
Satu minggu berlalu, Arjuna sudah kembali ke Jakarta. Namun dia tak menemui siapa pun saat dia tiba di rumahnya, rumahnya dalam keadaan gelap dan hening.
"Sayang, aku pulang. Reen?" panggil Arjuna.
Dia menghidupkan lampu, dan rumah rapih seperti tak berpenghuni. Dia memutuskan untuk naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Lagi-lagi keheningan yang ada saat dia sampai di kamarnya, namun Arjuna masih berpikir jika Reen berada di rumah Zea.
Dia meletakan baju-baju kotor ke dalam keranjang baju kotor, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepuluh menit waktu yang dia butuhkan untuk membersihkan diri, lalu dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya.
Membuka ponsel dan menatap chat room bersama dengan Reen, selama di Singapura. Sungguh Arjuna tak menghubungi Reen, dan Reen pun tak berusaha menghubungi dirinya. Pesan masuk dari Melati, yang mengucapkan terima kasih pada Arjuna. Membuat laki-laki itu tersenyum, Arjuna menaruh ponselnya tapi saat menaruh ponsel dia tak sengaja memegang kertas dari Reen untuk dirinya.
Untuk Arjuna
Arjuna mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di rumah ini. Dan mungkin kamu sudah pulang dari liburan mu dengan kekasih mu itu.
Arjuna maafkan aku, selama aku jadi istri mu aku belum bisa memberikan apa yang ibu mu mau. Bahkan mungkin aku menjadi istri yang buruk untuk mu, aku pun sama ingin memiliki anak secepatnya. Tapi jika Tuhan belum mengizinkan apa yang bisa aku lakukan?
Arjuna terima kasih, atas semua perhatian, cinta dan kasih sayang dari mu untuk ku. Walau aku tau mungkin itu hanya kepalsuan, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu Arjuna.
^^^Salam Eireen.^^^
Arjuna menyeka sudut matanya dan merasakan sesak di dada, dia mencoba menghubungi nomor Reen. Namun nomor tersebut, tak bisa di hubungi.
"Reen jangan seperti ini, kita bisa bicarakan dengan baik." Ujar Arjuna, masih berusaha menghubungi Reen. Bahkan dia sampai melihat-lihat media sosial, sang istri. Tak ada yang spesial hanya ada fotonya saat pernikahan mereka dulu, dan foto-foto Reen dengan si kembar anak dari Auriga dan Dela dan adiknya Manda.
Dia pun ingin menanyakan dimana Reen pada ibu mertuanya Zea, tapi dia takut jika Zea tak tahu dimana anaknya dan kemungkinan akan marah besar jika Zea tahu yang sebenarnya.
"Reen kembali aku mohon, maafkan aku." Lirih Arjuna.
Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah Auriga dan Dela, Reen menatap kosong ke luar. Selama satu minggu ini, dia ada di rumah sang paman beruntung Auriga mengizinkannya. Karena Arjuna tak tahu, rumah milik pamannya tersebut mereka pun sudah tahu permasalahan antara Reen dan Arjuna.
"Reen?" panggil Dela.
Dela membuka pintu, dan menatap Reen yang masih duduk di balkon kamar tamu.
"Kamu belum makan, ayok makan dulu." Ajak Dela, walau mereka beda satu tahun Reen tetap memanggil Dela tante. Awalnya Dela tak mempermasalahkan Reen, memanggil Dela tapi Zea melarangnya.
"Nanti saja, aku belum lapar." Sahut Reen dengan malas.
Dela ikut duduk di sisi Reen.
__ADS_1
"Katanya mau bangkit, dari cowok yang kaya Arjuna. Tapi buat makan aja susah," cibir Dela, Reen menatap Dela dengan cemberut.
"Ingat Reen untuk menghajar pelakor itu, perlu tenaga," kekeh Dela, membuat Reen memutar bola mata malas.
"Tapi aku beneran gak lapar loh tan," Reen dengan setia menolak makan.
"Reen, kamu harus bangkit dan buktikan pada Arjuna dan si ulet bulu itu. Kalau kamu kuat dan tidak mudah rapuh, kamu bisa tanpa Arjuna dan bisa mencari laki-laki yang lebih tampan atau baik. Contohnya Marcel gitu," cetus Dela.
"Idih... Apaan sih, kok bawa-bawa Marcel." Omel Reen.
"Ya siapa lagi, memang kamu mau sama uncle Dika? Nanti kamu jadi tante ku dong." Tawa Dela pecah, dia mendorong tubuh Reen sampai maju ke depan beruntung dia tak sampai jatuh.
"Ini emak-emak, rese banget. Mana kekuatannya gede pula," gerutu Reen, dan terdengar oleh Dela. Sontak Dela mencubit pelan lengan Reen, dan tak lama Dela mendengar teriakan pangeran kecilnta.
"Bunda... Bunda," pekik Rakai dan Ceilo, kedua anak kembar itu sudah duduk dengan manis di kursi makannya sendiri.
"Iya sayang sebentar, bunda lagi bujuk ka Reen dulu." Kata Dela.
"Ayok lah, itu anak-anak udah nunggu. Bentar lagi juga Ara pulang,"
Dengan terpaksa Reen pun mengikuti Dela, menuju meja makan. Dan benar saja saat turun, Reen mendapatkan tatapan tajam dari bocah ganteng tersebut.
"Maaf yah sayang," ringis Reen.
***
Satu minggu untuk Melinda, yang berada di rumah Mario.
"Grany, kapan daddy pulang? Aku bosan," rengek Melinda.
"Nanti sore daddy kamu pulang sayang," jawab Laura.
"Lama sekali," keluh Melinda.
"Opah saja ada di rumah, kenapa opah tak bekerja?" tanya Melinda, melihat Mario yang sudah duduk di dekat Laura.
"Karena opah hanya sesekali pergi ke kantor," sahut Mario, menatap cucunya yang cemberut.
"Hah... Opa curang, kenapa bukan opa aja yang pelgi kelja. Aku mau sama daddy opa," rengek Melinda dengan napas yang cepat, karena berbicara.
__ADS_1
Mario pun menggaruk rambutnya yang tak gatal, dan berusaha untuk menenangkan Melinda.
"Melin sayang, gimana kalau kita ke rumah Ameera?" ajak Mario, dia tahu kalau Anyelir dekat dengan rumah Sekar istrinya Jimi. Dan mendengar nama Ameera tangis Melinda pun berhenti, dan langsung menatap Mario.
"Benal opah?" tanya Melinda.
"Iya sayang."
"Hore." Seru Melinda melompat-lompat, membuat Laura khawatir karena Melinda berdiri di atas sofa.
"Melinda jangan loncat-loncat, nanti jatuh." Tegur Laura.
"Maaf Grany," ucap Melinda
"Sekarang kamu bersiap. Oke," ujar Mario, Melinda pun mengangguk.
"Grany ayok cepat, tolong bantu aku bersiap." Pinta Melinda, Laura mengangguk sebagai jawaban. Dan mengajak Melinda ke kamar Dika, Melinda masih tidur bersama Dika karena kebiasaan mereka saat di Singapura dulu.
Lima menit kemudian, Melinda sudah siap rambutnya yang biasa di gerai. Kini dia menguncirnyaa agar rapih. Dan tak lupa dia memakai baju hangat, jika nanti mereka pulang malam.
"Cantiknya cucu opah," puji Mario, membuat Melinda tersipu malu.
"Terima kasih opah."
Melinda dan Mario menunggu Laura, yang mengganti bajunya.
"Grany ayok cepat," ajak Melinda tak sabar.
"Iya sayang ayok."
Laura mengikuti langkah Melinda dan Mario, seperti biasa Melinda paling suka berdiri di depan. Dengan alasan agar bisa melihat jalan yang di lalui, Melinda cukup pintar untuk anak seusianya. Dia mampu menghapal jalan yang sudah dia lalui, bahkan di Singapura juga dia mengingat jalan menuju apartemennya.
Mobil Mario yang biasanya sepi, kini terdengar celotehan Melinda. Dan sesekali Mario dan Laura menimpali ocehan Melinda, anak ini tak ada lelahnya tenaganya power full.
"Opah boleh aku menginap di rumah Ameera?" tanya Melinda.
"Kamu harus izin daddy dulu Melinda," sahut Laura.
"Oh... Begitu, baiklah nanti kalau sudah sampai. Aku mau minta izin sama daddy," ucap Melinda antusias, membuat Mario dan Laura saling pandang.
__ADS_1
Sungguh dia tak sabar untuk segera sampai dan menginap di rumah Ameera. Dan menghabiskan sepanjang malam dengan bermain, di baca kan buku dongeng oleh Anyelir yang tak pernah di lakukan oleh Dika.
****