
Ameera menatap tajam seseorang yang dia benci saat ini, siapa lagi kalau bukan Melinda. Awalnya Melinda ingin pulang ke rumah sang nenek Laura, namun Anyelir menahannya karena rindu dengan sang anak.
Dan disinilah dia sedang bersantai sore di gazebo, tempat favoritnya. Namun semuanya berantakan saat melihat kedatangan Ameera, yang menatapnya dengan tajam seolah akan menelannya bulat-bulat.
"Ngapain lo di sini?" tanya Ameera dengan ketus.
"Kamu lupa atau pura-pura lupa, ini rumah daddy ku juga. Bukan rumah mu," cibir Melinda, dia pun tak ingin berbaik hati pada Ameera saat ini. Dia akan menunjukan bagaimana, Melinda bersikap pada orang licik macam Ameera.
Sudah cukup selama ini dia mengalah, dan bersabar. Melinda mendengar Ameera berdecak kesal, lalu dia menghampiri Melinda yang sedang mengerjakan sesuatu.
"Gue penasaran, siapa laki-laki yang mau sama anak dari pelakor kaya lo." Sindir Ameera.
"Pelakor? Gue bukan anak pelakor," sahut Melinda.
"Lalu jika bukan pelakor apa? Atau perlu gue ingatkan lagi, jika Jenny sudah membuat ibu gue dan daddy Dika terpisah." Marah Ameera.
"Jenny jahat, dia wanita jahat." Tekan Ameera.
Plak!
"Jaga mulut kamu Ameera, mommy ku bukan wanita seperti itu." Teriak Melinda, membuat Anyelir yang berada di dapur keluar dan melihat Melinda dan Ameera tengah bertengkar.
"Melinda, Ameera. Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Anyelir.
"Tanya saja pada anak ibu," ujar Melinda, dia sudah kesal pada Ameera lalu meninggalkan Anyelir dan Ameera.
Namun perkataan Ameera, membuat langkah Melinda terhenti.
"Ayok ibu katakan padanya, kalau ibu juga benci pada Jenny ibu dari Melinda. Dia sudah memisahkan ibu dan daddy Dika kan?" celetuk Ameera.
"Ameera apaan kamu ini," bentak Anyelir.
Melinda menatap benci Ameera, kenapa dia selalu membawa mommy-nya. Yang sudah tiada?
__ADS_1
"Ayo ibu katakan, aku tahu. Sebenarnya ibu tidak suka melihat Melinda di sini kan? Apalagi wajah Melinda begitu mirip dengan Jenny," cetus Ameera.
"Ameera cukup, kamu keterlaluan." Marah Anyelir.
"Melinda tidak seperti itu nak, ibu tidak membenci mu." Lirih Anyelir, yang menatap Melinda terdiam dengan wajah dinginnya.
"Maaf kan mommy ku, bu." Ucap Melinda, lalu berlari meninggalkan halaman belakang. Dia masuk ke kamar, lalu kembali lagi ke luar setelah membawa tas dan juga kunci mobilnya.
"Ka Mel, mau ke mana?" tanya Aaron, saat berpapasan di ruang keluarga.
Namun Melinda tak menanggapi pertanyaan Aaron, di terus berlari dan pergi dari rumah Dika. Rumah yang seharunya miliknya, tapi Dika memberikannya untuk Anyelir. Melinda pun tak mempermasalahkan itu semua, dia masih memiliki aset lain.
Sementara itu di taman belakang, Anyelir menatap Ameera dengan tajam. Dia tak menyangka sang anak, akan berbicara seperti itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Ameera?" marah Anyelir.
"Karena aku tidak suka dia ibu, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Kasih sayang, cinta dan popularitas dia punya semua yang aku inginkan." Pekik Ameera.
"Aku berusaha mengembalikan apa yang harusnya menjadi hak ibu, dan hampir berhasil. Ibu menikah dengan daddy Dika, mendapatkan cintanya, lalu rumah yang harusnya untuk Jenny jadi milik ibu. Dan satu lagi, mungkin kematian Jenny menjadi hukuman untuknya atas perbuatannya menjauhkan ibu dari daddy Dika," cetus Ameera.
"Ameera ma-maafkan ibu nak," lirih Anyelir, mengusap pipi sang anak.
"Bahkan karena dia ibu menampar ku, aku anak mu ibu. Bukan dia," tegas Ameera, lalu pergi meninggalkan Anyelir sendiri.
Aaron datang saat Ameera masuk ke dalam rumah, dia melirik sekilas. Namun dia melihat ibunya, tengah menangis tersedu-sedu.
"Ibu? Ibu kenapa?" tanya Aaron.
Anyelir memeluk anak lelakinya, dan Aaron pun tak menanyakan apa pun lagi.
Sementara itu Melinda melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia menepikan mobilnya di tempat yang lumayan jauh dari rumahnya.
"Mommy, kenapa menyelamatkan aku?" isak Melinda.
__ADS_1
"Gak ada yang sayang aku mommy, daddy pun tak peduli pada ku. Maafkan aku, karena aku mommy jadi pergi."
Melinda memilih menumpahkan kesedihannya, dia memutuskan untuk pergi ke apartemennya. Di sana dia akan tenang, ponsel pun dia matikan.
****
Dika yang baru sampai rumah, merasa heran karena rumah dalam keadaan sepi. Beberapa jam yang lalu, Anyelir mengatakan bahwa Melinda sudah pulang dan akan menginap di sini.
"Kemana orang-orang?" gumamnya.
Dia memutuskan untuk melangkah ke kamarnya, saat membuka pintu dia mendapati Anyelir yang tengah menangis memeluk foto.
"Sayang," lirih Anyelir, dia beranjak dari duduknya lalu memeluk Dika dengan erat.
"Kenapa?" tanya Dika lembut, kemudian Anyelir menceritakan tentang Ameera dan Melinda.
"Maafkan Ameera mas, dia terlalu cemburu pada Melinda." Ujar Anyelir, setelah menyelesaikan ceritanya.
Dika memejamkan matanya, Melinda putrinya pasti sangat terluka. Semuanya bukan sepenuhnya salah Jenny, Dika pun ikut andil. Dia tahu dimana Anyelir, tapi membiarkan Anyelir berjuang sendiri. Bukan tak mau bertemu Anyelir, tapi saat itu setelah hari pertemuan dua keluarga. Dia sempat memimpikan wanita paruh baya, yang memintanya menjaga kedua anak perempuannya.
"Ini bukan salah Ameera, ini salah ku. Sudah jangan menangis, kita temui Melinda dan Ameer." Putus Dika, dia akan mendamaikan anak perempuannya.
Bagaimana pun Dika dan Anyelir, bersatu karena Melinda dan Ameera. Setelah Anyelir tenang, Dika memutuskan untuk menghubungi Melinda namun tak bisa. Ponselnya tak aktif, dia menghubungi Axel namun Axel pun sedang berada di rumah orang tuanya.
Melinda tak ada di rumah Laura, atau Alderik dan Tara.
"Di mana kamu nak?" gumam Dika.
"Gimana? Melinda bisa di hubungi?" tanya Anyelir, di jawab gelengan oleh Dika.
Anyelir terisak, dia menangis dalam pelukan Dika.
****
__ADS_1
Semoga suka, maaf typo 💜