
Lima bulan berlalu, kini usia kehamilan Dela menginjak tujuh bulan. Sedangkan Jenny enam bulan, dan sudah melakukan syukuran.
Kondisi Jenny pun sempat turun naik, dan selalu berhasil meyakinkan Dika. Jika dia baik-baik saja. Alzeta sendiri terus menyuruh Jenny memberitahu Dika. Tapi Jenny selalu menolak, setiap Dika pergi ke kantor Jenny selalu kontrol ke dokter spesialis dalam dan spesialis kandungan.
Namun saat melakukan USG, Jenny selalu meminta dokter kandungannya merahasiakan itu semua.
"Aku gak mau dia sedih, dan aku menjadi beban." Kata Jenny, pada Fransiska dokter kandungan Jenny. Kakak kelas saat SMP dan menjadi teman saat itu.
"Kamu bukan beban Jen, kamu istrinya dan dia berhak tau." Papar Siska nama panggilannya.
"Engga, dua hari lagi. Dia bakal temani aku cek anak kita. Katanya mau tahu jenis kelaminnya," beritahu Jenny.
"Ya, dan seperti biasa aku akan tutup mulut," ujar Siska menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaik ku." Jenny memeluk Siska.
"Ya... Ya," kekeh Siska.
Dokter Fransiska juga menjadi dokter kandungan Dela, terkadang Jenny dan Dela selalu berbelanja bersama. Kini mereka menjadi teman baik, Dela tak mau memanggil Jenny tante. Rasanya aneh katanya saat itu, membuat Jenny tertawa dan tak mempermasalahkan itu semua.
"Salam buat Zeta, dan segeralah menikah biar aku bisa melihat kalian di pelaminan." Goda Jenny, yang langsung mendapatkan cubitan di lengannya. Tapi Jenny malah tertawa.
"Kok ketawa? Lagian aku dan Zeta itu cuma teman, ingat teman." Siska Sengaja menekan kata 'teman', agar Jenny tak salah paham.
"Halah... Lebih dari teman pun tak apa,"
"Jenny," rengek Siska.
"Oke... Oke, aku pulang dulu. Bye," pamit Jenny, karena taxi yang dia pesan sudah menunggu.
***
Anyelir sendiri usaha yang di jalan kan sudah mulai sukses, dia pun membuka satu buah cafe. Di sekitar kota Bandung, yang tak jauh dari alun-alun karena dekat dengan tempat jalan-jalan. Cafe Anyelir selalu di datangi oleh anak muda, terkadang di pakai untuk pertemuan para pengusaha di lantai dua yang bersifat outdoor.
Anyelir sendiri memberi nama cafenya, the star cafe. Ide dari Axel, dan Axel selalu membantu Anyelir. Dalam membuka cafe tersebut, dan perasaan Axel pun masih sama. Walau mendapatkan penolakan dari Anyelir.
Anyelir pun menyewa rumah di sekitaran cafe, dan mengajak serta Sekar, Adam dan Lilya.
"Anyelir," panggil Sekar, kini Sekar pun tahu bahwa Cinta. Bukanlah nama asli, dan Anyelir memberitahukan kenapa dia mengganti nama. Tapi Adam dan Lilya, lebih suka memanggil Cinta dari pada Anyelir.
"Ya mbak?"
"Kapan kita ke Pangalengan? Sudah terlalu lama kita di sini,"
"Nanti saja mbak, cafe di sini sangat ramai. Apalagi akhir pekan," balas Anyelir, yang kembali sibuk dengan spatula dan adonan kue. Karena ada pesanan untuk ulang tahun.
__ADS_1
Membuat Sekar menghela napas dengan pelan, Anyelir terlalu menyibukan diri dengan bekerja sampai dia melupakan kebahagiaan dirinya sendiri.
"Ada baiknya, kamu menerima Axel. Nye, dia baik dan tanggung jawab." Ujar Sekar.
"Aku tidak bisa mbak, di saat aku masih menyimpan laki-laki lain di hati ku. Mana mungkin aku membuka hati untuk yang baru," papar Anyelir.
"Sampai kapan? Sampai kapan kamu, mengharap Dika? Ingat Nye, dia sudah menjadi suami orang. Bahkan mungkin dia sudah bahagia, yang mbak dengar Jenny pun sudah hamil." Jelas Sekar.
"Ya aku tahu," lirih Anyelir.
"Coba lah untuk membuka hati mu Nye," kata Sekar, dan meninggalkan Anyelir di dapur. Karyawan yang selalu membantu Anyelir memasak, hanya diam saja tak berkomentar.
Dan kembali sibuk dengan pekerjaannya, karena akan ada acara keluarga di cafe tersebut. Dan harus selesai sebelum pukul delapan malam.
***
Hari ini Auriga dan Dela beserta kedua anak mereka, akan menuju kota Bandung. Dimana Reen berkuliah, dan akan merayakan ulang tahun Reen di kota tersebut.
Zea sudah memesan cafe baru, yang memberikan diskon untuk pesta keluarga. Zea tak tahu, bahwa cafe tersebut milik Anyelir dan dia pun tak pernah tahu Anyelir. Karena hanya bertemu satu kali, Keanu dan Zea hanya bertemu dengan Sekar sebagai penanggung jawab.
Dela dan Auriga sudah sampai di apartemen milik Zea, mereka berkumpul di sana. Walau tak terlalu besar, tapi ruang tamu di apartemen milik keponakan Auriga tersebut lumayan luas.
Ara, Lula dan Manda tengah berkumpul di kamar Reen, mereka tengah membahas dress mana yang akan mereka pakai.
"Menurut ka Manda mana yang pantas untuk ku?" tanya Ara.
"Ka Lula bagaimana?" tanya Manda.
"Aku yang ini saja," tunjuk Lula, pada dress berwana biru awan.
"Aku mau minta bunda, buat nata rambut aku biar cantik." Sambungnya lagi.
Manda pun mengangguk, mereka pun lalu sibuk dengan kado yang akan di berikan kepada Reen.
Sementara di ruang tamu, para orang tua tengah berbincang. Tentang kehamilan Dela.
"Kata dokter jenis kelaminnya laki-laki, apa perempuan?" tanya Zea.
"Belum terlihat, mungkin babynya gak mau kasih tau." Kekeh Dela.
"Kamu beruntung bisa hamil anak kembar Dela, padahal aku mau banget." Imbuh Zea.
"Iya karena aku juga ada gen kembar kan, makanya jadi mudah." Timpal Dela.
Mereka pun kembali berbincang, sementara para lelaki hanya berbincang seputaran bisnis. Tanpa Auriga tahu, Riana menyusul ke Bandung. Dan menyewa hotel, yang tak jauh dari apartemen yang di tempati Auriga.
__ADS_1
"Harus dengan cara apa lagi, aku mendapatkan mu Riga. Sungguh aku masih mencintai mu," gumam Riana menatap ke arah luar.
Pemandangan kota Bandung memang sangat indah, dengan di kelilingi gunung. Pukul delapan malam, keluarga Reen pun sudah sampai di cafe milik Anyelir.
Seperti biasa Sekar menyambut kedatangan keluarga mereka, dan langsung di bawa ke lantai dua. Sesuai permintaan Reen, dengan tema outdoor.
"Maaf toiletnya sebelah mana?" tanya Jimi.
"Sebelah kiri tuan, dekat tangga menuju lantai satu." Balas Sekar.
Dela memincingkan mata, merasa kenal dengan wanita yang berbicara dengan ayah mertuanya.
"Kenapa?" bisik Auriga.
"Sepertinya aku kenal dia,"
Auriga pun menoleh, dan mengamati wanita yang mungkin berbeda lima tahun dari sang ayah Jimi. Mungkin lebih muda dia.
"Iya aku juga seperti pernah melihatnya," balas Auriga.
Tak lama Reen pun datang dengan kekasihnya, Arjuna. Mereka tampak cantik dan tampan, dengan pakaian yang serasi.
Reen menyapa semua orang, lalu mengucapkan selamat atas kehamilan Dela. Ternyata Reen juga kedatangan orang tua Juna, yang datang belakangan.
"Anak saya tak berbicara, kalau anda juga datang Tuan Sebastian." Ucap Keanu.
"Ya mereka ingin memberi kejutan," kata Tuan Sebastian.
"Mari duduk," ajak Jimi sebagai yang tertua.
Kue ulang tahun sudah tertata cantik di atas meja, lalu Tuan Sebastian menyampaikan niatnya pada Keanu. Untuk melamar Reen, menjadi menantu mereka.
"Saya jadi malu, harus berbesan dengan pengusaha seperti anda." Cetus Keanu.
"Anda bisa saja tuan Keanu, anda juga sukses di berbagai usaha kuliner. Bahkan usaha anda merambat di berbagai penjuru Indonesia," ujar Tuan Sebastian.
Lamaran untuk Reen pun di terima oleh keluarga Keanu, mereka memutuskan menikah sekitar tiga bulan lagi. Setelah acara menerima lamaran, dan potong kue. Saatnya sajian utama datang, satu persatu pelayan menyusun makanan di meja.
Anyelir yang ingin melihat tamunya tersebut pun urung, karena dia melihat Dela di antara tamunya.
"Astaga, kenapa aku selalu bertemu dengan Dela." Gumam Anyelir.
Dia pun turun kembali dan masuk menuju ruangannya, menyembunyikan diri. Jadilah Sekar yang berhadapan dengan Jimi, sebagai pemesan dan akan membayar semuanya.
Diam-diam Jimi melirik ke arah Sekar, walau sudah berumur tapi Jimi masih tampan. Karen rajin berolahraga dan menjaga pola makannya.
__ADS_1
tbc...
Semoga suka 🙏