Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.6


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu sejak Dela menemukan Ara, dan dia jatuh pada pesona duda. Yang tak lain tak bukan adalah ayah dari Ara sendiri Auriga, setelah drama panjang antara Yumna dan keluarga Auriga. Akhirnya Yumna luluh dan merestui hubungan Dela dan Auriga, dan karena dia kasihan pada Ara dan Lula yang memohon terus padanya.


hubungan Anyelir dan Dika pun berjalan dengan baik, untuk Laura dan Mario mereka menyukai Anyelir. Dan tak mempermasalahkan status Anyelir.


Kini mereka telah menyiapkan hari pernikahan Dela dan Auriga, di belakang rumah Yumna yang luas.


"Anyelir," panggil Dela.


"Ada mbak?"


"Lebih baik kamu temani aku ke salon Nye, mau gak?"


Ajakan ke salon dari Dela sebenarnya atas perintah dari Dika, dia ingin Anyelir tampil cantik saat hari bahagia Dela.


"Tapi mbak, aku kan masih banyak kerjaan disini." Tolak Anyelir.


"Gak papa Nye, disini banyak pekerja."


"Aku gak enak sama bunda mu," Anyelir berusaha terus menolak, namun Dela tak pernah menyerah.


Dela pun menghampiri Yumna, dan berbisik membuat Yumna menatap ke arahnya dan tersenyum. Anyelir bisa lihat, saat Yumna menyerahkan kartu kreditnya pada Dela.


"Makasih bunda," bisik Dela, mencium Yumna.


"Sama-sama, belikan adik mu gaun sayang." Ujar Yumna.


"Siap bun, aku berangkat dulu." Pamit Dela.


Dela pun melangkah menuju Anyelir, dia pun menarik Anyelir. Dela dan Anyelir berangkat bersama supir keluarga Mario, berpuluh menit kemudian mereka sudah sampai di salah satu mall. Yang tak jauh dari kediaman Yumna.


"Kita beli baju dulu," usul Dela.


Dela masuk ke salah satu butik ternama, dan dia mulai memilih dress yang cocok untuk Anyelir. Dela memasangkan di tubuh Anyelir dan memberikan dua dress berwarna hitam tanpa lengan, dan berwarna merah dengan berbentuk sabrina.


"Sana coba," titah Dela.


"Tapi mbak saya..."


"Udah sana."


Dela mendorong Anyelir masuk ke ruang ganti.


"Nye nanti keluar dulu yah! Aku mau lihat," teriak Anyelir.


"Iya." Balasnya.


Anyelir keluar dengan dress pertama.


"Mbak? Aku risih banget ini. Keliatan belahan dadanya," bisik Anyelir malu-malu.

__ADS_1


Membuat Dela tertawa, sebelum menyuruh Anyelir ganti baju. Dela menyuruh Anyelir berpose sebentar.


"Sudah coba lagi yang merah tadi," perintah Dela, Anyelir pun masuk kembali ke ruang ganti.


"Hah... Ribet sekali orang kaya, kalo di kampung cukup sederhana aja ke acara nikahan." Gumam Anyelir membuka bajunya kembali, dia pun mencoba memakai pakaian kedua dimana baju tersebut bermodel Sabrina dengan bunga di bagian roknya. Namun belahan yang tinggi membuatnya kurang percaya diri.


Dia melihat Dela yang tersenyum menatap Anyelir.


"Nah ini bagus, gak terlalu ke buka di bagian dada."


"Iya sih! Tapi ini belahan kakinya tinggi banget mbak." Keluh Anyelir.


"Gak papa kali Nye ahh, udah ambil aja yang itu oke."


"Baik mbak," pasrah Anyelir.


Dela pun menuju kasir dan membayarnya, saat di lihat harga baju tersebut mata Anyelir melotot, harga yang fantastis untuk satu dress saja.


"Mbak itu mahal banget," bisik Anyelir.


"Gak papa Nye, kamu dapet uang dari pacar bucin kamu." Kekeh Dela.


"Ayo kita cari high heelsnya." Ajak Dela.


Selama hampir dua jam, Dela dan Anyelir berbelanja kebutuhan Anyelir untuk pernikahannya nanti. Atas perintah Dika.


"Kita makan dulu aku lapar," ujar Dela, Anyelir pun mengangguk saja.


Saat sampai di halaman rumah Dela, Dika sudah tersenyum menyambut Anyelir.


"Mas Dika," sapa Anyelir.


"Gimana? Udah belanjanya?" tanya Dika.


"Udah dong uncle, sesuai permintaan." Sahut Dela dari belakang Anyelir, dia kerepotan membawa barang belanjaannya sendiri.


"Nanti ganti semua uang bunda yah," lanjutnya lagi.


"Tenang aja jangan khawatir," ujar Dika.


"Aku kedalam dulu," pamit Dela.


Di jawab anggukan Anyelir dan Dika, Anyelir pun di minta di antar pulang. Namun Dika meminta Anyelir menginap di rumah sang kakak, agar besok dia bisa di dandani sekalian. Anyelir pun lagi-lagi menurut, kasih sayang Dika membuatnya nyaman. Namun dia takut perbedaan kasta membuatnya, harus merelakan Dika dengan perempuan yang sepadan dengan Dika.


****


Acara pernikahan Dela dan Auriga pun di mulai, acara tersebut hanya di hadiri oleh keluarga mempelai pengantin, sahabat dan rekan bisnis.


Anyelir yang menyaksikan itu merasa terharu, apalagi Ara dan Lula langsung memeluk Dela dengan erat.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian acara sudah selesai, dan Anyelir memilih pulang di antar oleh Dika.


"Kamu mau pernikahan seperti apa?" tanya Dika, dia melajukan mobilnya dengan pelan.


"Apa yah? Aku gak kepikiran ke situ sih mas, soalnya yang aku pikirin hanya ya cari uang," kekeh Anyelir


Dika menatap Anyelir yang juga menatapnya, namun Anyelir buru-buru memutus kontak mata mereka. Anyelir malu ketauan, memandang wajah Dika yang rupawan.


Beberapa menit kemudian, mobil Dika sudah sampai di depan gang menuju kontrakan Anyelir.


"Maaf aku gak bisa antar Nye,"


"Gak papa mas, hat-hati di jalan yah?"


"Iya." Balas Dika.


Setelah mobil Dika menjauh, Anyelir langsung berjalan ke dalam gang. Walau belum terlalu malam, gang di depan kontrakannya sudah sepi, karena banyaknya pekerja jadi mereka jarang kumpul.


Saat Anyelir akan masuk rumah, tiba-tiba dia di datangi dua orang bertubuh kekar menghadangnya masuk.


"Nona kami ingin bicara!" ucapnya datar.


"Nona? Siapa?" tanya Anyelir bingung.


Dia pun melihat wanita cantik turun dari mobil dengan angkuh, penampilannya yang elegan, wah dan cantik sempurna membuat Anyelir insecur


"Kamu yang namanya Anyelir?" tanyanya dengan menatap Anyelir dari atas ke bawah, seolah sedang menilai dan mengejek secara bersamaan.


"Cih selera Dika, memang murahan." Cibirnya.


Anyelir hanya diam dia tak menjawab, dia tahu dia memang tak pantas untuk Dika.


"Peringatan pertama, jauhi Dika. Atau kamu akan tahu akibatnya jangan pernah main-main dengan ku," tekannya


Dia adalah Jenny Sannova putri dari Alderik Sanova dan Ayunda Sanova. Pemilik perusahaan Sanova Production House yang bergerak di bidang perfilman, seni dan iklan. Jenny sendiri dia sebagai bintang di Sanova production tersebut.


Setelah mengancam, Jenny dan kedua bodyguardnya keluar dari kontrakan Anyelir. Sementara Anyelir dia terduduk di lantai, dan menangisi nasib hidupnya yang tak mulus.


Pertama saat kecil di tinggalkan oleh ayahnya, kedua dia di tinggal pergi oleh sang ibu. Dan yang terakhir dia di ancam menjauhi Dika, sebenarnya siapa dia? Anyelir bertanya-tanya apa hubungannya dengan Dika?


"Aku harus pergi dari hidup Dika," putus Anyelir, walau sakit dia akan melakukan ini semua.


Dengan berbekal tabungannya selama bekerja, dia akan membuka usahanya sendiri walau kecil.


"Kamu pasti bisa Anye."


Malam itu Anyelir pun memutuskan untuk pergi dari kota Jakarta, yang penuh kenangan. Terutama kenangannya dengan Dika, kekasih pertama yang dia miliki.


Semoga suka 💞

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2