Karena masih kuliah," jawabnya asal.


"Baiklah, aku akan melamar mu. Dan setelah kamu lulus, aku akan menikahi mu," putus Rumi, membuat Maira membelalakan matanya terkejut.


"Apa? Tidak bisa? Masa langsung menikah sih," omel Maira tak habis pikir.


"Ya lalu mau kamu bagaimana?" tanya Rumi dengan sabar, membuat Maira menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Alasan ka Rumi, nikahin aku itu apa?"


"Perlu dong ka, masa kita nikah tanpa cinta sih! Kalo gitu mah sama aja terpaksa, terus gimana mau punya anak sama malam pertamanya?" oceh Maira, langsung menutup mulut dan melirik Rumi yang tersenyum miring. Itu artinya dia siap menikah dengan Rumi, jika ada cinta di dalamnya.


"Kamu tenang saja Maira, aku tidak akan melakukan itu. Jika kamu belum siap, lagian aku ingin anak hadir karena cinta." Cetus Rumi.


Rumi berdiri karena sudah terlalu lama di luar, masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor dan Lokal Seafood.


"Baiklah Maira, dengan atau tanpa persetujuan mu. Malam ini aku akan ke rumah mu, melamar diri mu. Jangan sampai kabur, kalau kabur kamu tahukan apa yang akan terjadi pada mu," ujar Rumi mengedipkan sebelah matanya.


Lalu dia meninggalkan ruangan Maira, sementara Maira sendiri tak bisa berkata-kata mendapatkan lamaran secara tak langsung. Dan nanti malam, Rumi akan datang ke rumahnya melamarnya secara resmi.


Maira menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, di memejamkan matanya.

__ADS_1


"Akhhh... Kenapa jadi begini? Kenapa harus menikah muda sih!" omelnya, saat sedang merenung.


Prisil masuk ke dalam ruangan Maira, yang mendengar dia berteriak.


"Kenapa lo? Macam baju yang belum di setrika aja sih," cibir Prisil, dan mendapatkan lemparan pensil dari Maira.


"Gue pusing." Pekiknya, mengacak rambutnya.


"Kenapa memang? Pak Rumi cium lo ya?" bisik Prisil.


"Prisil," pekik Maira, dia menatap sang sahabat dengan tajam.


"Maaf... Maaf," ringisnya merasa bersalah.


"Jadi apa? Cerita dong," katanya memaksa.


"Kepo," jawab Maira ketus, tapi setelah di pikir-pikir lebih baik bercerita saja dari pada di pendam entar jerawatan. Dan Maira tidak mau hal itu terjadi.


Maira pun menceritakan pada Prisil, tentang Rumi yang melamarnya secara tak langsung. Dan malam ini, Rumi akan datang melamarnya secara resmi.


"Wow... Keren lah, teman gue yang satu ini." Katanya tertawa.


"Apaan sih lo, gue gak mau nikah cepat. Akhh... Pusing gus, ayok kita makan siapa tau otak lo agak encre." kekeh Maira.


"Let's go..." Seru Prisil, seperti biasa dia senang jika di ajak makan.


"Tapi lo harus datang ya Sil, awas kalo engga." Ancam Maira.


"Iya... Iya dasar bawal, gue bakal datang jadi reog di acara lo." Membuat Prisil dan Maira tertawa bersama.

__ADS_1


***


Semoga suka, maaf typo 💜


__ADS_2