Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.85


__ADS_3

Dua hari Melinda di rawat di rumah sakit, dua hari pula Axel mencoba memberitahu pada Dika. Namun respon Dika selalu acuh padanya, bahkan saat pertama dia datang ke kantor Dika untuk memberitahu tapi Axel malah di usir.


"Saya tidak peduli, dia sudah menjadi tanggung jawab mu." Ucapnya kala itu, Axel tak memberitahu Melinda jika Melinda tahu. Maka dia akan sedih.


Axel membereskan barang-barang milik Melinda dan dirinya, keadaannya sudah membaik. Sebelum pulang, Axel akan memeriksakan Melinda ke dokter kandungan langganan keluarga.


"Ayok kita periksa ke dokter kandungan," ajak Axel, Melinda tersenyum dan mengangguk antusias.


Setibanya di ruangan dokter, sudah banyak pasien ibu hamil yang menunggu giliran. Namun Axel dan Melinda langsung masuk, karena mereka sudah terlebih dulu mendaftar di awal.


"Selamat siang," ucap dokter bernama Fransiska, teman dari Jenny dulu, namun Melinda dan dokter Siska tak saling mengenal.


"Selamat siang dok," sahut Axel.


"Rasanya saya familiar dengan wajah anda nona." Celetuk dokter Siska.


"Mungkin wajah saya pasaran dok," candanya tertawa.


Dokter pun mengajak Melinda untuk berbaring, mereka akan melakukan USG. Dan benar saja kantung kehamilan sudah terlihat, dan tak hanya satu terdapat dua kantung kehamilan.


"Selamat kalian akan memiliki anak kembar," beritahu dokter dengan wajah berbinar.


"Iya kah dok? Serius?" tanya Axel tak menyangka, begitu juga Melinda dia merasa bahagia. Penantiannya selama ini tak sia-sia.


"Iya selamat yah!" ujar dokter sekali lagi, perawat membantu membersihkan gel yang ada di perut Melinda.


Dokter Fransiska memberikan resep vitamin untuk di tebus pada Axel, lalu memberikan pesan agar tak terlalu lelah dan banyak pikiran.


"Terima kasih dok, kami permisi dulu." Pamit Axel, di jawab anggukan oleh dokter Siska nama panggilannya.


Fransiska menghela napas dengan pelan, setelah pintu tertutup rapat.


"Dia begitu mirip dengan mu Jenny, apa dia anak mu? Aku harus kasih tahu Alzeta," gumamnya, tapi Fransiska mengurungkan niatnya karena masih banyak ibu hamil dan pasien lainnya yang menunggu.


Selama menunggu Axel menebus obat, Melinda duduk di kursi ruang tunggu dia menatap Axel yang berbicara pada petugas apotek, tentang susu hamil yang bagus membuat Melinda tersenyum menggelengkan kepala.


Tak membutuhkan waktu lama, Axel sudah selesai dan mengajak Melinda pulang. Dengan setia dan posesif Axel memeluk pinggang Melinda, walau dia membawa tas tak membuatnya kesulitan.


"Apa ada yang ingin kamu beli?" tanya Axel.


"Gak ada sayang, nanti aku bilang sama kamu. Kalo aku mau sesuatu," tutur Melinda.


"Baiklah, usahakan untuk bilang sama aku oke! Aku gak mau anak aku ileran," omel Axel.


"Ya engga lah, kamu ada-ada saja sih." Kekeh Melinda.


Axel meninggalkan halaman rumah sakit, setengah perjalanan. Melinda tak sengaja melihat Dika, Anyelir, Aaron dan Ameera sedang tertawa bahagia memasuk rumah makan yang dia tahu itu adalah kesukaan Ameera.

__ADS_1


"Daddy," lirih Melinda, Axel pun melirik sekilas dan menyentuh lengan sang istri dengan lembut.


"Kamu punya aku sayang, jangan sedih. Masih ada mommy dan daddy ku," katanya mengusap puncuk kepala Melinda.


"Ya." Jawab Melinda singkat, menahan tangis.


Berpuluh menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Johnson, Axel hanya ingin Melinda ada yang menemani. Axel pun menyampaikan berita bahagia, tentang kehamilan Melinda pada seluruh anggota keluarga yang kebetulan sedang berkumpul membahas pertunangan Elena.


"Melinda hamil, mom. Dad, dan aku akan menjadi ayah dari anak kembar," celetuk Axel, membuat semua orang mengucap syukur dan bahagia.


"Kita harus mengadakan syukuran kecil-kecilan ini, mengundang seluruh keluarga makan-makan di sini." Usul Velia dengan semangat.


"Tidak usah mom, nanti saja." Tolak Melinda.


Membuat Velia menatapnya dengan heran.


"Kenapa sayang?" tanya Velia.


"Tidak apa-apa mommy," jawabnya, Velia pun tidak ingin memaksa.


"Ya sudah tidak apa-apa, kamu istirahat saja. Biar enakan," ucap Velia, di jawab anggukan oleh Melinda.


Velia menatap menantunya dengan tatapan sedih, dia tahu permasalahannya dengan Dika. Tapi Velia rasa ini keterlaluan, sampai mengacuhkan anak sendiri.


"Apa kita harus menemui tuan Dika sayang?" tanya Velia, menatap Ello.


***


Di tempat lain, Ameera begitu bahagia karena seluruh anggota keluarganya mau menemani dirinya makan siang kembali.


"Terima kasih ibu, Aaron," ucap Ameera.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Aaron sedikit malas.


"Udah luangin waktu buat makan siang sama aku," kata Ameera.


"Ya," jawab Aaron malas, dia malah merindukan Melinda yang ingin di hubungi. Tapi Dika melarang Aaron, untuk menghubungi Melinda bahkan Dika sampai mengancam.


Apa sefatal itu kesalahan Melinda, pada Dika. Aaron tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi saat Melinda dan Dika berbicara berdua.


.


.


.


.

__ADS_1


Tiga hari berlalu, Melinda kembali masuk kerja. Dan di sambut hangat oleh Miska, dan di peluk erat.


"Gue kangen Melinda, seminggu gak ada lo hati gue hampa." Kata Miska mendramatisir.


"Lebay, aku kan gak enak badan. Lagian gak seminggu deh," ucapnya menyipitkan mata, menatap Miska yang tertawa.


"Sudah lupakan, gue lupa berapa lama lo gak masuk. Gue sibuk sama semua pekerjaan karena lo gak masuk, dan lo harus tahu kalo hari ini bakal ada rapat penting seluruh jajaran." Beritahu Miska.


"Oke, jam berapa?"


"Bentar lagi, cepat siap-siap."


Rapat kali ini akan membahas tentang wakil CEO, yang akan menggantikan sekaligus memberhentikan Melinda. Dan Melinda tak tahu menahu semuanya, dia duduk dan mendengarkan semua penjelasan asisten dari Dika. Karena Aaron sudah mampu, walau Aaron belum lulus sekolah menengah atas, entah apa yang ada dalam pikiran Dika tapi Melinda dan semuanya tak bisa protes.


"Dengan ini, kami memberhentikan nona Melinda dari perusahaan Wiriadinata." Umum asisten Dika, yang bernama Andi.


Melinda menatap Dika, yang membuang muka. Melinda pun mengangguk dan tanpa kata keluar dari ruang rapat, sedangkan Aaron menatap sang kakak yang menatap kecewa pada ayah mereka.


Rapat selesai dan mereka semua membubarkan diri, Aaron berniat menemui Melinda yang sedang membereskan semua barang-barangnya di bantu Miska.


"Mel," lirih Miska.


"Aku gak papa Mis, aku baik-baik saja. Aku masih punya perusahaan Sanova untuk bekerja, tapi aku gak akan bekerja karena ada nyawa lain yang harus aku jaga." Ucap Melinda, mengusap perutnya.


"Kamu hamil Mel?" pekik Miska, Melinda mengangguk sebagai jawaban dan Miska menghambur memeluk dirinya.


"Selamat ya, gue seneng dengernya. Semoga lo dan calon baby lo sehat selalu," doa Miska untuk Melinda.


"Makasih."


Aaron mendengarkan semua pembicaraan Melinda, dia pun bahagia Melinda hamil.


"Selamat ka Melinda," lirih Aaron hanya menatap dari kejauhan.


Axel menjemput Melinda saat jam makan siang, dia tersenyum menatap sang istri yang membawa semua barangnya di bantu Miska.


"Terima kasih Mis, aku langsung pulang yah! Harus semangat walau tanpa aku," kata Melinda, membuat Miska menahan tangis.


Mobil Axel meninggalkan pelataran perusahaan, Miska menatap mobil itu dan melambai dia akan merindukan Melinda.


Di dalam mobil, raut wajahnya masih sedih. Membuat Axel khawatir, karena Melinda sedang hamil dan dia tak mau Melinda banyak pikiran.


"Bisa antar aku ke rumah Grany? Aku berharap Grany, masih mau menemui ku." Lirih Melinda, Axel pun akan mengikuti kemauan Melinda agar tak merasa sedih.


****


Semoga suka, maaf typo

__ADS_1


__ADS_2