
Di tempat lain, Hito yang sedang menemani Yusra mendapatkan panggilan dari Satria. Yang di perkirakan akan jadi besannya.
"Sebentar aku angkat telepon dulu,"
"Ya."
Hito mengucapkan salam, dan mereka berbincang serius. Sesekali Hito menatap ke arah Yusra, yang penasaran. Tak membutuhkan waktu lama panggilan tersebut telah selesai, Hito kembali ke sisi Yusra. Yang entah mengapa kehamilannya ini, membuatnya lemas dan tak bisa melakukan apa pun. Bahkan Yusra mual saat melihat nasi, dan tak suka dengan aroma bawang-bawangan. Dia lebih banyak mengkonsumsi buah, sayur, cake dan juga roti.
"Siapa?" tanya Yusra, saat Hito sudah kembali ke sampingnya.
"Satria ayah Rumi, dia bilang Maira sudah setuju. Dan malam ini mereka akan datang ke rumah," jelas Hito.
"Apa? Serius?"
"Iya," jawab Hito lesu, dia benar-benar belum siap melepaskan Maira menikah atau di lamar.
"Sudahlah jangan galau terus, sekarang minta bibi buat jamuan dan kasih tahu ibu." Ujar Yusra.
Hito pun memerintahkan pembantu di rumahnya untuk membuat makan malam istimewa, dan dia juga meminta Wina untuk segera pulang karena cucu kesayangannya akan di lamar.
Berita lamaran Maira sudah sampai pada Dela, begitu juga Dika. Mereka akan datang membawa hadiah untuk Maira, Maira sendiri sungguh tidak tahu bahwa Rumi sangat serius.
Malam pun tiba kediaman Hito sudah di hias sedemikian rupa, sofa di ruang tamu pun di singkirkan agar lebih leluasa. Maira yang baru sampai rumah sungguh bingung, melihat dalam rumahnya yang sudah cantik dan meriah.
"Loh ada apa ini?" tanya Maira dalam hati.
"Non sudah pulang?" tanya bi Mira.
"Iya bi, ada apa yah?"
"Loh! Non Maira gak tahu? Apa pura-pura gak tahu?" tanya bi Mira.
"Aku gak tahu Bi, ada apa sih? Apa syukuran mama?"
Bi Mira terkekeh dengan ucapan Maira, bi Mira memastikan bahwa anak dari majikannya ini tidak di beritahu.
"Syukuran apa non, orang baru mau masuk dua bulan loh! Syukuran kehamilan mah empat bulan atau tujuh bulanan non," beritahunya.
Bi Mira pun pergi ke belakang, meninggalkan Maira dengan rasa penasaran yang tinggi. Di saat yang bersamaan Dela, Auriga dan anak-anaknya sudah sampai.
Mereka berlarian masuk ke dalam rumah Hito, dan menghiraukan Maira yang masih bingung.
"Maira," panggil Dela.
"Ka Dela, kok di sini?"
"Iya lah aku kan di undang om Hito, kenapa kamu belum siap? Jangan bilang kamu baru pulang, dan gak tahu." Tebak Dela.
"Memang ada apa sih?" tanya Maira masih penasaran.
Dela menepuk keningnya, dia beralih menatap sang suami. Dan menyuruhnya masuk terlebih dulu.
"Kamu masuk duluan sayang, anak gadis gak tahu mau di lamar. Aku mau bantu Maira," ujar Dela.
__ADS_1
"Iya aku masuk dulu." Auriga mencuri ciuman di bibir Dela, membuat Maira cemberut menatap pasangan tersebut.
"Udah jangan cemberut jelek," kekehnya menatap sang suami sudah menjauh.
"Ada apa sih memang? Siapa yang mau lamaran?" tanya Maira.
"Kamu beneran gak tau?"
Dela sampai menggelengkan kepalanya tak percaya, bagaimana bisa yang mau lamaran tapi tidak tahu.
"Sudah ayok cepat mandi, sebelum calon tunangan mu datang." Dela mendorong Maira, untuk masuk dan menariknya menuju kamar Maira.
Di halaman sudah ramai anak-anak, Mario, Laura, Yumna, Bara dan Tatiana. Dika dan Anyelir belum sampai mereka masih berada di jalan, karena Dika yang menjemput Anyelir.
Di kamar Maira, Dela sibuk memilih gaun yang akan Maira kenakan. Dia memilah milih mana yang pas dan pantas di tubuh Maira, tapi tak ada yang cocok menurut seleranya.
"Astaga Maira... Apa dia tak pernah beli dress? Perasaan ini terus dari dulu," gerutunya.
Sepuluh menit berlalu Maira sudah selesai membersihkan diri, tapi Dela masih sibuk dengan apa yang akan di pakai Maira, dia memperhatikan Dela dan duduk di depan meja riasnya.
"Ka Dela lagi cari apa sih?"
"Cari dress yang cantik untuk mu, tapi kayanya gak ada yang baru. Semuanya lama, kalau tau gitu aku bawa satu dari rumah." Oceh Dela.
"Buat apa sih ka? Kan mau tidur pakai piyama aja," sahutnya, membuat Dela menoleh dan menatapnya tajam.
"Sudah cepat pakai baju ini, sebentar lagi Rumi datang." Kesal Dela, karena Maira telat dalam hal kepekaan.
"Iya Rumi, kamu akan di lamar sama Al Rumi. Anak dari Satria dan Nania," tutur Dela, refleks dia mencubit pipi Maira karena gemass.
"Aw... Ka," rengeknya.
"Dia ternyata beneran mau lamar aku? Padahal aku kira dia bercanda," celetuk Maira.
"Loh kok bercanda, dia sudah matang sama kaya Auriga dulu. Gak mungkin bercanda," jawab Dela.
"Tapi ka aku..."
"Hah... Sudah lah Mai, cepat bersiap. Atau aku paksa kamu turun gitu sekarang juga," ancam Dela.
"Iya... Iya." Ketus Maira.
****
"Daddy kapan kalian menikah?" tanya Melinda pada Dika dan Anyelir, sedangkan Ameera duduk tenang di kursinya.
"Lima hari lagi," jawab Dika.
"Masih lama?" tanya Melinda.
"Melinda duduk, nanti kamu jatuh ke depan." Ujar Anyelir, jika tidak Melinda akan terus bertanya tentang segala hal.
"Baik bu," balas Melinda, dan dia pun sudah memanggil ibu pada Anyelir.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar memakai gaun yang cantik, kaya Cinderella." Ceritanya pada Ameera.
"Aku juga, ibu sudah pesan untuk ku yang sama dengan mu." Balas Ameera.
"Iya kah?"
"Iya tanya saja pada ibu."
"Betul bu?" tanya Melinda lagi, kini dia tetap duduk di kursi.
"Iya kalian berdua, sama si kembar sudah ibu pesan kan baju yang bagus. Yang nanti samaan kaya baju ibu dan daddy," jelas Anyelir.
Melinda mengangguk senang, tapi ada rasa sedih di hatinya. Dia ingin mengunjungi makam Jenny, tapi Dika selalu berkata mereka akan pergi bersama.
"Mommy, apa mommy marah jika aku punya ibu baru? Aku harap mommy jangan sedih, berbahagialah bersama nenek di surga," ujar Melinda dalam hati, dia pun sudah di beritahu bahwa neneknya ibu dari Jenny sudah tiada.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai dan sudah ramai dengan mobil.
"Kita telat," kekeh Anyelir.
"Tidak apa, yang penting kita hadir. Kalau menunggu sampai selesai acara makan-makannya jadi lama," ujar Diak tertawa.
Di dalam rumah Rumi sangat tampan dengan setelan kemeja batik berwarna hitam, dan celana bahan warna hitam dia di dampingi oleh ayah Satria dan Bunda Nia. Keluarga Gemmy pun hadir menyaksikan acara lamaran adiknya tersebut.
"Aku gak sabar, pengen lihat calonnya. Secantik apa dia? Sampai bisa mencairkan kulkas dua belas pintu ini," bisik Keanu pada Rumi.
"Diam jangan naksir," katanya.
Keanu hanya tertawa anak pertama Gemmy dan Anisa itu seketika diam, saat mendapati pelototan dari ayahnya. Dan dia lebih memilih, menanti calon tunangan dari pamannya tersebut. Walau Rumi statusnya paman bagi Keanu, tapi Rumi senang di panggil kakak atau nama saja.
"Nah beres, sudah cantik sekarang." Kata Dela, yang puas dengan hasil riasannya.
"Ayok turun, bunda bilang calon tunangan mu sudah datang." Beritahu Dela.
"Aduh ka aku deg-degan nih! Ka Dela gantiin aja yah pliss!" mohon Maira, dan lansung mendapatkan cubitan di lengannya.
"Kaaa..." rengek Maira.
"Udah ayok turun," ajak Dela, dia pun dengan terpaksa menarik Maira yang ogah-ogahan.
Di sepanjang perjalanan menuju lantai satu, Dela terus menggoda Maira. Jika menikah enak, karena ada yang mencari uang dan menemani dia tidur. Maira yang mendengar cerita dewasa dari Dela, hanya memutar bola mata malas.
Sesampainya di ruang tamu, semua orang menatap takjub Maira yang sangat cantik malam ini. Dengan dress batik yang pas di tubuhnya. Bahkan Keanu pun di buat melongo, jika Rumi tak mau dengannya maka Keanu siap menggantikan.
"Nah itu dia putri kami Maira, sini sayang." Wina melambaikan tangannya pada Maira, karena dia hanya mematung di tempat.
"Yang di sebelahnya sudah punya suami ya, sudah punya anak dua juga. Jadi jangan ada yang naksir, nanti suaminya cemburu." Goda Wina pada calon cucu menantunya, membuat semua orang tertawa termasuk juga Auriga
Wina memang memiliki selera humor yang lumayan, di balik sifat pendiam dan lemah lembutnya menjadi seorang ibu dan nenek.
****
Semoga suka, maaf typo 💜
__ADS_1