Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.5


__ADS_3

Sementara Dela menonton film, Auriga mengajak sang anak untuk berbelanja kebutuhan Lula.


Lula pun menurut tapi dia sungguh bosan setelah beberapa menit berputar, Lula merasa berbelanja dengan sang ayah tidak menyenangkan, karena tidak bisa di tanya mana yang cocok untuk dirinya.


"Aku bosan ayah," keluh Lula.


"Kenapa?"


"Belanja sama ayah gak seru, lebih baik aku belanja sama tante Zea dan Manda." Ujar Lula.


"Tapi mereka kan sedang liburan juga sayang," kata Auriga.


"Ahh ayah." Keluh Lula.


Saat mereka asik berdebat Ara terlepas dari genggaman sang ayah, Ara makin menjauh dari tempat Auriga berada. Dia malah menuju ke arah toilet.


Pada saat Dela akan keluar dari toilet tiba-tiba, dia menubruk seseorang. Dela mencoba membantu bangun gadis kecil yang sedang menangis itu.


"Ya ampun nak, maaf aku gak sengaja." Ucap Dela, namun Ara masih menangis.


Dela memutuskan untuk ke bagian informasi, dan memberi tahu bahwa anak ini mungkin hilang. Setelah ke bagian informasi, Dela membawa gadis tersebut ke kedai ice cream.


"Makasih tante,"


"Sama-sama," Dela tersenyum menatap gadis kecil yang cantik di depannya.


"Siapa nama mu sayang?" tanya Dela.


"Ara," ucapnya pelan.


"Ara nama yang bagus," lagi-lagi Dela tersenyum manis menatap Ara.


****


Tanpa hadirnya Dela, Dika dan Maira melanjutkan menonton film horor. Dika sudah bersembunyi pada Maira, membuat Maira tertawa pelan.


"Mana tuh anak? Kenapa dia belum balik sih? Mai ayok kita cari Dela saja," pinta Dika.


"Tapi uncle filmnya belum selesai, sayang kalo di tinggal." Kata Maira.


"Astaga," keluh Dika.


"Uncle takut kan?" kekeh Maira.


"Diem kamu," omel Dika.


Satu jam kemudian film telah usai, dengan wajah Dika yang sudah pucat. Sepanjang film di putar Dika memejamkan mata, sementara Maira puas sekali mentertawakan Dika.


"Dasar yah! keponakan gak ada ahlak, awas aja gue gak akan nemenin kalian." Omel Dika.


Maira tak hentinya mentertawakan Dika, dia memotret wajah Dika yang pucat.


"Heh kurang ajar kamu Maira, awas ya!" ancam Dika.

__ADS_1


"Mana lagi tuh keponakan satu? Pake ngilang segala, katanya ke toilet? Kok gak balik lagi sih?" oceh Dika.


"Katanya dia lagi nungguin anak ilang, di kedai es krim. Yang tak jauh dari sini," ujar Maira.


"Ya sudah ayok kita susul," ajak Dika menarik Maira, yang pasrah saja.


Beberapa menit kemudian, Dika melihat Dela yang sedang berbicara dengan anak kecil yang Dika perkirakan berumur tiga atau empat tahun.


"Dela," panggil Dika.


"Uncle sini." Dela melambai pada Dika dan Maira.


"Siapa dia Del?" tanya Dika, menatap wajah cantik Ara.


"Anak orang lah, masa anak aku." Kesal Dela.


"Iya maksudnya anak siapa?"


"Gak tau, tadi aku gak sengaja nabrak dia di toilet." Kata Dela.


"Lalu gimana? Kita harus pulang loh Del! Kalo engga emak lo marah Del," ujar Dika.


"Bawa aja deh," celetuk Maira.


"Entar orang tuanya nyariin gimana?" tanya Dela.


"Ya udah gini aja, kita kebagian informasi. Terus lo kasih nomor ponsel lo sama orang di bagian informasi." Jelas Dika.


Dela pun melangkah ke bagian informasi, dan memberikan nomornya. Sementara Ara di bawa dia pulang, kini mereka pun sudah berada dalam mobil. Ara memeluk erat Dela dan tidur di pangkuannya.


"Kayanya dia nyaman banget deh!" ucap Maira.


"Cocok lo jadi ibu," cibir Dika.


"Udah jalan," omel Dela.


***


Sementara di mall Auriga terus mencari Ara kesana kemari, dan dia memutuskan untuk menemui bagian informasi. Karena terlalu fokus, jadi dia tak mendengar ada anak hilang, sementara Lula hanya santai pura-pura acuh.


Karena kebenciannya pada sang adik, yang menyebabkan ibu mereka meninggal. Auriga pun terlihat berbincang sebentar, dan mengucapkan terima kasih pada mas-mas bagian informasi.


"Ayok kita pulang," ajak Auriga pada Lula.


"Tapi ayah." Protes Lula.


"Lula adik mu hilang, kenapa kamu santai saja? Ayah tau kamu benci, tapi setidaknya kamu peduli padanya Lula." Ujar Auriga menatap tajam Lula.


Namun yang di tatap, malah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang sambil melipat tangan di dada. Auriga menghembuskan napasnya secara kasar dan menatap sang anak, yang keras kepala.


Auriga memutuskan untuk ke tempat Zea saja, dan besok akan menjemput Ara. Dia akan menyuruh Zea menelepon orang yang sudah membawa Ara pulang.


Sementara itu Dela, Dika dan Maira sudah sampai rumah, mereka sedang di interogasi oleh para orang tua. Karena pulang-pulang bawa anak.

__ADS_1


"Kenapa kalian gak tunggu sampai orang tuanya jemput sih?" protes Yumna.


"Dika tuh bun, dia ngajak pulang cepet." Kesal Dela.


"Sudah-sudah jangan saling tuduh, sekarang biarkan dia tidur di sini dulu. Sepertinya Ara anak yang baik," sela Mario.


"Ara kamu tidur sama ka Dela yah?" ujar Mario.


"Baik opah," jawabanya.


Dela dan Ara pun naik ke lantai dua, setelah mendapat baju ganti untuk Ara dari Maira. Sedangkan Dika di tatap tak suka oleh Yumna.


"Kenapa sih ka? Biasa aja kali," kesal Dika yang di tatap seperti itu.


"Kamu pasti gak bener jagain Dela sama Maira kan? Kenapa sampai bisa nemuin anak orang coba?" cerca Yumna.


"Astaga ka, aku sama Maira nonton film horor. Sedangkan anak mu itu, keluar ke toilet selama menonton Del gak balik lagi gara-gara nemuin anak orang." Jelas Dika.


"Tapi tante, ka Dela udah kasih nomornya supaya mudah orang tua Ara menghubungi kita." Terang Maira membela sang paman.


Yumna menghembuskan napasnya secara kasar, dia pun diam tak menanggapi ucapan Maira dan Dika.


"Aku ke kamar dulu deh," pamit Dika, di jawab anggukan semua orang.


Malam ini Dika berencana akan menjemput Anyelir dan makan malam bersamanya, ternyata makan malam di pinggir jalan lebih romantis ketimbang di resto atau cafe.


Dika pun bersiap dan memakai pakaian biasa saja, namun bisa menambah kadar ketampanan Dika. Tepat pukul tujuh malam, Dika pamit pada Laura yang sedang di dapur bersama kedua anak perempuannya.


"Aduh gantengnya anak bujang," puji Yusra.


"Iya lah, secara gen papi Mario gitu."


Yumna dan Yusra pun kompak memutar bola mata malas, mereka lanjut memasak untuk makan malam yang sebentar lagi siap.


"Bu, aku pamit dulu yah mau kencan sama calon mantu ibu." Bisik Dika.


"Iya udah sana, lain kali calon mantu ibu bawa ke sini. Kita makan malam bersama," perintah Laura.


"Siap ibu, aku pergi dulu bye." Dika mencium pipi Laura, dan menyuruh Laura bilang pada Mario.


Seperti biasa Dika saat tiba di cafe dia menunggu di dalam, dan Anyelir pun tersenyum menatap Dika. Sebentar lagi pekerjaannya sudah beres, tinggal mencuci semua bekas makan yang kotor.


Tepat pukul delapan, Anyelir sudah pulang dan sudah bersama Dika di warung pinggir jalan untuk makan malam.


"Kamu suka kan? Kalo gak suka, kita bisa ke resto."


"Gak usah mas, disini juga gak masalah." Tolak Anyelir, dia tak enak jika makan di restoran mahal karena selalu Dika yang membayar.


Tak butuh waktu lama dia porsi nasi goreng spesial sudah tersaji, Dika pun makan dengan lahap. Anyelir bilang ini langganannya setiap dia malas masak, Anyelir tidak bohong memang enak sekali makanannya.


Semoga suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2